Dalam novelnya yang legendaris 1984, George Orwell membayangkan dunia distopia di mana seluruh kehidupan manusia diawasi oleh negara totaliter. “Big Brother is watching you,” begitu ancaman yang terus diulang-ulang dalam kehidupan sehari-hari. Kamera tersembunyi, mikrofon di dinding, bahkan mata-mata di antara sesama warga. Privasi bukan lagi hak, melainkan dosa. Pikiran yang menyimpang dari doktrin resmi negara dianggap sebagai kejahatan berpikir.
Apa yang dulu kita bayangkan sebagai fiksi menakutkan kini tampak begitu akrab. Tapi ada satu hal yang berubah. Kita tidak dipaksa untuk diawasi. Kita justru rela bahkan antusias membuka pintu selebar-lebarnya untuk pengawasan itu terjadi.
Kita membawa ponsel ke mana-mana, tanpa menyadari bahwa benda kecil itu adalah kamera pengintai paling setia. Bukan hanya melacak gerak tubuh kita lewat GPS, tapi juga merekam pola perilaku, kebiasaan, bahkan emosi kita melalui data yang kita berikan setiap hari.
Aktivitas kita dipetakan, preferensi kita dianalisis, dan kebiasaan kita dijual dalam bentuk iklan yang ditargetkan. Tapi tidak ada paksaan. Kita melakukannya secara sukarela. Kita membagikan semuanya dan merasa nyaman dengan itu.
Baca juga:
Setiap pagi kita membuka mata, hal pertama yang kita cari adalah notifikasi. Kita unggah foto sarapan, mencurahkan isi hati lewat status, membagikan cerita di Instagram, membalas komentar, membuat utas, hingga mengunggah video singkat tentang keseharian yang, secara ironis, makin tak privat. Kita pikir kita sedang mengekspresikan diri, padahal secara perlahan kita sedang membuka seluruh lapisan diri kita kepada publik dan kepada sistem yang tak pernah kita pahami sepenuhnya.
Dunia Orwellian dalam 1984 begitu menakutkan karena pengawasan dipaksakan oleh negara. Tapi hari ini, kita hidup dalam dunia yang tak kalah menakutkan karena pengawasan dilakukan secara sukarela. Bukan oleh negara, tapi oleh sistem algoritma dan kapitalisme data yang tak pernah tidur. Kita tak sadar bahwa setiap klik, setiap like, setiap pencarian Google adalah bagian dari proses pengumpulan informasi yang jauh lebih dalam daripada sekadar “riwayat pencarian”.
Di media sosial, kita menampilkan versi terbaik dari diri kita atau terkadang versi paling dramatis. Kita berbagi bukan hanya momen penting, tapi juga hal remeh, luka, bahkan trauma. Kita menulis isi hati seolah tidak ada batas antara ruang publik dan privat. Dan yang lebih aneh lagi. Kita senang saat semua itu mendapat perhatian.
Ironisnya, dalam dunia ini, kita tak perlu pengawasan dari negara untuk merasa diawasi. Karena justru kita menikmati saat dilihat. Kita ingin dilihat. Kita mengukur eksistensi kita dari jumlah followers, jumlah views, komentar, dan interaksi. Validasi eksternal menjadi pengganti ketenangan batin.
Apa artinya ini semua? Bahwa dunia hari ini, meskipun tidak dikontrol secara paksa seperti dalam 1984, tetap mengandung semangat yang sama. Pengawasan menyeluruh yang mengikis kebebasan individu. Hanya saja, kali ini bentuknya lebih halus. Tidak ada teror. Tidak ada penjara. Yang ada hanya algoritma yang membentuk gelembung kenyamanan, menuntun kita perlahan pada dunia yang semakin homogen dan terkendali.
Baca juga:
Dan yang lebih menyedihkan, kita tidak mempertanyakannya. Kita tidak bertanya kenapa semua platform “gratis” bisa begitu canggih. Kita tidak bertanya kenapa iklan tahu apa yang kita pikirkan. Kita tidak bertanya kenapa kita merasa gelisah jika sehari saja tak membuka media sosial. Kita mengira ini adalah pilihan bebas, padahal banyak dari pilihan itu sudah dimanipulasi jauh sebelum kita menyadarinya.
Oleh karena itu, di zaman ini kejahatan terbesar bukanlah berpikir seperti dalam 1984, tapi berhenti berpikir karena semuanya sudah disajikan. Dunia digital menawarkan kenyamanan yang luar biasa, tapi diam-diam mengikis kebebasan yang dulu kita anggap suci: kebebasan untuk menyendiri, untuk berpikir dalam diam, untuk menjadi manusia yang utuh tanpa perlu tampil.
George Orwell tidak pernah membayangkan bahwa distopia bisa terlihat begitu menyenangkan. Kita tidak hidup di bawah ancaman Big Brother. Kita hidup di bawah pelukan lembut Big Data. Dan mungkin, seperti katak dalam air yang perlahan dipanaskan, kita tidak sadar bahwa kita sedang dimasak.
Editor: Prihandini N
