Ayat Kabar dan Puisi Lainnya

Fajar Satriyo

1 min read

Ayat Kabar

Apa kabar bocah kecil lugu di jiwamu?
Apakah dia masih berjalan di setapak becek liang sawah,
mengejar tujuh bola naga yang terbang ke tujuh penjuru,

bermainlah hari ini, angkat jari kelingkingmu setinggi mungkin,
sepoi angin dari balik gunung menghardikmu,
pejamkan mata sembari berujar abrakadabra!

karpet terbang mengantarkan jiwamu melalang buana,
ke angkasa luar mana hendak yang kau tuju,
berhenti, jangan membuka matamu sebelum galaksi mengorbit sempurna,

ada siklus astrologi yang bocor mengabarkan berita buruk pada dunia,
tetap pejamkan matamu terbanglah setenang mungkin,
kunjungilah seisi bima sakti,
hingga tidak kau perlukan tanya;
apa kabar hari ini.

Bajak Laut

Sepintas dunia karam dalam tubuhku; seorang bajak laut berwajah menyesal berjalan gontai menghampiriku, membawa sebotol air ratapan, doa tertahan di dalam kerongkonganku yang berdarah,

ketiadaan telah menjadi algojo penyiksaan paling berhasil, mendorongku menyelami setiap jengkal kebodohan dalam kepala, tangan bajak laut menarik kerah rambutku, botol ratapan dijejalkan ke mulutku yang berbusa-busa,

hatiku jurang curam yang berkeliaran saat ini, gaung minta tolong tiada yang mengindahkan, kini tak kukenali lagi warna emosi dalam alam raya pikiran,

dunia sudah mengecil sekotak harta karun, tinggal menunggu pelaut mana yang akan memburu, dalam peta kehidupan yang dipenuhi kasak-kusuk ketidakpastian, kesadaranku tinggal sejengkal di ubun-ubun,

tubuh telah remuk redam terlempar ke lautan penyesalan, terombang-ambing dalam deru ombak masa lalu dan masa sekarang, terkoyak-koyak pasrah mencari arah mata angin beranda

rumahmu.

Celsius

Celsius, kurapalkan namamu agar mendinginkan kepala, bara dan percik dunia menciptakan dentuman obskur, tanganku menghitung hari ke berapa akan ada kematian yang tanggal,

kemarin kematian berkunjung ke rumah kami, menanggalkan kapan duka yang harus tinggal, suhu bumi langsung meningkat seribu derajat,

melelehkan cinta dan luka yang tersimpan rapi di kulkas, tanganku mencoba memunguti remah memori yang berantakan di lantai, sambil mengeja-eja kenangan yang tersapu badai; aku, kamu, dan trauma.

Den Sastro

Dengar berita apa hari ini Den Sastro? Ada kalimat yang tergantung bunuh diri di sini, paragraf menyayat-nyayat tangannya setelah tak mengenali emosi, kata terlontar dari mulut berbusa, tercecar di anak tangga;

T
O
L
O
N
G
!
huruf seperti biasanya tertidur lelap di atas kasur hangat, tanpa ada seseorang pun yang berani membangunkannya.

Dengar berita apa hari ini Den Sastro? Suara itu sudah sejak lama begitu mengganggu, membuat kau harus menelan tujuh butir risperidone tujuh kali dalam seminggu,

ada sesuatu yang nyeri ketika mata sayumu bisa menangkap timbunan huruf, yang datang menudingmu di sepanjang anak tangga;

P
E
R
G
I.

Eureka!

Eureka! Satu bola lampu kecil berpijar di kepala, membangunkan tujuh pembisik pendosa, dengan membawa trisula di tangan kanannya, doa kekal dalam lidah sesaat, menyalakkan serberus yang berjaga di gerbang sana,

malaikat bersayap putih mengintai ketidakpastian, aroma kematian sudah menusuk pori hidung, ah Hades kau telah beranjak dari singgasana, membopong satu kotak mati motif perjamuan Kudus,

ada yang mengerang kesakitan, setelah darah pucat basi meleleh dari nadi, demi Shinigami yang terjaga suntuk, letakkan segala kehidupan keruh ini.

Folklor

Dendam turun dari rahim ibu; melahirkan seribu pasang Adam-Hawa, yang saling mengutuki bumi dengan cinta,

cinta? satu kata peradaban kuno yang diwariskan oleh ketidaktahuan, Hera sedang menikam jantungnya, Eros tengah berjibaku dengan kepalanya,

Hathor menyulam nyawanya yang tinggal sejengkal, Horus mencungkil mata kanannya,

Kamajaya sibuk menelan tujuh butir pil penenang, Kamaratih tengah tidak berada di dalam puisi ini, entah beranjak ke mana,

ke cinta?

*****

Editor: Moch Aldy MA

Fajar Satriyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email