Dari Kejauhan Mata
sudut paling dalam dari diri
mengatupkan suara kian melenting
samar terurai
jerit kecil berguling menyasar telinga
sialnya, dimuntahkan tak berpaling
dari kejauhan mata
kukirimkan serangkaian badai
agar engkau terjaga memikirkanku
agar engkau putus asa dalam tidurmu
dan bangun dalam keadaan setengah miring ke kanan
diam-diam kau rindukan
pundakku yang kala itu menjelma
bongkahan batu gunung dan guntur
yang senantiasa khidmat menahan tangismu
(2025)
–
Sekarang di Pekarangan
andai, waktu itu
keberanian menemukan rahasia
sudah kuberikan ujung napas
pada sisa-sisa sia-sia dan rupa-rupa paruh waktu
(2026)
–
Jelek
sudah kukatakan berkali-kali
ini kali terakhir menulis puisi
dan berkali-kali pula kulanggar
janji palsu itu
sambil menangis
kubaca puisi yang barusan kutulis
“ternyata, memang jelek. dasar gak tahu malu!”
(2026)
–
Sudahlah, Sudah Selesai
aku tidak peduli lagi
puisi Sitor malam lebaran
atau puisi mantra Sutardji yang bikin pusing dan mabuk darat
juga berbagai polemik sastra
adiluhung yang kian gak masuk akal
ditambah lagi ternyata banyak
dari para sastrawan mewariskan
penyakit ngacengan tara obatnya
skandal-skandal adalah minuman jamu kuat
untuk bertahan mencintai Sastra Indonesia
dengan lapang dada dan tulus belaka
andai sejak awal, aku tidak pernah membaca sastra Indonesia.
(2026)
–
Sekelumit Kisah
udahlah, capek!
mau tidur masih kepikiran nulis puisi
bangun tidur keinget diksi-diksi
patahan-patahan absurd hilir-mudik
udahlah, capek!
kirim puisi ke koran ditolak mulu
media-media daring songongnya naudzubillah
dikata pusat dunia
udahlah, capek!
beli buku-buku puisi
ujung-ujungnya numpuk kagak kebaca
kasian juga, duit bulanan
kepake mulu kagak danta
jeluntrungnya
udahlah, capek!
udah bener berhenti berharap pada puisi
malah coba-coba nulis lagi
apa kebanyakan tramadol
dibilangin susah amat
batu emang, lebih batu
dari batu, pintu, waktu
udahlah, capek!
pengen tidur, mimpiin surga
isinya buku-buku, tapi takut
ada buku-buku puisi dari penyair salon
yang nawarin ngajari nulis
eh, malah kebablasan malah
maksa enak-enak
wong ya udah semrawut gini
semesta sastra indon
masih bisa-bisanya bertahan
emang lu nabi Boi!
(2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
