Mahasiswa S1 TBINDO UIN Kediri. Seorang pecinta kopi hitam tanpa gula dan penikmat sastra. Instagram @fahrzal.ensiklopedia

Animasi Animal Farm: Kartun Babi, Kelakuan Pejabat

JH. Fahrizal Nur Rizky

3 min read

Siapa sangka, menonton film animasi binatang ternak hari ini rasanya malah lebih mirip menonton dokumenter politik negeri sendiri. Lewat adaptasi animasi terbaru Animal Farm garapan sutradara Andy Serkis, kita kembali disuguhi mahakarya George Orwell yang sukses menelanjangi kelakuan para elite penguasa.

Kalau meminjam kacamata ekokritik, Greg Garrard dalam ulasannya tentang relasi satwa pernah menyinggung fenomena ini. Garrard menyebut bahwa dalam fabel, binatang sering kali sekadar dijadikan human proxies atau proksi manusia—mereka bukan ditampilkan sebagai hewan seutuhnya, melainkan sebagai cermin retak untuk memantulkan kebobrokan moral manusia itu sendiri. Dan di balik visual film ini yang terlihat seperti dongeng anak-anak, pantulan cermin itu sukses menjadi tamparan keras bagi nalar kritis kita sebagai warga negara.

Ceritanya diawali dengan sangat idealis: hewan-hewan di Peternakan Manor muak ditindas oleh manusia. Mereka memberontak, mengambil alih peternakan, dan bercita-cita membangun sistem yang adil dengan slogan utama yang gagah betul: “Semua hewan setara.”

Baca juga:

Namun, kegembiraan revolusi itu nyatanya seumur jagung. Para babi, yang merasa dirinya paling pintar, pelan-pelan membajak jalannya revolusi. Dari sinilah kita diajak melihat betapa mengerikannya permainan relasi kuasa, di mana konstitusi diakali dan wacana dipelintir demi melanggengkan kekuasaan.

Pasar Kaget, Sindrom OKB, dan Munculnya Makelar Politik

Awal kejatuhan moral para babi ini digambarkan lewat satu adegan yang sangat satir. Sebelum mereka terang-terangan bersekutu dengan manusia, para hewan sempat membuka pasar kaget untuk menjual hasil ternak. Tujuannya terdengar heroik dan masuk akal: mengumpulkan uang demi melunasi utang bank peninggalan Pak Jones agar tanah peternakan mereka tak disita oleh manusia.

Namun, ketika utang lunas dan cuan ternyata bersisa sangat banyak, sifat rakus mulai mengambil alih. Hukum awal animalisme yang melarang hewan berhubungan dengan manusia diam-diam dilanggar dan direvisi suka-suka. Para babi yang merasa jadi bos besar malah keluyuran keluar kandang, pergi ke mal, dan memborong barang-barang mewah manusia.

Nah, di momen para babi sedang mabuk kemewahan ala “Orang Kaya Baru” (OKB) inilah, karakter manusia bernama Mr. Whymper masuk menyelinap. Sebagai representasi sempurna dari sosok oligarki atau makelar politik, Whymper melihat celah dari keserakahan tersebut. Ia menggoda Napoleon (si babi pemimpin) dengan seribu satu rencana bisnis kotor yang menjanjikan kemewahan lebih. Lewat tangan Whymper-lah, Napoleon mulai merampas paksa hasil bumi peternakan—seperti telur-telur ayam—hanya demi membiayai gaya hidup elitenya.

Lebih parahnya lagi, rezim babi ini menggunakan Whymper sebagai corong propaganda. Whymper bertugas menyebarkan ilusi ke dunia luar bahwa peternakan tersebut sangat makmur dan sukses, padahal realitas di dalamnya, hewan-hewan pekerja sedang kelaparan setengah mati. Kelakuan menyewa pihak ketiga untuk menutupi kebobrokan rezim ini rasanya sangat familier dengan maraknya penggunaan buzzer dan konsultan politik di dunia nyata.

