“Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel García Márquez adalah novel buruk: jelimet dan membosankan.”
Kurang lebih seperti itulah yang dikatakan teman saya ketika kami tidak sengaja bertemu di warung kopi, dan ia mendapati saya sedang membaca novel ikonik karya Gabo tersebut. Saya tidak marah, apalagi sampai memaki selera bacaannya yang memang didominasi sastra populer—tak jauh dari genre young adult, romansa, dan fantasi. Saya cukup maklum. Memang tidak mudah bagi seorang yang terbiasa membaca sastra populer untuk tiba-tiba beralih ke sastra serius yang lebih menuntut kesabaran dan perhatian.
Namun yang kemudian membuat saya risih adalah cara ia membangga-banggakan bahwa dirinya berhasil menamatkan lima novel dalam waktu satu bulan. Ia bahkan sempat mengejek saya yang baru setengah jalan membaca Seratus Tahun Kesunyian. Aneh juga. Sejak kapan membaca berubah jadi lomba balap lari? Lebih lucu lagi, ketika saya tanyakan berapa lama ia menyelesaikan novel karya Gabo itu, ia menjawab: berhenti membaca ketika memasuki bab ketiga.
Barangkali cara pandang semacam itu tidak hanya dimiliki teman saya. Di media sosial kita cukup sering menjumpai orang membanggakan jumlah buku yang berhasil ditamatkan dalam setahun, seolah-olah membaca merupakan perlombaan mengumpulkan trofi. Padahal hubungan antara jumlah buku yang dibaca dan kedalaman pengalaman membaca tidak selalu berjalan lurus.
Dari situ saya kira cukup jelas bahwa penilaiannya terhadap Seratus Tahun Kesunyian sebagai novel yang jelimet dan membosankan lebih banyak bertumpu pada ketidaksabaran daripada pengalaman membaca yang utuh. Sukar menganggap serius vonis terhadap buku yang bahkan belum diberi kesempatan menyelesaikan dirinya sendiri.
Baca juga:
Saya menduga kebiasaannya berhadapan dengan novel-novel yang lebih mengutamakan keterbacaan dan daya hibur ikut membentuk cara tertentu dalam membaca. Tentu tidak semua pembaca sastra populer demikian. Namun ketika seseorang terlalu lama terbiasa memperoleh makna secara langsung dari sebuah teks, perjumpaan dengan karya yang bergerak lebih lambat dan berlapis sering kali memunculkan ketidaksabaran lebih dahulu daripada keinginan untuk memahaminya.
Tentu saja kerumitan bukan jaminan mutu. Ada karya yang memang sulit karena kaya dan berlapis, tetapi ada pula yang sulit karena gagal mengelola gagasannya sendiri. Sebagaimana tidak semua karya yang mudah dibaca bisa dianggap dangkal, tidak semua karya yang menuntut kesabaran otomatis layak dipuji. Namun untuk sampai pada penilaian semacam itu, setidaknya seorang pembaca perlu memiliki pengetahuan terkait teks yang ia baca dan memberi kesempatan yang cukup kepada teks yang sedang dihadapinya.
Kompleksitas dalam karya Gabo selaras dengan apa yang dituliskan Felipe Restrepo Pombo dalam artikelnya di BBC, How One Hundred Years of Solitude Redefined Latin America. Jurnalis sekaligus penulis berdarah Kolombia ini mengatakan bahwa mustahil menyebutkan satu per satu sumber yang digunakan Gabo untuk menulis Seratus Tahun Kesunyian. Sebab dunia Macondo tidak lahir dari satu mata air tunggal.
Sebagian besar berakar pada legenda dan cerita yang didengar Gabo semasa kecil di Aracataca, kota kecil di Kolombia tempat ia dibesarkan. Dari sanalah tradisi lisan Karibia mengalir ke dalam novel, membuat keajaiban dan hal-hal yang aneh terdengar masuk akal. Di kemudian hari, Gabo juga menyerap berbagai macam bacaan, mulai dari karya-karya William Faulkner, mitologi Yunani, hingga kisah-kisah pra-Hispanik. Di atas semua itu, berdiri sejarah Kolombia sendiri: perang saudara, kekerasan politik, dan gejolak sosial yang membekas sepanjang abad ke-19 hingga ke-20.
Tentu saja kita tidak bisa terburu-buru ketika menghadapi karya kompleks semacam Seratus Tahun Kesunyian. Jujur, terkadang saya harus membaca ulang beberapa paragraf tertentu untuk memahami apa yang dimaksudkan tokoh-tokohnya. Secara tak langsung sastra serius mengajari saya untuk berdiam diri di dalam teks, sehingga membuat saya terbiasa menikmati ambiguitas, simbol-simbol yang samar, dan pemaknaan yang kerap kali tidak tunggal.
