Alam semesta tidak pernah menciptakan dua hal yang benar-benar sama. Bukan karena kebetulan. Bukan karena estetika. Melainkan karena itu adalah hukumnya. Di tingkat paling dasar dari materi, partikel-partikel penyusun segala sesuatu yang bisa kamu sentuh, duduki, dan makan, tunduk pada satu aturan yang tidak bisa dilanggar. Tidak ada dua di antaranya yang boleh menempati keadaan yang identik. Jika dipaksa, mereka saling meniadakan. Musnah bersama. Bukan melawan satu sama lain. Tapi benar-benar lenyap, seperti dua gelombang yang datang dari arah berlawanan dan meninggalkan permukaan air yang diam seolah tidak pernah ada yang terjadi.
Hukum itu bukan hanya aturan teknis fisika. Ia adalah alasan mengapa ada kehidupan. Alam semesta memilih keberagaman atau kehancuran. Tidak ada pilihan ketiga. Lalu mengapa kita terus membangun dunia yang bekerja sebaliknya?
Baca juga:
Di Indonesia, satu persen penduduk menguasai separuh dari seluruh kekayaan nasional. Artinya sembilan puluh sembilan persen sisanya memperebutkan setengahnya. Bukan karena mereka kurang bekerja keras. Buruh pabrik di Bekasi bekerja dua belas jam sehari menghasilkan barang yang dijual seharga berkali-kali lipat dari upah yang ia terima dalam sebulan. Petani di lereng gunung menanam padi dari subuh sampai punggungnya tidak bisa tegak lagi, lalu menjualnya dengan harga yang ditentukan oleh tengkulak yang tidak pernah memegang cangkul seumur hidupnya. Nelayan melaut sebelum matahari terbit dan pulang ketika anak-anaknya sudah tidur, lalu hasilnya habis untuk membayar hutang perahu dan solar.
Kemiskinan bukan soal kemalasan. Ia adalah desain. Sistem pendidikan mencetak manusia dengan cetakan yang sama: hafal, ujian, lulus, kerja, patuh. Dua belas tahun lebih manusia dilatih untuk menjadi roda bergigi yang bisa saling dipertukarkan, bukan untuk menjadi dirinya sendiri. Pasar melanjutkan apa yang sekolah mulai. Bahkan cara kita mengekspresikan keunikan sudah dikurasi oleh algoritma yang bekerja untuk memastikan kita terus menggulir layar dan terus membeli.
Saya tidak pernah bisa sepenuhnya masuk ke dalam satu kubu. Analisis tentang pertentangan kelas membuat saya menyepakatinya. Tentang bagaimana modal bekerja diam-diam seperti gravitasi, tidak terlihat tapi selalu menarik ke bawah mereka yang tidak punya cukup massa untuk melawannya. Itu benar. Tapi ada sesuatu yang sering hilang di sana. Manusia bukan hanya anggota kelas. Ia juga individu yang membawa sejarahnya sendiri, cara diam dan cara marahnya sendiri, cara ia mencintai dan cara ia luka, yang tidak bisa dilebur begitu saja ke dalam satu narasi perjuangan kolektif tanpa kehilangan sesuatu yang tidak bisa diganti.
Setiap orang lahir dengan konfigurasi yang tidak pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah ada lagi. Tidak ada dua sistem saraf yang identik, tidak ada dua sejarah luka yang sama. Memaksa keidentikan pada manusia bukan hanya kejahatan etis. Ia bertentangan dengan cara kerja alam semesta di tingkat paling dasarnya.
Ketika seseorang tidak bisa menjadi dirinya karena harus bekerja di tiga bidang pekerjaan sekaligus hanya untuk makan, sesuatu dalam tatanan semesta terganggu. Ketika seorang anak tidak bisa belajar sesuai cara berpikirnya karena sekolah hanya punya satu metode untuk semua otak yang berbeda, sesuatu terganggu. Ketika petani harus menjual tanah leluhurnya karena tidak bisa membayar hutang, ketika buruh harus menelan harga dirinya setiap hari supaya tidak dipecat, sesuatu terganggu.
Pemulihan dari gangguan itu tidak bisa datang dari atas. Reformasi 1998 sudah membuktikannya, kebebasan yang didapatkan tidak menjadi milik rakyat. Ia menjadi milik mereka yang lebih cepat dan lebih siap menguasainya. Korupsi tidak berkurang, ia hanya berpencar. Ketimpangan tidak membaik, ia hanya berganti wajah.
Revolusi yang sejati tidak lahir dari euforia kolektif yang menyala sebentar lalu padam. Ia lahir dari kesadaran yang panjang dan melelahkan. Dibangun dari bawah, oleh mereka yang paling merasakannya, dengan struktur yang tumbuh dari komitmen bersama bukan dari hierarki yang dipaksakan.
Baca juga:
Dan di ujung semua analisis material ini, masih ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh angka dan struktur kelas: apa artinya semua perjuangan ini? Bagi saya, jawaban yang paling jujur datang dari fisika. Ketika dua partikel pernah berinteraksi, mereka tetap terhubung meskipun dipisahkan oleh jarak yang tak terhingga. Pemisahan yang kita rasakan mungkin hanya ilusi di satu level tertentu. Di tingkat yang lebih dalam, semua materi di alam semesta ini pernah dan masih saling terhubung.
Selalu ada kontradiksi antara segala yang berbeda. Kontradiksi pada perbedaan itu, pada titik terkecil, adalah yang menggerakkan segalanya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
