“Hingga saya menulis kolom ini, saya tetap tak kunjung menemukan Rissa. Tapi dosa dan rasa bersalah yang ditimbulkannya masih terus terasa manisnya” (Mahfud Ikhwan).
Entah sebuah keberuntungan atau hal lainnya, ketika mencari buku Rissa, saya menemukannya dalam 2 hari dan menurut penjualnya bahwa buku berjudul Rissa ini orisinal lengkap dengan stiker label tahun dan harga buku lusuh yang masih tertempel di bagian belakang yaitu : 190992 Rp. 4.500. Mungkin pada tahun 2026 ini Mahfud Ikhwan sudah memiliki seluruh koleksi buku karya Umar Nur Zain termasuk Rissa dan seharusnya ia perlu membalas ulang tulisannya bahwa sudah menemukan Rissa. Jika belum, saya cukup bahagia bisa menemukannya dengan mudah, kemudian membacanya tanpa rasa berdosa ataupun bersalah. Tetapi tentu detail pengalaman membaca Rissa serta kecemasan ketahuan membawa novel bergambar perempuan berbikini ke kamar masjid jauh lebih hidup daripada sekadar sinopsis isi buku ini berdasarkan pengalaman membacanya Mahfud Ikhwan.
Buku kumpulan esai karya Mahfud Ikhwan ini menghimpun 15 tulisan yang menelusuri jejak ingatan dan pengalaman membaca penulis. Melalui topik-topik seperti roman picisan, sandiwara radio, sepak bola, hingga film dan budaya populer masa kecilnya, Mahfud mengajak pembaca menyusuri kenangan yang turut membentuk cara pandang, selera, dan pengalaman hidup suatu generasi. Dan sejak awal, penulisnya sudah meruntuhkan citra intelektual yang terlalu rapi dengan kejujurannya yang membuat saya terpesona. Tentang hak seseorang yang telah dibentuk oleh bacaan-bacaan yang seolah tidak layak dibanggakan padahal pengaruh bacaan itu sendiri tidak selalu berbanding lurus dengan mutunya. Buku yang secara estetis atau biasa saja toh bisa meninggalkan jejak psikologis yang luar biasa dalam diri seseorang.
Baca juga:
Beberapa tulisan dibuku ini juga membawa saya pada nama-nama baru dan referensi nostalgia. Dan sudah saya duga bahwa buku ini juga akan membawa pembacanya pada sumber pustaka yang baru, seperti 2 kata dari Muhidin M. Dahlan yang mengulas Rumah Kertas karya Carlos Maria Domínguez : “Bukuku Takdirku”. Beginilah juga cara rak buku saya terisi. Begitu juga cerita-cerita tentang Tutur Tinular dan Saur Sepuh yang pada halaman 16 di ceritakan penulisnya, saya seperti di ajak ngobrol oleh Bapak. Sebab Bapak dan Ibu adalah penggemar sandiwara tersebut. Bahkan terkadang mereka memerankan gaya bicara lakon-lakon tersebut di acara keluarga.
Mahfud bilang tak terlalu gemar name dropping dalam artikel berjudul Membaca (Ulang) Hujan Kepagian, namun justru daftar nama penulis atau sosok tertentu dan judul-judul buku mulai menumpuk diingatan saya. Bagi pembaca yang tidak akrab dengan sastra Indonesia era 1980-an atau sastrawan kontemporer era 1990-an, bagian itu bisa terasa seperti katalog. Meski begitu, kalimat-kalimat panjang yang dipenuhi anak kalimat pada kumpulan esainya tidak terasa melelahkan karena selalu diselingi humor kecil, tanda kurung yang nakal, atau komentar spontan seperti “versi bajakan tentunya” atau “Boleh juga, kan?”. Ada kesan lisan khas Mahfud Ikhwan yang diselipkan dengan sengaja.
Begitulah Mahfud Ikhwan, semua tulisan esainya mengorbit pada pengalaman dan hal yang dilaluinya, tentang kepengarangannya, karyanya atau bacaannya, yang sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Ia tidak hanya berangkat dari gagasan umum tentang bacaan atau dengan gaya pembalikan yang sederhana, tetapi juga lebih efektif.
Lazimnya orang membangun perjalanan membaca sebagai hasil pilihan sadar menuju karya-karya agung. Di sini justru sebaliknya, penulis mengakui kehidupan membacanya sebagai serangkaian kebetulan dan apa adanya. Ada unsur pasrah, tetapi tetap masuk ke pengalaman yang sangat spesifik, lalu perlahan keluar lagi menuju refleksi yang lebih luas mengenai proses kreatif personalnya. Ia juga sering melakukan semacam autopsi terhadap ingatannya sendiri sebagai upaya membuat hal yang remeh menjadi serius dan disajikan dengan menarik.
