I write words for a living. Sometimes they even make sense.

Rumah yang Hanya Hidup di Atas Kertas

Rizal Nurhadiansyah

4 min read

(Leningrad, 1969)

Jari-jari Arif menelusuri huruf-huruf ungu yang tercetak di atas telegram itu untuk kesekian kalinya.

KELUARGA. HABIS. JANGAN PULANG.

Tiga frasa, seperti tiga bilah pisau dingin yang ditancapkan perlahan. Selembar kertas tipis itu terasa lebih berat dari semua buku termodinamika yang menumpuk di mejanya, lebih padat dari keheningan kamarnya di sebuah kommunalka Leningrad. Udara di ruangan itu selalu berbau sama, aroma kubis rebus yang masam dan wol basah yang tak pernah benar-benar kering. Aroma itu menempel di tenggorokannya seperti sebuah kebohongan, karena satu-satunya aroma yang nyata baginya adalah wangi melati dari halaman belakang rumahnya di Jawa, ribuan kilometer dan satu pembantaian jauhnya.

Ia mencoba membaca lagi tentang entropi, tentang kecenderungan alam semesta menuju ketidakteraturan. Ironis. Hukum-hukum fisika yang pasti dan teratur terasa seperti ejekan ketika hidupnya sendiri telah hancur menjadi serpihan-serpihan acak. Tawa ibu yang renyah seperti rempeyek, suara serak ayah saat melantunkan ayat suci, perdebatan konyol dengan adik-adiknya, semua itu kini hanya hantu-hantu yang berkeliaran di sebuah kamar sempit di Leningrad, terperangkap di antara dinding yang menguarkan bau kesedihan orang lain.

Di tengah kehampaan itulah, Sergei Ivanovich muncul. Tetangga sebelah, seorang buruh pabrik dengan wajah yang dipahat oleh kerja keras dan musim dingin yang terlalu panjang. Pertemuan pertama mereka terjadi di atas pipa pemanas yang pecah. Tanpa banyak bicara, Sergei datang membawa kunci pas dan umpatan-umpatan khas Rusia. Matanya yang lelah sempat melirik potret keluarga Arif yang sudah usang di meja, lalu beralih kembali pada pekerjaannya.

Sejak saat itu, ketukan di pintunya menjadi sebuah ritme baru. Kadang Sergei membawa semangkuk borscht yang mengepul, panasnya menghangatkan tangan Arif sebelum menghangatkan perutnya. Ia tidak pernah bertanya tentang potret itu, tidak pernah menyinggung tentang kesedihan yang terpancar jelas di wajah pemuda asing ini. Ia hanya berbicara tentang pabrik, tentang betapa buruknya hasil panen kentang, tentang kenangan samar masa mudanya. Dengan caranya yang canggung dan irit kata, ia membangun sebuah jembatan kecil di atas jurang keterasingan Arif. Ia menjadi sosok ayah sementara yang tidak pernah Arif minta, seorang pria yang memahami bahasa kehilangan tanpa perlu mendengar ceritanya.

Lalu, sebuah surat dari Blora datang.

Amplopnya tipis, kertasnya beraroma aneh, campuran kapur barus dan kenanga kering yang langsung menerbangkannya pulang. Tulisan tangan itu milik Siti. Nama yang telah ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan buku-buku Rusia dan salju pertama yang turun.

Isi suratnya sederhana, penuh basa-basi tentang cuaca dan panen. Namun, setiap kalimat terasa seperti sentuhan hantu di kulitnya.

“Di sini sedang musim hujan, Mas. Tanah berbau begitu harum setelah kering berhari-hari.”

Arif memejamkan mata, dan untuk sesaat, bau kubis rebus itu lenyap, digantikan oleh aroma tanah basah. Surat itu adalah kehangatan, tetapi kehangatan yang membakar luka lama. Siti adalah masa lalu, cinta pertama yang terpaksa kandas di persimpangan jalan yang dibangun oleh permusuhan orang tua mereka, pagar tak kasat mata antara bendera hijau NU dan palu arit PKI. Pagar yang sama, yang kini telah menelan keluarganya. Surat itu adalah pengingat akan rumah yang hilang, sekaligus cinta yang tak pernah bisa dimiliki. Dunianya yang sudah retak, kini mulai bergetar hebat.

***

Surat-surat itu menjadi sebuah ritme yang menyakitkan. Satu setiap dua atau tiga bulan. Siti tidak pernah menyinggung tragedi yang menimpa keluarga Arif, juga tidak pernah membahas masa lalu mereka. Seolah-olah ada kesepakatan bisu di antara mereka untuk hanya berjalan di atas permukaan.

“Suara azan subuh dari langgar Pak Kiai sekarang terdengar lebih jelas, mungkin karena pohon randu di depan sudah ditebang.”

Arif membaca kalimat itu di kamarnya yang hening, di mana satu-satunya suara adalah derit pemanas dan batuk Sergei dari balik dinding. Ia mencoba mengingat suara azan itu, tetapi yang terdengar hanyalah siulan angin Baltik.

“Pasar desa ramai sekali sekarang. Ibu menjual pecel buatannya lagi.”