Berjalan Dua Kaki: Menjelma Penindas Baru

Puncak dari pengkhianatan revolusi ini divisualisasikan lewat satu adegan absurd yang benar-benar kurang ajar. Slogan awal perjuangan mereka sangat jelas: “Empat kaki baik, dua kaki buruk”—sebuah ketetapan bahwa manusia yang berjalan tegak adalah musuh abadi yang harus dilawan.

Namun, setelah para elite babi ini mabuk harta dan bergaul akrab dengan Mr. Whymper, mereka malah melawan kodrat. Para babi ini pelan-pelan belajar berjalan tegak dengan dua kaki, meniru persis gestur dan gaya hidup manusia yang dulu mereka kutuk setengah mati.

Adegan ini adalah metafora telak yang menampar realitas politik kita. Berapa banyak tokoh pergerakan yang dulu berteriak lantang melawan kesewenang-wenangan di jalanan, tapi ketika sudah mendapat jatah kursi kekuasaan, kelakuannya malah sama persis—atau bahkan lebih parah—dari rezim yang dulu mereka tumbangkan?

Tragedi Kuli Loyal dan Kebangkitan Nalar Kritis

Puncak kengerian sekaligus titik balik dalam film ini ada pada nasib Boxer, si kuda pekerja keras. Ia mewakili kelas pekerja alias rakyat jelata yang terlalu lugu, manut, dan percaya buta pada retorika manis pemerintah. Boxer memeras keringat sampai tubuhnya ambruk, namun balasannya? Alih-alih dirawat, ia malah diam-diam dijual oleh Napoleon ke tukang jagal.

Baca juga:

Namun, pengkhianatan brutal terhadap Boxer inilah yang akhirnya membangunkan kewarasan yang tersisa. Di sinilah animasi ini mengambil rute yang sangat menarik dan berbeda dari kekelaman aslinya, yakni dengan menyoroti karakter Lucky.

Lucky adalah babi muda yang awalnya merupakan murid Snowball, lalu diangkat menjadi semacam anak emas oleh Napoleon. Ia adalah representasi dari idealisme anak muda yang awalnya terjebak dalam sistem yang korup. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Boxer dikorbankan demi keserakahan elite, kepolosan Lucky hancur. Kewarasannya mengambil alih.

Akhir yang Melegakan: Tenggelamnya Sang Diktator

Adaptasi garapan Serkis ini menolak membiarkan kita pulang dengan perasaan pasrah. Jika narasi penguasa biasanya berakhir dengan kemenangan tirani yang absolut, film ini memilih memberikan penyelesaian yang penuh harapan, terutama bagi penonton muda.

Lucky tidak memilih diam dan menikmati fasilitas khusus di lingkaran kekuasaan. Ia justru membelot dan memimpin hewan-hewan yang tersisa untuk melawan balik rezim Napoleon. Kesewenang-wenangan pada akhirnya memicu amarah publik yang tak lagi bisa dibendung oleh retorika humas rezim atau tipu daya Mr. Whymper.

Pemberontakan kembali pecah, tirani digulingkan, dan sang diktator menemui ajalnya dengan cara mati tenggelam—sebuah metafora yang luar biasa pas untuk seorang penguasa yang pada akhirnya “karam” oleh tumpukan kebohongannya sendiri.

Pada akhirnya, Animal Farm meninggalkan pesan yang lumayan menohok sekaligus melegakan. Karya ini mengingatkan bahwa sebusuk apa pun sebuah sistem dan sekuat apa pun penjahat berlindung di balik propaganda, selalu ada ruang untuk melawan. Kewarasan dan nalar kritis, yang diwakili oleh keberanian Lucky, adalah kunci utama untuk merebut kembali kebebasan dan kesetaraan yang sesungguhnya. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

JH. Fahrizal Nur Rizky
JH. Fahrizal Nur Rizky Mahasiswa S1 TBINDO UIN Kediri. Seorang pecinta kopi hitam tanpa gula dan penikmat sastra. Instagram @fahrzal.ensiklopedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email