Pengalaman Membaca
Ada dunia bacaan lawas yang hadir dalam kumpulan esai Mahfud Ikhwan bagi generasi yang merindukannya maupun yang ingin mengetahuinya. Ada Laskar Pelangi yang menjadi pemandangan mata Mahfud Ikhwan di sebuah angkudes (angkutan pedesaan). Ia menyaksikan bagaimana pengalaman membaca hadir pada setiap zaman lengkap dengan fenomena bacaan dan penulisnya yang bersikut manis saling merefleksi karyanya satu sama lain.
Sebagai pembaca nanggung yang sebenarnya menyukai semua jenis buku dan bekerja di perpustakaan, terdapat teori yang dikemukakan oleh pakar kepustakaan SR Ranganathan pada tahun 1931 yang berisi lima hukum Ilmu Perpustakaan yaitu : “Books Are For Use”, “Every Reader His/Her Book”, “Every Book Its Reader”, “Save The Time Of The Reader”, dan “The Library Is A Growing Organism”. Hukum ini yang menengahi para pustakawan tentang bacaan-bacaan buruk dan baik, buku lawas maupun buku modern, buku sastra, setengah sastra, maupun nyaris sastra atau non sastra sekalipun, bagi pustakawan perpustakaan menjadi tempat yang abadi bagi bacaan baik dan buruk itu dengan segala jenis hadirinnya, juga pengalaman dan waktu bacanya.
Belum lagi sosok Melville Louis Kossuth Dewey, orang super kreatif yang membuat sistem acuan dalam penataan bidang-bidang keilmuan suatu koleksi buku di Perpustakaan. Ia memberi angka tertentu pada buku antara 0 – 999, lalu membaginya menjadi kelompok utama dan sub-sub kelompok dalam suatu tempat tertentu. Di antara angka-angka yang banyak itu, terdapat bagian lain berikut koma, titik, tajuk subjek, automasi, coding, dan lainnya yang jauh lebih rumit lagi.
Tuan Dewey dijamin pasti pecandu matematika atau pemain angka. Pengelola perpustakaan atau pustakawan sesungguhnya pasti memiliki pengalaman membaca kitab yang disebut DDC. Di mata pustakawan, penggolongan itu bukan sekadar urusan teknis agar buku mudah ditemukan. Itu adalah sebuah cara untuk membaca hakikat sebuah karya, tentang apa ia berbicara, pengetahuan apa yang dibawanya, dan kepada siapa ia dapat memberi manfaat. Di sinilah saya memandang sebuah bacaan secara utuh, bahwa setiap buku pada akhirnya bukan hanya koleksi yang disimpan, melainkan kemungkinan-kemungkinan baru yang menunggu untuk ditemukan.
Baca juga:
Sebelumnya kita hampir ikut percaya bahwa memang ada hierarki mutu yang jelas dalam pengalaman membaca, bahwa standar itu pun diwarisi begitu saja. Seolah-olah ada bacaan yang lebih tinggi dan lebih layak dihargai, sementara bacaan lain dianggap sekadar hiburan yang tidak pantas diperhitungkan. Padahal, pengalaman membaca tidak pernah sesederhana itu.
Apa yang dianggap remeh pada satu masa bisa menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk mencintai dunia literasi. Membaca bukanlah perlombaan untuk mencapai tingkatan tertentu, melainkan proses yang terus berkembang. Setiap pembaca memiliki lintasannya sendiri, dan setiap buku memiliki kemungkinan untuk memberi makna yang berbeda. Yang membedakan bukan semata jenis bacaannya, melainkan sejauh mana bacaan itu mampu menggerakkan pikiran, memperluas pandangan, dan meninggalkan jejak dalam ingatan.
Pada akhirnya, kumpulan esai dengan tampilan desain cover maupun tata letak yang mewah ini menyampaikan satu paradoks yang sangat manusiawi yaitu bahwa kita sering mengira hidup seharusnya dibentuk oleh pilihan-pilihan terbaik, padahal tidak jarang justru hal-hal yang kita anggap paling buruklah yang meninggalkan kesan mendalam. Novel atau bacaan yang bahkan tidak berhasil dimiliki, dihafal, dan tidak dianggap luar biasa itu ternyata terus tinggal di kepala, menjadi semacam dosa manis yang diam-diam menyusun fondasi imajinasi. Dan mungkin memang begitulah cara ingatan bekerja, tidak selalu menyimpan yang paling agung, melainkan yang paling keras menolak dilupakan. (*)
Editor: Kukuh Basuki
