Mari kita melangkah sejenak melintasi dua garis waktu yang merekam tragedi paling senyap di Asia Timur. Pertama, kita berdiri di Tokyo pada akhir dekade 1990-an. Di balik pintu kelas sebuah akademi, kita tidak menemukan pelajar yang merajut masa depan, melainkan sekumpulan anak muda jenius yang jiwanya hancur oleh mesin ekspektasi ekonomi. Mereka terasing, menekan rasa sakit dengan kenakalan, dan melihat kaum dewasa sebagai pengecut. Kedua, kita melompat ke Seoul pada Juli 2023. Di ruang penyimpanan sebuah sekolah dasar elite di Gangnam, seorang guru kelas satu memilih mengakhiri hidupnya. Ponselnya terus menyala dalam gelap, dibanjiri pesan ancaman dan teror litigasi dari wali murid hanya karena ia mencoba melerai pertengkaran anak-anak mereka.
Dua potret ini bukanlah sekadar fiksi atau kebetulan historis belaka. Keduanya adalah muara dari krisis sistemik yang terekam secara brilian dalam dua karya pop-kultur monumental: manga cetak Great Teacher Onizuka (GTO) karya Toru Fujisawa dan komik digital webtoon Teach You a Lesson (juga dikenal sebagai Get Schooled atau Chamgyoyuk) karya Chae Yong-taek dan Han Ga-ram. Dalam rubrik risalah ini, kita akan membedah bagaimana kedua medium tersebut berfungsi sebagai laporan pengamatan sosiologis dan antropologis yang menakutkan tentang evolusi pedagogi. Keduanya merepresentasikan dua paradigma yang saling bertarung: antara pelukan anarkis yang menyembuhkan atau tinju besi negara yang menghukum.
Untuk memahami pesan dari kedua karya ini, kita harus memulainya dari infrastruktur medianya. Seperti yang digagaskan oleh filsuf media Marshall McLuhan dalam pengamatannya yang terkenal bahwa medium itu sendiri adalah pesannya, perbedaan ontologis antara GTO dan Teach You a Lesson didikte oleh kanvas tempat mereka lahir. GTO hidup di atas kertas cetak. Fujisawa mengeksploitasi tata bahasa visual manga tradisional dengan menjejalkan lima hingga tujuh panel asimetris dalam satu halaman. Garis tinta yang rapat dan bayangan tebal memaksa pembaca untuk menyerap keseluruhan komposisi secara simultan. Pembaca merasakan klaustrofobia, terjebak bersama siswa-siswa di dalam grid yang menekan. Efek kejutannya bersifat fisikal; pembaca harus membalik halaman untuk dihantam oleh gambar penuh (splash page) aksi Onizuka yang menghancurkan ruang kelas. Ada keintiman sentuhan kertas yang meresonansikan kekacauan bising di era tersebut.
Baca juga:
Sebaliknya, Teach You a Lesson adalah artefak murni era ponsel pintar. Komik ini menggunakan sintaksis gulir vertikal tanpa batas. Sang kreator sepenuhnya merebut kendali temporal pembaca melalui manipulasi ruang kosong atau gutter space. Ruang putih yang panjang di antara panel bukanlah kekosongan, melainkan kanvas ketegangan yang secara matematis dirancang untuk menahan ritme napas pembaca. Ketika sang protagonis hendak menjatuhkan pukulan mematikan kepada perundung, pembaca dipaksa terus menggulir ke bawah, memompa antisipasi sadistik sebelum akhirnya disuguhkan satu panel berdarah. Jika manga GTO memeluk pembacanya dalam kekacauan, webtoon menggunakan layar digital untuk mengisolasi momen kekerasan, menyajikan kepuasan instan layaknya konsumsi micro-moments kaum urban modern.
