Akhir-akhir ini media kembali dihebohkan dengan pernyataan Ferry Irwandi tentang “jurusan filsafat sudah tidak lagi relevan. Untuk mempelajari filsafat kita butuh spesialisasi keilmuan yang empirik,” begitu ucapnya. Memang di dunia modern, filsafat lebih banyak bergerak dalam isu-isu etik, moral, dan ilmu humaniora, tetapi membahaskan “matinya filsafat” tidaklah tepat.
Tentu, poin utama yang dipermasalahkan adalah pedagogi pembelajaran filsafat di perguruan tinggi negeri. Sebelumnya, saya sepakat bahwa filsafat memang perlu pembaharuan sesuai dengan konteks zaman. Namun, soal relevan tidak relevan, sebetulnya banyak keilmuan yang bernasib sama, salah satunya sastra. Ketika perkembangan teknologi semakin mudah, Akal Imitasi (AI) mampu untuk membuat puisi yang penuh makna, maka apa gunanya seorang penyair?
Persoalan kritik sastra menggunakan pemikiran barat yang cenderung memiliki perbedaan secara historis dan seringkali hanya menjadi penghias tanpa pembahasan yang komprehensif, apakah dalam hal ini perlu juga untuk dihapus? Atau naskah klasik penyair angkatan 45 sudah tak lagi relevan dengan zaman industri, apakah tidak bisa dikaji secara ilmiah?
Jika hanya merujuk pada kebenaran ‘ilmiah’, maka seharusnya terjadi pertentangan dalam disiplin ilmu kritik sastra itu sendiri. Karya sastra merupakan hasil imajiner, sementara pembacaan terhadap teks memerlukan kajian yang komprehensif secara ilmiah.
Memang, pengetahuan yang berlandaskan empirik sangat penting di era keterbukaan informasi, namun klaim kebenaran secara absolut itu akan mempersempit kemungkinan kebenaran “lain” akan ditemukan. Tan Malaka sendiri menulis secara gamblang dalam Madilog bahwa “sains tak boleh dijadikan sebagai kebenaran yang absolut“. Memang demikian, lantas apa bedanya antara sains dengan mistika jika memiliki kebenaran yang tak boleh dipertanyakan tanpa adanya kesalahan?
Fungsi filsafat kemudian akan mengoreksi soal apa yang disebut sebagai kebenaran absolut tadi. Jika klaim kebenaran hanya milik yang empirik, lantas misalnya bagaimana dengan local wisdom tentang sedekah laut yang dikonstruksi masyarakat adat untuk menjaga lingkungan? Tak serta merta pengetahuan hanya tentang yang “ilmiah”. Kepercayaan sejatinya juga bagian dari pengetahuan manusia.
Baca juga:
- Karya Ilmiah Memang Bukan untuk Semua Orang
- Psikologi Indigenous: Dana Riset, Bahasa Ilmiah, dan Permasalahan Lainnya
Lagi pula, filsafat tak sesederhana yang dibayangkan. Dalam filsafat sendiri ada cabang yang dinamakan epistemologi. Cabang epistemologi menekankan pada “kemungkinan benar” bukan menciptakan kebenaran absolut, karena memang sangat tak mungkin. Meski begitu, dari epistemologi inilah akan lahir metode yang akan menjadi landasan ilmu pengetahuan modern.
Dalam karyanya berjudul Discourse on Method, Rene Descartes menganjurkan kita untuk mempertanyakan kebenaran dari pengetahuan yang kita dapat selama ini. Manusia harus menghancurkan bangunan pengetahuan yang sudah disusunnya selama bertahun-tahun. Bangunan pengetahuan manusia, menurutnya, harus disusun seperti seorang arsitek membangun sebuah rumah. Fondasi dasarnya harus kokoh, maka ia akan bertahan dari segala bentuk gangguan seperti gempa bumi.
Epistemologi akan memainkan peran sebagai fondasi dasar yang kokoh itu. Sumber yang lebih modern seperti dalam buku Pengantar Filsafat Epistemologi karya Brian C. Barnett tentang apa yang disebutnya sebagai justifikasi epistemik.
Ferry menjustifikasi bahwa tak perlu menggunakan filsafat karena sudah ada pengetahuan yang bersifat “empiris”. Hal tersebut seketika berubah menjadi sebuah keyakinan. Aturan sederhana yang ditulis oleh Barnett, justifikasi epistemik hanya berlaku untuk alasan yang epistemik pula atau penjelasan tentang alasan mengapa filsafat menjadi tak begitu penting.
Sementara justifikiasi Ferry tentang mempelajari filsafat memerlukan dasar keilmuan empirik, merupakan bentuk fondasional keyakinan internal yang bersifat subjektif dari pengamatan. Bagaimana jika konsepnya diubah, filsafat sebagai bentuk fondasi untuk menelaah keilmuan modern. Fungsi otoritas pencarian kebenaran dalam filsafat seperti epistemologi menjadikan semata-mata filsafat tidak hanya untuk berpikir “gampang” dan terlihat “retoris”.
Menurut saya sendiri, justru pedagogi pembelajaran filsafat sangat diperlukan dalam konteks zaman postmodern. Klaim mengenai sikap taklid seseorang mengenai filsafat atau retorika indah saat debat, lebih banyak dijumpai justru bukan dalam diskursus yang epistemik melainkan dalam wacana kultural modern seperti di media sosial. Makna atau pemahaman seringkali didasarkan pada subjektivitas yang tak memiliki batas-batas pasti sehingga bukan saja kebenaran yang bias, tetapi kerangka epistemiknya juga ikut rapuh.