Menyoal racauan teman saya tentang kejelimetan dan kebosanan, saya jadi teringat pada apa yang dikatakan Budi Darma dalam esainya yang berjudul Tidak Diperlukan Sastra Madya. Menurut Budi Darma, sebuah tulisan akan mengalami nasib yang baik apabila ditempatkan di kotak yang tepat, sebab dengan demikian ia akan bertemu dengan pembaca yang tepat pula. Sebaliknya, kekalutan muncul ketika batas-batas itu menjadi kabur dan sebuah karya dinilai dengan ukuran yang bukan miliknya.
Saya kira teman saya melakukan kekeliruan semacam ini. Dengan kata lain, ia menilai sebuah novel yang berada di “kotak sastra serius” dengan kacamata yang lebih lazim digunakan untuk membaca karya-karya di “kotak sastra populer”. Akibatnya, alih-alih dengan sabar menikmati ambiguitas dan berbagai lapisan makna yang ditawarkan dunia Macondo, ia justru lekas menyudahi petualangannya di awal bab ketiga.
Mau bagaimanapun harus diakui bahwa cara membaca seseorang sedikit banyak dibentuk oleh kebiasaan dan jenis bacaan yang selama ini menemaninya. Buku-buku yang kita baca menciptakan harapan tertentu terhadap sebuah teks. Karena itulah, ketika berhadapan dengan karya yang bergerak lebih lambat dan menyimpan maknanya secara berlapis, sebagian pembaca merasa asing, bahkan frustrasi.
Hal ini tidak berarti sastra populer lebih rendah daripada sastra serius. Namun ketika seseorang terlalu terbiasa memperoleh makna secara langsung dari sebuah karya, ia bisa saja kesulitan menghadapi novel yang meminta pembacanya tinggal lebih lama dalam ketidakpastian, menikmati ambiguitas, dan menerima bahwa tidak semua makna harus segera ditemukan dalam satu kali pembacaan.
Memahami perbedaan watak antara sastra populer dan sastra serius menjadi penting, bukan untuk menentukan mana yang lebih tinggi, melainkan agar kita tidak memaksakan cara membaca yang sama pada semua karya. Ada buku yang cukup dibaca sekali, tetapi ada pula buku yang meminta kita berhenti sejenak, membaca ulang beberapa halaman.
Menariknya, kebiasaan untuk berdiam diri di dalam teks rupanya bukan sekadar romantisme para pecinta sastra. Dalam sebuah penelitian yang dimuat di jurnal PLOS ONE, berjudul The effect of exposure to fiction on attributional complexity, egocentric bias and accuracy in social perception, Emanuele Castano bersama rekannya mengkaji perbedaan antara fiksi populer dan fiksi sastra. Mereka menemukan bahwa sastra serius cenderung menghadirkan tokoh dan dunia yang lebih kompleks dibandingkan fiksi populer. Akibatnya, pembaca tidak cukup hanya mengikuti jalannya cerita, tetapi juga dituntut untuk ikut serta membangun makna.
Dengan merujuk pada pemikiran Jerome Bruner, Roland Barthes, dan Mikhail Bakhtin, penelitian tersebut menunjukkan bahwa sastra serius mendorong pembacanya untuk dwell in uncertainty—tinggal lebih lama di dalam ketidakpastian. Alih-alih segera mengarahkan pembaca pada satu jawaban yang pasti, ia justru membuka berbagai kemungkinan tafsir dan sudut pandang. Dalam proses itulah pembaca belajar bersabar untuk menunda kesimpulan dan menerima ambiguitas.
Baca juga:
Barangkali itulah yang semakin sulit dilakukan hari ini. Kita hidup di tengah situasi yang menuntut segala sesuatu bergerak cepat. Berita dibaca sepintas, video ditonton dengan kecepatan dua kali lipat, dan buku pun terkadang diperlakukan sebagai angka yang harus ditambahkan ke dalam daftar bacaan tahunan. Dalam keadaan semacam itu, kesabaran perlahan berubah menjadi kebiasaan yang langka.
Mungkin karena itulah saya merasa sastra serius perlu untuk mendapat perhatian lebih. Bukan karena ia lebih tinggi daripada bentuk bacaan yang lain, melainkan karena ia kerap melatih sesuatu yang semakin jarang kita gunakan: “kemampuan untuk melambat”. Ia mengajak kita berdiam lebih lama bersabar terhadapan sebuah teks, menunda penilaian, dan menerima bahwa tidak semua makna harus segera datang pada pembacaan pertama.
Pada akhirnya, menjadi pembaca yang sabar barangkali bukan hanya soal cara membaca buku. Ia juga merupakan cara untuk mengingatkan diri sendiri bahwa tidak semua hal yang berharga dapat dipahami dengan tergesa-gesa. (*)
Editor: Kukuh Basuki
