Pekerja seks adalah hina. Begitu pandangan umum mayoritas. Namun, pada kondisi ekonomi yang serba salah, pekerja seks tidak bisa sepenuhnya disalahkan dan diharamkan.
Anora (2024) adalah film tentang pekerja seks yang tiba-tiba memasuki kehidupan mewah, megah, bersama seseorang dari keluarga yang secara finansial berada jauh di atasnya. Bagaimana kehidupan selanjutnya yang Anora masuki ini merupakan indikasi awal bahwa pekerja seks tidak sepenuhnya mempunyai pilihan. Sebagaimana pekerjaan umumnya, dibutuhkan berbagai macam pengorbanan untuk mendapatkan bayaran.
Pengorbanan Anora adalah mengandalkan sensualitasnya. Menjadi sensual merupakan kunci Anora bertahan hidup. Badan adalah alat tukar sekaligus pembayaran bagi Anora.
Baca juga:
Memang sebagai pekerja seks profesional, kemampuan yang dibutuhkan Anora tidak serta merta selalu berhubungan dengan ranjang. Ada tahapan flirting ‘rayu-merayu’ yang diperankan dengan sangat matang oleh Mikey Madison.
Kemampuan lain yang disertakan bersama Anora adalah pole dance. Lekuk badan terbilang sebagai daya jual. Ditambah liukan canggih ketika beraksi di pole, yang seharusnya menjadi miris terlihat menggoda. Miris, karena pole dance merepresentasikan eksploitasi seksual terhadap Anora sebagai objek. Menggoda, sebab objektifikasi seksual menjadi pengantar bakal klien meneruskan bayar jasanya.
Klien yang langsung membayar lebih untuk meningkat ke babak selanjutnya, pertanda menguntungkan Anora untuk menjalani kehidupan—atau Anora harus menjual lebih banyak bagian dirinya sebagai pekerja seks dan perempuan.
Harga Tunai Pekerja Seks Perempuan
Sebagai pekerja seks, kekhawatiran atas eksploitasi yang tidak terlindungi hukum sudah menjadi satu hal. Hal ini menjadi berbeda, bertambah dan beranak pinak berpuluh-puluh kali lipat, ketika pelaku adalah perempuan.
Baca selengkapnya:
- Perempuan dalam Siklus Kekerasan Seksual
- Kekerasan Seksual: Melawan Kriminalisasi dengan Solidaritas
Perempuan menjadi satu bagian dari kelompok yang berposisi lemah. Bagaimanapun perjuangan kesetaraan diusahakan, selalu ada belenggu masalah kehidupan yang telah terlalu mengakar sehingga menahan perempuan dalam jeratnya.
Kebutuhan untuk makan, minum, tidur, dan lain-lain, tidak gratis. Hidup dengan tenang apalagi. Bila melihat terselip Anora yang tidur saja harus menutupi mata, pertanda biasa dengan gelap alih-alih kerlap-kerlip cahaya lampu kelab. Ketenangan dalam gelap harus dibayar tunai dengan desahan kala remang.
Mikey Madison bermain apik dengan ekspresinya. Menunaikan kewajiban pemberi kepuasan, Anora tidak terlihat benar-benar puas pada berbagai kesempatan. Justru, Anora adalah alat bagi yang ingin dipuaskan. Ia menjadi objek atas fantasi klien yang membutuhkan ‘bantuan’ mengatasi kebutuhan seksual yang tidak terpenuhi. Pekerjaan pekerja seks menuntut Anora untuk bersedia memenuhi dahaga para penyewa jasanya.
Sama halnya ketika Anora bertemu dengan Ivan—disebut Vanya olehnya, putra seorang oligarki Rusia. Ia bisa mengenali Vanya tidak punya banyak pengalaman. Vanya adalah bocah yang mudah terpuaskan. Vanya adalah anak laki-laki yang terang-benderang tidak bisa diandalkan, dari kekanak-kanakan pengambilan keputusannya. Namun Vanya bisa memberikan apa yang Anora butuhkan, bayaran. Pada akhirnya, adalah deretan kemewahan barang yang dapat diberikan Vanya yang memuaskan dan diandalkan Anora.
Sekilas akan tampak Anora yang membayar badan untuk ditukar dengan harta Vanya. Meski permasalahannya tidak sesederhana itu, Anora tidak hanya menawarkan badan. Kepalsuan, kepuasan, kebahagiaan secara moral digadaikan.
Rentan Sedari Struktur
Pekerja seks tidak pernah gagal menarik sisi hitam dan putih mengabur dalam abu-abu. Perdebatan pekerja seks yang melawan moral masyarakat, di tengah kebutuhan yang tidak dijaminkan, seolah meninggalkan mereka yang lemah untuk terus tidak berdaya.
Anora adalah buktinya. Premis sederhana kehidupan Cinderella dalam cinta yang mengubah hidupnya, yang diterapkan sutradara Sean Baker, memperlihatkan jungkir balik kehidupan Anora dalam durasi dua jam lebih penayangan.
Meniti, beranjak naik, kemudian meluncur bebas jatuh kepada realitas, merupakan siklus hidup Anora sebagai pekerja seks, bukan Cinderella yang akan mengalami perubahan dalam hidup hanya karena bertemu lelaki kaya dari Rusia yang mengajaknya menikah. Bagian ini menjadi titik balik sesungguhnya bagi Anora, bagi film ini, dan bagi para penggelut profesi yang sudah rentan sedari struktur.
Perubahan Vanya yang menjadi seutuhnya bocah laki-laki tidak bisa diandalkan sesaat setelah kedatangan kedua orang tuanya memperlihatkan bahwa tidak ada yang sungguh bisa menjadi sosok ataupun tempat bergantung. Berulang kali Anora meminta Vanya mengambil keputusan untuk tidak membatalkan pernikahan keduanya—seperti yang diperintahkan orang tua Vanya, hasilnya tetap tidak menyisakan pilihan bagi Anora. Kesempatannya bersama Vanya pupus dan tidak bisa diharapkan lagi.
Bagaimanapun, Anora bukan hanya permasalahan kecil yang membutuhkan pertolongan berupa uluran tangan dari seorang pangeran. Bahkan pertolongan sebesar apa pun dari satu orang berkuasa tidak memberikan jaminan seseorang yang berkedudukan “lemah” dalam berbagai elemen masyarakat dapat bertahan selalu sejahtera. Seperti Anora, kemungkinan untuk kembali pada posisi semula selalu ada.
Pekerja seks menempati posisi rentan yang serba tak menguntungkan. Secara ekonomi, kehidupan menuntut bayaran lebih. Secara pilihan, keterbatasan bersifat pasti. Tidak heran eksploitasi terhadap pekerja seks selalu menjadi-jadi, sebab kerentanan mereka telah menjadi bagian dari struktur.
Maka yang paling wajar, dan memprihatinkan, adalah kesadaran Anora pada babak akhir. Bersama kesempatan perubahan hidup yang lenyap dalam waktu singkat, pekerja seks perempuan masih menjadi komunitas rentan yang belum memperoleh perlindungan maupun seberkas jaminan dalam kehidupan. (*)
Editor: Kukuh Basuki
