di tanah yang tersisa
“O Tuhan, adakah dendam yang tersisa di kuburan-kuburan ini?”
kepada tanah yang penuh gemuruh
ada waktu yang tak mampu lagi diredam.
hari-hari yang tak bergerak pun luluh,
dan langit biru itu, retak runtuh
dalam curah yang merundung peluru.
ada banyak kematian
tumbuh subur di sini.
tubuh-tubuh yang pergi pun
telah jadi angin yang tak kembali,
berguguran patah dan pulang menuju sepi.
barangkali tangis ini hanyalah fana,
dan darah, semoga tak lagi jatuh
seperti hujan pagi yang tak terbendung.
–
doa
Tuhan,
di tanah ini kuyakin hujan akan pasti
turun guna melapangkan pohon-pohon jeruk.
untuk nanti mekar utuh,
untuk anak cucu
–
berada dalam gelap
ketika menghitung waktu di tanah ini,
tanggal-tanggal hampir pasti tak ada lagi.
tasbih yang menitik rutin
menjadi kerinduan,
dan menjalari tangis hingga tak berdaya.
bayangkan tanah ini tak tumbuh,
barangkali doa
tak jadi kesengsaraan yang penuh.
“dulu, sepanjang jalan ini banyak pohon jeruk
yang basah,” bisikmu, ”dan kuning, seperti matahari
yang tak pernah habis tercekat.”
kita masih berada di kegelapan,
masih di sini semenjak sungai-sungai
pecah, menghilangkan banyak nama-nama.
dan kita, belum mengetahui bahwa
kehidupan bisa meminta kembali napasnya,
lalu membawanya kembali ke tempat yang
tak pernah kita alami.
“aku ingin terus hidup, walau mungkin
mortir akan memisahkan kenanganku
dengan anak-anakku.”
bahkan, setelah 75 tahun,
kunci-kunci rumah yang kita genggam ini
masih merengang di tangan,
dan masa yang sudah tak terhitung,
tetap mencari-cari kematian di setiap musim.
–
subuh 1
akhir malam pun turun,
membawa gerimis
dalam angin yang pedih.
dingin,
seakan tak lagi punya getar.
di dalam jantung,
adzan telah merembet
jadi redam yang pecah pelan-pelan,
jadi waktu,
yang tak lekas abadi.
–
subuh 2
hari ini kita tak bisa lagi berbahagia.
dari jauh, ada yang mendadak tampak:
horison di seberang
ibarat suluh,
terbit,
namun belum terang.
adakah sesuatu yang pasti
selain takdir?
juga,
selain awal pagi
yang datang dengan harap,
adakah yang lain?
kita hampir–bahkan sudah
tak mampu lagi memandang fajar.
dari tanah yang terbuka
di halaman rumah kita,
ada yang sedang kita persiapkan:
liang lahat,
untuk hidup yang telah jadi sekam.
–
subuh 3
buat Erich Maria Remarque
awal hari bagaikan pusat matahari,
garis depan meledakledak
tanpa henti.
suara diredam
oleh rentetan bencana
yang seperti tangisan bayi.
kematian tetap datang
dalam kabut pagi, Ibu.
parit telah jadi lobang kubur,
bedil terhuyung kehilangan napas
seakan peluru tak perlu lagi api.
Ibu, aku tak mampu mengenal waktu.
arah hilang dari pandanganku,
dan jam tangan yang kau berikan dulu
kini patah.
surat yang kutulis ini
akan jadi yang terakhir,
sebab tubuh ini tak bisa lagi kukuasai.
bahkan bubuk mesiu pun,
tak sanggup menggores sisa cinta
di atas lembar-lembar rindu ini.
sebelum tiba pada udara dingin,
jangan mengenangku dengan sia-sia.
aku memang telah tenggelam,
tapi jangan mengenangku
dengan putus asa.
–
subuh 4
kita memang demikian akrab
di dalam mimpi buruk
waktu jadi mungkin kembali, namun Kau,
tetap merenggut yang kini telah pergi.
apakah kita bisa bahagia?
yang kekal memang tak pernah selesai,
hidup pun hanya empasan pagi
yang rutin
pada terbitnya matahari.
jauh sebelum suaraMu turun,
kita cuma bisa mengikis tebing.
hingga patah
hingga hampir musnah.
dan, Tuhan, untuk terakhir kali,
apa kau memang punya cinta?
–
sisa-sisa
dari gemuruh
ada hari yang luruh
cinta jatuh di dalam hujan yang mendadak
dan siapapun akan tersadar,
di balik kaca buram yang menahan sisa mimpi,
ada gumam yang penuh sia-sia:
rindu memang sepi,
dan kenangan,
tak lebih dari kabut pagi yang menetap sebentar
*****
Editor: Moch Aldy MA