Arif membayangkannya, lalu rasa pedih menyergap dadanya. Ia tidak akan pernah lagi mencicipi pecel buatan ibunya sendiri. Surat-surat Siti adalah jendela ke sebuah dunia yang pernah menjadi miliknya, sebuah dunia yang kini hanya bisa ia kunjungi sebagai hantu. Setiap surat adalah dosis kecil kehangatan yang diikuti oleh racun nostalgia yang lebih besar.

Suatu malam bersalju, ia duduk bersama Sergei di dapur kecil pria itu. Sebotol vodka murahan berdiri di antara mereka.

“Kau terlihat lebih murung dari biasanya, Nak,” kata Sergei, menuangkan cairan bening itu ke dalam gelas kecil. “Surat lagi?”

Arif mengangguk, tidak sanggup bicara.

Sergei meneguk minumannya dalam sekali tegukan, wajahnya sedikit meringis. “Anakku, Dmitri… ia tewas di Stalingrad. Masih sembilan belas tahun. Aku hanya menerima surat pendek dari komandannya. Hanya itu. Selembar kertas untuk nyawa seorang anak.” Ia menatap ke luar jendela, ke arah salju yang turun tanpa suara. “Kehilangan adalah kehilangan, Nak. Entah oleh peluru Jerman atau oleh parang tetangga. Rasanya tetap sama. Sebuah lubang yang tak akan pernah terisi.”

Untuk pertama kalinya, Arif merasa ada yang benar-benar mengerti. Dua pria dari dua ujung dunia, dipersatukan oleh bahasa universal kesedihan. Malam itu, mereka tidak banyak bicara lagi, hanya duduk dalam keheningan yang nyaman, membiarkan salju dan vodka menjadi saksi bisu bagi luka mereka masing-masing.

Kemudian, surat terakhir tiba.

Amplopnya sama, aromanya sama. Tapi isinya berbeda. Setelah beberapa paragraf tentang musim kemarau yang panjang, di bagian akhir terselip satu kalimat sederhana, ditulis hampir seperti catatan kaki.

“Oh ya, Mas, bulan depan aku akan menikah dengan putra Pak Lurah. Doakan semoga lancar.”

Tidak ada perpisahan dramatis. Tidak ada permintaan maaf. Hanya sebuah fakta. Sebuah titik di akhir kalimat panjang penantiannya yang sia-sia. Arif menatap kalimat itu berulang-ulang. Udara di dalam paru-parunya seolah membeku. Jembatan terakhir yang menghubungkannya dengan rumah, jembatan tipis yang terbuat dari kertas surat dan kenangan, kini telah runtuh dan terbakar habis. Cintanya telah mati di atas selembar kertas, sama pastinya dengan keluarganya yang telah mati di atas tanah basah Jawa. Ia berdiri dan berjalan ke jendela, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca yang gelap—wajah seorang asing di negeri asing yang telah kehilangan segalanya.

***

Sungai Neva telah membeku menjadi hamparan es putih yang luas dan bisu. Angin bertiup tanpa ampun, menerbangkan butiran salju tajam yang menyengat pipi. Arif berdiri di tepiannya, surat terakhir tergenggam di tangannya yang bersarung tangan. Kertas itu terasa rapuh, seolah bisa hancur menjadi debu kapan saja.

Sergei berdiri di sampingnya, beberapa langkah di belakang, seperti bayangan pelindung. Ia tidak bertanya mengapa mereka ada di sana. Ia hanya ikut berdiri, meniupkan napas hangat ke tangannya yang kapalan. Keheningan di antara mereka lebih berat daripada lapisan es di atas sungai.

Setelah waktu yang terasa seperti selamanya, Sergei akhirnya angkat bicara, suaranya pelan agar tidak memecah keheningan yang sakral itu.

“Lihat,” katanya, menunjuk ke arah es. “Air di bawah sana tidak berhenti mengalir, Nak. Ia hanya tertutup oleh es. Tapi ia terus bergerak menuju laut. Begitu juga hidup.”

Arif menunduk, menatap surat di tangannya. Kata-kata Siti seolah membara dingin di telapak tangannya. Ia telah menunggu kabar, menunggu kepulangan, menunggu cinta yang mustahil. Menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.

Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara beku memenuhi paru-parunya, membersihkan sesuatu di dalam dirinya. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, menatap cakrawala Leningrad yang pucat dan tak berujung.

“Mungkin…,” suaranya serak dan hampir tak terdengar di antara desau angin.

“Mungkin aku harus berhenti menunggu… dan belajar berjalan.”

Ia tidak merobek surat itu. Ia tidak membuangnya ke sungai. Ia hanya melipatnya dengan hati-hati dan memasukkannya kembali ke dalam saku mantelnya.

Tidak ada teriakan. Tidak ada air mata yang jatuh. Hanya keheningan yang dalam dan luas. Tapi keheningan itu bukan lagi kekosongan. Ia adalah awal dari sesuatu yang lain, yang hening, dingin, tetapi entah bagaimana, hidup.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rizal Nurhadiansyah
Rizal Nurhadiansyah I write words for a living. Sometimes they even make sense.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email