Namun, estetika medium ini hanyalah kulit luar dari patologi sosial yang lebih dalam. Kedua narasi ini merespons patahan struktural dari masyarakat asalnya. Di Jepang era 90-an, krisis ini lahir dari “Dekade yang Hilang” (Lost Decade). Runtuhnya gelembung ekonomi menghancurkan kebanggaan pria korporat Jepang. Para sosiolog, seperti Jason Charlebois dalam analisisnya tentang maskulinitas, mencatat kemunculan fenomena “maskulinitas herbivora”—generasi pria muda yang kehilangan vitalitas sosial karena absennya figur ayah yang tangguh. Sosiolog klasik Emile Durkheim sudah sejak lama memprediksi kondisi ini sebagai anomi eksistensial, di mana runtuhnya tatanan normal mendorong manusia pada keputusasaan.
Di tengah krisis figur ayah inilah Eikichi Onizuka hadir. Fujisawa secara sengaja tidak mendatangkan pahlawan dari kalangan intelektual, melainkan seorang mantan jenderal geng motor tanpa kualifikasi akademis yang jelas. Onizuka adalah manifestasi dari maskulinitas jalanan yang menolak tunduk pada emaskulasi birokrasi. Ia menjadi figur ayah substitusi yang liar, yang meruntuhkan dinding kelas dengan palu godam demi menjangkau hati murid-muridnya yang telah membeku.
Melompat dua dekade kemudian ke Korea Selatan, krisis pendidikan telah bermutasi. Di bawah cengkeraman kapitalisme lanjut, institusi sekolah dilumpuhkan oleh apa yang bisa dianalisis menggunakan teori sosiolog Pierre Bourdieu tentang modal ekonomi dan budaya. Orang tua kelas menengah atas memonopoli kontrol atas sekolah. Konsep ini melahirkan “parentokrasi”, di mana hukum perlindungan anak dibajak dan dijadikan senjata (weaponized) untuk meneror guru. Kasus bunuh diri di SD Seoi pada 2023 adalah puncak gunung es dari ribuan laporan palsu terhadap guru.
Menghadapi sistem perdata yang dijadikan alat penindasan oleh masyarakat sipil yang kaya, Teach You a Lesson menawarkan resep yang lebih gelap. Narasi ini menghadirkan Na Hwa-jin, agen dari institusi fiktif Biro Perlindungan Hak Pendidikan yang kebal hukum. Jika Onizuka adalah malaikat berandal yang bekerja di luar sistem, Hwa-jin adalah aparatur negara. Webtoon ini secara tak langsung mengaminkan tesis Max Weber bahwa hanya negara yang memiliki hak monopoli atas penggunaan kekerasan yang sah. Ketika ruang kelas berubah menjadi arena perundungan yang dilindungi kekayaan orang tua, komik ini berargumen bahwa negara harus turun tangan untuk mematahkan rahang para penindas.
Perbedaan arsitektur karakter dari kedua tokoh ini berujung pada metodologi pedagogis yang bertolak belakang. Tokoh Onizuka secara mengejutkan menggemakan visi pedagogi kritis dari Paulo Freire; pendidikan harus membebaskan dan bersifat dialogis, bukan menindas. Onizuka menghancurkan hierarki guru-murid. Ia tidak menghukum, melainkan turun ke dasar jurang penderitaan, berdarah bersama muridnya, dan menggunakan komedi yang absurd sebagai keadilan restoratif untuk menyembuhkan trauma masa muda.
Di seberang kutub, Hwa-jin beroperasi dengan prinsip Lex Talionis, atau keadilan retributif berupa hukum mata ganti mata. Didorong oleh trauma pembunuhan istrinya (yang juga seorang guru) oleh murid sosiopat, Hwa-jin mendekati masalah dengan presisi operasi militer. Ia tidak merajut empati; ia merekayasa teror eksistensial. Ia menghancurkan struktur ekonomi keluarga perundung, membuat mereka miskin, dan membiarkan mereka disiksa oleh orang-orang yang dulu mereka tindas. Metodologinya memberikan sensasi Saida (kepuasan instan yang menyegarkan) bagi pembaca Korea—sebuah katarsis saat hukum membalas kejahatan dengan rasa sakit yang absolut.