Filasafat dalam gegap-gempita industri
Ada hal yang mesti disepakati terhadap argumentasi Ferry, terutama mengenai masalah filsafat dalam dunia kerja. Memang betul, filsafat seringkali kurang aplikatif dalam beberapa hal seperti perhitungan matematis, keilmuan saintifik dan kerja-kerja industrial. Jika mencari output secara praktis, pekerjaan yang linear dengan jurusan filsafat paling memungkinkan menjadi penulis atau akademisi.
Sejak awal filsafat memang dirancang untuk tidak pragmatis, kalaupun ada itu pasti tentang moral dan etika, pun masih dalam perdebatan panjang. Filsafat hadir sebagai ruang refleksi tentang dunia. Jika dikaitkan dengan zaman industri, manusia mungkin gencar bekerja sementara filsafat akan memikirkan bagaimana industri bisa memengaruhi kehidupan manusia? Kenapa terjadi nature-capital terhadap masyarakat Timbulsloko di Demak?
Soal misalnya nilai lebih atau hak buruh dalam pemikiran Karl Marx pun sejatinya turut mengalami perkembangan, seperti misalnya ekofeminisme terhadap konteks ruang hidup masyarakat Jakarta. Misalnya, bagaimana masyarakat Betawi memaknai ruang hidup dalam wacana Jakarta sebagai kota global? Atau kenapa laju urbanisasi di Jakarta setiap tahun mengalami peningkatan? Apakah karena faktor utilitas atau kehendak manusia mencari peruntungan? Maka konteks ke-ruangan yang tak dibicarakan dalam statistika akan dikaji dalam disiplin ilmu-ilmu humaniora. Saya rasa ilmu filsafat berkontribusi jauh terhadap perkembangan antroplogi, lebih-lebih dalam cultural studies.
Ferry Irwandi, Sang Mesias?
Saya mengikuti Ferry Irwandi dari konten yang membahas kapitalisme, sekitar dua atau tiga tahun lalu. Saya terpukau dengan penyampaiannya, bagaimana mengolah narasi yang rumit, ruwet bahkan njlimet menjadi lebih mudah dipahami. Seiring berjalannya waktu, Ferry Irwandi mulai digemari bukan karena dia lulusan STAN, tetapi karena caranya menyampaikan cerita layaknya bulir air hujan yang menghidupkan tumbuhan mati.
Suatu waktu kontennya meledak karena mencoba menangkal santet, melawan mistika. Dia berhasil membuktikan kalau santet tak berdaya di depan legacy besar Madilog. Banyak orang terpukau dengan kejadian itu setelah dia membuktikan bahwa tak ada paku yang bersarang diperutnya.
Setelah berhasil mempermalukan seorang dukun, Ferry kemudian mengecam tindakan promosi judol oleh influencer. Dengan menghitung probabilitas keuntungan judi online ia berhasil, setidaknya membuat sebagian besar orang berpikir judol merupakan petaka yang merampas hak hidup.
Baca juga:
Tak sampai di situ, dia juga membantah konsep printing money Mardigu dengan model pendekatan ekonomi yang lebih rasional. Puncaknya, ketika dia turun ke jalan membersamai masyarakat sipil dan ikut andil dalam demonstrasi bertajuk Indonesia gelap beberapa bulan lalu. Ia juga membuka layanan mengajar gratis bagi beberapa kampus yang berminat.
Apabila ditinjau dari segi kepakaran, tak dapat dipungkiri Ferry Irwandi memang mempunyai kapasitas dalam bidang ekonomi. Selain berkuliah di STAN, pengalamannya bekerja di Kementerian Keuangan menjadi salah satu alasan. Jika merujuk pada idols-nya Francis Bacon dalam buku Pemikiran Modern yang ditulis Budi Hardiman, Ferry Irwandi tergolong sebagai sosok dalam konsep idola fora (forum = pasar). Idola fora mengacu pada pendapat atau perkataannya akan diterima begitu saja sehingga mengarahkan pada keyakinan yang tak teruji.
Perlu diperjelas, posisi Ferry Irwandi dalam jagad virtual tak lagi menjadi “pakar”, tetapi influencer yang kontennya dikonsumsi oleh khalayak sebagai standar pembenaran. Ferry dalam kasus ini tak bisa disalahkan akibat membludaknya konten dan informasi yang beredar sangat liar di media sosial, sehingga individu yang mengonsumsi kontennya tak dapat menjangkau realitas objek. Misalnya begini, dalam kontennya tentang meninjau kebijakan publik menggunakan pisau ekonomi, Ferry menjelaskan bagaimana penduduk Korea Selatan bisa mengkonsumsi produk mereka sendiri sementara Indonesia tidak?
Ia banyak menyinggung soal political will, soal kehendak manusia secara rasional ataupun spontan dalam membeli barang, dan peran negara sebagai penyeimbang pasar bebas. Gagasannya luar biasa tetapi bukan berarti tidak bisa dipertanyakan, misalnya tentang kenapa indikator rasional membeli barang berdasarkan rasa senang psikologis atau ketika kita merasa tak rugi saat membelinya.
Sayangnya media sosial tak menyediakan opsi semacam itu. Asumsi lebih cepat mendahului dalam kolom komentar. Seakan semua pendapat, asalkan logis dapat dikatakan sebagai sebuah kebenaran tanpa mempertimbangkan faktor yang lain seperti konteks dan argumentatif yang berdasar pada sumber rujukan.
Ferry seakan seperti mesias yang hadir dalam carut-marut kondisi ruang jagad virtual, namun sebenarnya apakah kita memerlukan mesias untuk membimbing ke jalan yang benar? (*)
Editor: Kukuh Basuki
