Wahyudi Akmaliah Ayah dua anak dan suka kopi

Inspirasi Dua Komik untuk Perjalanan Akademik

2 min read

Ketika sekolah di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta selama 6 tahun, komik menjadi bacaan yang terlarang bagi saya dan teman-teman. Disebut terlarang, karena komik, apa pun bentuknya, adalah barang yang tidak diperbolehkan berada di asrama pondok pesantren. Namun, di antara begitu banyak komik yang sembunyi-sembunyi saya baca, ada dua yang nyantol di kepala hingga sekarang, yaitu Kungfu Boy dengan tokohnya Chinmi dan Dragon Ball melalui tokoh utamanya Songoku.

Dua komik inilah yang sempat saya baca sampai tuntas. Ada teman yang selalu membeli dua komik itu setiap edisi baru terbit. Sementara saya dan teman-teman masuk dalam daftar antrean setelah si pemilik komik tersebut membacanya. Dengan mekanisme antrean seperti ini saya dan teman-teman membaca komik dalam situasi apa pun. Ada yang membaca komik saat pelajaran ilmu tafsir, membaca alquran selepas subuh, atau pun saat pelajaran sekolah berlangsung. Ukuran komik yang lebih kecil dibanding ukuran kebanyakan buku, membuat kami mudah memasukkan komik itu ke dalam buku pelajaran saat berangkat ke madrasah.

Tokoh Chinmi dalam Kungfu Boy ini memiliki kelebihan yang menarik. Saat bertanding atau berkelahi, ia selalu melihat pola untuk mengetahui kelemahan lawan-lawannya. Dalam posisi pertarungan yang nyaris kalah dan kondisi tubuhnya tampak sudah tidak mampu melawan, ia selalu berusaha menemukan celah dan kelemahan jurus lawannya. Upaya mencari kelemahan ini yang biasanya dibaca oleh Chinmi sebagai pola bergerak yang memiliki kekosongan. Dalam situasi ini, Chinmi biasanya memanfaatkan celah-pola yang kosong untuk melesatkan jurusnya. Setelah mengamati secara jeli jurus dan gerakan musuh-musuhnya, Chinmi kemudian menjadi berbalik unggul. Melihat celah-pola inilah yang selalu digunakan oleh pengarang komik tersebut, Takeshi Maekawa, dalam membangun alur cerita Kungfu Boy dengan konteks dan situasi yang berbeda.

Dalam Dragon Ball yang diciptakan oleh Akira Toriyama, tokoh utama Songkoku digambarkan sebagai figur yang mampu meningkatkan kekuataan melalui latihan dan pertarungan. Dua aktivitas itu menjadi kata kunci peningkatan kecepatan dan kekuatan Songoku. Dengan cara ini, Songoku kemudian bisa mengubah dirinya dari manusia Super Saiya 1-3. Syarat untuk naik menjadi manusia super ini adalah harus berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Alih-alih selalu memenangkan pertarungan, dalam seri komik tersebut, Songkoku selalu divisualisasikan sebagai figur yang sudah babak belur dan hancur lebur. Justru situasi kehancuran itu menjadi pelajaran untuk meningkatkan kemampuan teknik dan jurus, hingga membuatnya bisa masuk ke jenjang Manusia Super Saiya.

Pengalaman membaca dua komik itulah yang ternyata cukup memengaruhi cara saya meningkatkan kemampuan akademik, khususnya dalam membaca dan menulis. Untuk mengetahui mengapa seorang sarjana bisa menjadi akademisi internasional dengan karya-karya keren yang dikutip oleh para sarjana lain, saya selalu  membaca semua karya-karya figur akademisi tersebut. Melalui proses membaca inilah saya dapat mengetahui perkembangan pola, gagasan, dan teknik tulisan yang dibangun. Hal ini membantu saya untuk mengetahui posisi dan pilihan akademis yang diambil dan teori apa yang digunakan dalam membahas satu isu.

Dengan kata lain, apa yang saya lakukan ini sebenarnya disebut dengan istilah profiling; mengetahui lebih detail tentang bagaimana seorang membentuk imajinasi sosiologisnya dalam menghasilkan sebuah tulisan. Saya mempelajari karya yang dikutip, latar belakang pendidikan yang diambil, hingga wawancara dari sebuah media dalam menanggapi satu isu. Namun, membaca dengan teknik profiling ini memiliki satu kelemahan, saya menjadi kurang tertarik untuk membaca teori-teori mutakhir dalam ilmu sosial dan humaniora secara langsung. Waktu saya habis untuk membaca karya-karya figur akademik tertentu. Ini kelemahan yang menjadi pekerjaan rumah terbesar saya saat ini.

Sementara dalam konteks Songoku, saya berusaha meningkatkan kualitas menulis dengan mencari tempat latihan bertanding. Caranya dengan mendaftarkan diri pada konferensi, baik nasional maupun internasional. Melalui forum akademik semacam ini, saya memaksakan diri untuk menulis makalah dan menyampaikan gagasan dalam bahasa Inggris.

Dengan melihat dua tokoh komik tersebut sebagai inspirasi, upaya eksperimen akademik yang saya lakukan mengalami banyak kegagalan; banyak abstrak yang tidak diterima, paper yang tidak selesai, dan paper tidak masuk seleksi untuk proses penulisan selanjutnya. Namun, dari kegagalan itu justru saya bisa belajar memahami titik lemah dari abstrak yang saya tulis dan paper yang saya buat. Dari refleksi inilah kerja keras saya mulai membuahkan hasil dalam menerbitkan paper akademik yang bisa dibaca oleh publik luas dan mengikuti sejumlah konferensi dengan bertemu para sarjana keren di bidangnya masing-masing, yang sebelumnya karya-karyanya hanya saya baca dan menjadi rujukan dalam menulis.

Pengaruh komik yang lebih nyata dialami oleh Hidethosi Nakata. Ia merupakan pemain sepak bola profesional dari Jepang dan saat itu satu-satunya pemain Asia yang pernah merumput di Liga Italia dengan menjadi pemain utama di beberapa klub terkenal dari tahun 1998-2006, seperti Perugia, Fiorentina, AS Roma, dan Bologna. Dalam satu wawancara media, ia mengatakan bahwa keinginannya untuk menjadi pemain sepakbola profesional terinspirasi dari komik Capten Tsubasa yang ditulis oleh Yoichi Takahashi. Tokoh kapten Tsubasa ini yang dibaca oleh Nakata sejak kecil hingga ia kemudian menjadi pemain sepakbola yang menginspirasi pemain Asia lainnya untuk merumput di Liga Eropa.

Pada titik ini, saya semakin meyakini, betapa pentingnya membaca komik. Komik bisa membangun semesta inspirasi yang membuat orang termotivasi untuk melakukan sesuatu di tengah irisan isu dan tantangan yang dihadapi.

Wahyudi Akmaliah
Wahyudi Akmaliah Ayah dua anak dan suka kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.