Ekspansi dari kedua karya ini juga mencerminkan pergeseran industri kebudayaan. GTO berkembang secara organik berpusat pada kepenulisan tunggal (auteur), menelusuri masa lalu sang pahlawan dengan intim. Sementara itu, Teach You a Lesson beroperasi layaknya mesin konglomerasi cinematic universe. Di bawah ekosistem Blue String Universe dari YLAB, Hwa-jin melintasi batas judul komik untuk bertarung dengan karakter webtoon lain. Trauma sosiologis telah dikomodifikasi menjadi tontonan aksi blockbuster berskala industri, direkayasa oleh puluhan staf artistik untuk memenuhi tenggat waktu mingguan algoritma digital.
Benturan ideologis ini tidak berhenti di atas kertas atau piksel; ia tumpah ke dunia nyata dan membentuk realitas kita. Adaptasi televisi GTO pada 1998 meninggalkan warisan emosional yang begitu abadi hingga puluhan tahun kemudian, konsep “pedagogi bayangan” (shadow pedagogy) ala Onizuka—di mana guru melepaskan otoritas kakunya demi merengkuh kepercayaan siswa—masih dipraktikkan secara rahasia oleh pendidik di Jepang. Sebaliknya, Teach You a Lesson terjerembab dalam kontroversi internasional. Eksperimen kreatornya yang menyisipkan elemen reverse racism (rasisme terbalik) di episode 125, di mana agen negara melontarkan hinaan rasial murni untuk membalas perundung minoritas, membuktikan betapa bahayanya fantasi fasis lokal saat diuji di panggung multikultural global. Publikasinya bahkan diboikot di Amerika Serikat.
Di ranah domestik, pengumuman adaptasi drama serialnya juga ditentang keras oleh serikat pekerja pendidikan Korea. Mereka menyadari pengamatan sosiologis yang sangat genting: memfasilitasi fantasi di mana birokrat menggunakan sanksi fisik layaknya militer sejatinya merusak esensi reformasi pendidikan yang demokratis. Mereka menolak tragedi nyata rekan-rekan mereka dieksploitasi untuk menormalisasi kekerasan negara.
Baca juga:
Di sinilah kita bisa mengamati manuver paling menarik dari para pembaca Gen Z. Pakar kajian media Henry Jenkins pernah menelusuri bagaimana penggemar budaya pop bukanlah konsumen pasif, melainkan partisipan aktif. Tercekik oleh kekejaman dunia nyata dan absolutisme kekerasan dalam Teach You a Lesson, para pembaca muda merebut kembali narasi ini. Di platform subkultur pinggiran, mereka menulis fiksi-fiksi sekunder (fanfiction) yang merekonstruksi Hwa-jin sekadar sebagai figur ayah pelindung, menghilangkan elemen kekerasannya, dan membiarkan para tokoh sosiopat sembuh dalam asuhan yang damai. Ini adalah mekanisme bertahan hidup sosiologis dari sebuah generasi yang lelah melihat darah, merindukan utopia keadilan restoratif yang dirampas oleh zaman.
Pada akhirnya, ruang kelas adalah cermin retak tempat kita memantulkan peradaban. GTO adalah relik dari masa ketika kita masih menaruh harapan pada kebaikan anarkis individu untuk memperbaiki sistem—sebuah kompas emosional yang menawarkan hati yang berdarah bagi generasi tanpa arah. Sedangkan Teach You a Lesson adalah epilog dari keputusasaan birokratis—sebuah tinju baja yang terpaksa diayunkan karena hukum telah dibeli dan dikhianati. Mengamati kedua mahakarya ini memaksa kita untuk menghadapi satu pertanyaan eksistensial yang mengganjal: akankah pendidikan masa depan kita diselamatkan oleh pelukan hangat yang memaafkan, atau oleh rotan negara yang melumpuhkan? (*)
Editor: Kukuh Basuki
