Bayangkan bila suatu bangsa kokoh persenjataannya, namun rapuh pengetahuannya; kuat di medan perang, tetapi lemah di ruang kelas. Inilah dilema yang kini dihadapi Indonesia ketika pemerintah memutuskan mengucurkan dana APBN 2025 yang sangat besar bagi sektor pertahanan.
Keputusan ini memancing tanya: apakah kejayaan bangsa bisa benar-benar bertumpu pada kekuatan militer semata, sementara kualitas pendidikan—fondasi peradaban, inovasi, dan daya saing global—masih belum optimal? Pertanyaan ini penting, karena masa depan Indonesia lebih ditentukan seberapa cerdas, kritis, dan terdidik rakyatnya, daripada seberapa kuat tentaranya.
Namun, dilema antara pertahanan dan pendidikan tidak bisa dilihat secara hitam putih. Pemerintah tentu memiliki alasan ketika menaikkan anggaran pertahanan. Meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan, dinamika keamanan di Indo-Pasifik, serta kebutuhan modernisasi alat utama sistem persenjataan menjadi dasar logis di balik kebijakan ini. Indonesia memang tidak boleh lengah terhadap ancaman eksternal. Akan tetapi, fokus yang terlalu berat ke arah militer berisiko mengaburkan pentingnya pendidikan sebagai fondasi sejati pembangunan bangsa.
Pendidikan bukan sekadar kewajiban konstitusional, melainkan investasi jangka panjang yang menentukan daya saing Indonesia di era global. Tanpa generasi terdidik, pertahanan sebesar apa pun tidak akan mampu melindungi bangsa dari kemiskinan pengetahuan, ketertinggalan teknologi, dan lemahnya daya saing ekonomi.
Lonjakan APBN Bagi Pertahanan
Dalam APBN 2025, lonjakan anggaran pertahanan menjadi sorotan utama. Dari rencana awal Rp 166,1 triliun, jumlahnya naik drastis hampir 50 persen hingga mencapai Rp 245,2 triliun (CNBC Indonesia, 2025).
Kenaikan ini menegaskan prioritas pemerintah pada militer, seolah ancaman eksternal lebih mendesak dibanding investasi jangka panjang. Di sisi lain, pendidikan yang seharusnya menjadi fondasi pembangunan justru tidak mengalami peningkatan signifikan. Padahal, berbagai indikator—seperti rendahnya skor PISA 2022—menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal jauh dari standar global (OECD, 2023).
Kondisi ini memperlihatkan paradoks besar: pertahanan diperkuat dengan kenaikan drastis, tetapi pendidikan yang menentukan daya saing bangsa dibiarkan berjalan dengan hasil yang stagnan.
Baca juga:
APBN sejatinya adalah cermin prioritas pembangunan bangsa. Ketika pertahanan naik drastis sementara pendidikan tidak beranjak jauh dari stagnasi, timbul pertanyaan apakah negara lebih sibuk menghadapi ancaman luar daripada membangun kekuatan dari dalam.
Padahal, sejarah dunia membuktikan bahwa kejayaan tidak lahir dari kekuatan senjata semata. Jepang, misalnya, bangkit pasca-Perang Dunia II bukan karena arsenal militernya, melainkan karena fokus pada pembangunan pendidikan, riset, dan teknologi. Begitu pula Korea Selatan, yang dari negara miskin kini menjadi raksasa ekonomi Asia berkat investasi besar-besaran pada kualitas sumber daya manusia.
Sementara itu, Singapura—yang wilayahnya kecil dan tidak memiliki sumber daya alam melimpah—menjadi salah satu negara dengan daya saing tinggi karena menempatkan pendidikan di jantung pembangunan. Indonesia seharusnya bercermin pada contoh-contoh ini, bahwa pendidikan adalah pertahanan sejati sebuah bangsa.
Lebih jauh, para pendiri bangsa kita pun menegaskan hal yang sama. Ki Hajar Dewantara menyebut bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka menjadi manusia yang merdeka dan bertanggung jawab. Bung Karno bahkan menegaskan bahwa revolusi tanpa pendidikan akan melahirkan kekosongan.
Pentingnya Pendidikan sebagai Garda Terdepan
Pesan-pesan historis ini relevan hingga kini: pertahanan yang kokoh tidak akan berarti tanpa rakyat yang cerdas, kritis, dan berkarakter. Dengan demikian, menyeimbangkan anggaran bukan sekadar soal angka, melainkan soal visi: apakah Indonesia ingin menjadi bangsa yang hanya berfokus pada ancaman sesaat, atau bangsa yang membangun kekuatan abadi melalui pendidikan?
Baca juga:
Karena itu, arah kebijakan anggaran seharusnya menempatkan pendidikan di garda terdepan pembangunan nasional. Pertahanan memang penting untuk menjaga kedaulatan, tetapi pendidikanlah yang menjadi benteng sejati bangsa dalam jangka panjang.
Tanpa generasi yang terdidik, kritis, dan inovatif, kekuatan militer tidak lebih dari kekuatan kosong yang mudah rapuh. Justru dengan investasi serius pada mutu guru, kurikulum yang relevan, sarana belajar yang memadai, serta akses pendidikan yang merata hingga pelosok negeri, Indonesia bisa melahirkan sumber daya manusia unggul yang mampu menjaga negeri ini bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan ilmu, teknologi, dan gagasan.
Dengan begitu, APBN tidak boleh hanya menjadi instrumen belanja untuk menghadapi ancaman sesaat, melainkan instrumen pembangunan yang visioner. Negara memang perlu pertahanan, tetapi pendidikanlah yang akan memastikan bahwa bangsa ini memiliki masa depan yang cerah, berdaya saing, dan bermartabat. Seperti kata pepatah, bangsa tidak akan runtuh karena kurangnya senjata, tetapi akan hancur bila gagal mencerdaskan rakyatnya.
Editor: Prihandini N
