Akhirnya Tanah Batak Tumbang

Jakob Siringoringo

3 min read

Dalam kurun ratusan tahun, daerah Batak telah menjadi daerah penting yang memberi sumbangsih pada dunia. Hal ini misalnya dapat dilihat dari kapur barus dan kemenyan yang telah menjadi pemikat dan kebutuhan internasional. Dengan kata lain dunia telah terlibat dan menaruh perhatian serius terhadap tanah Batak.

Tanah Batak berada di lapisan barat Provinsi Sumatera Utara. Lapisan timurnya, yaitu Medan sekitarnya dan daratan tanah Melayu dari perbatasan Aceh di Utara sampai perbatasan Riau di selatan juga malah menjadi rendezvous internasional pada abad 19-20. Deli adalah kota sibuk di dunia, ketika tembakau Deli mewangi ke sudut-sudut bumi. Daerah ini mendapat julukan Parijs van Sumatra; seterkenal itu.

Perusahaan-perusahaan Eropa menyulap hutan-hutan adat di tanah adat Rakyat Penunggu sekitarnya atau Melayu umumnya menjadi perkebunan yang menghasilkan jutaan gulden yang dimulai pada 1862. Hutan-hutan adat yang rimbun tempat Masyarakat Adat Rakyat Penunggu hidup turun-temurun habis dirampas. Perampasan tanah adat ini mengubah tidak hanya lanskap, melainkan juga masa depan Melayu Deli hingga sekarang. Tentu saja perkebunan tembakau membawa kelimpahan ekonomi, namun wujudnya hanya dapat dirasakan para pengusaha dan elit kolonial serta kesultanan setempat. Kesuksesan ini jelas menginspirasi mereka untuk berekspansi sampai ke sebelah barat. Investasi pun bergerak ke tanah Batak. Artinya, masa depan Batak mulai terancam bernasib serupa dengan Medan dan sekitarnya.

Baca juga:

Rencana ekspansi semakin menguat setelah pada 1907 perjuangan rakyat Batak atas kolonial Belanda kalah yang ditandai dengan wafatnya Raja Sisingamangaraja XII. Namun ketika investasi perkebunan hendak membuldoser hutan-hutan adat Batak yang sangat sejuk itu, Batak tidak tinggal diam. Melihat hawa bengis yang sedang mengintai untuk memangsa, lantas M.H. Manullang, setidaknya sejak 1917, berdiri teguh memimpin perlawanan atas kemungkinan bencana yang akan ditimbulkan.

Singkat cerita rencana ekspansi itu tidak terwujud. Batak telah membatalkan rencana ekspansi konsesi yang tak terbayangkan sebelumnya. Di sini Manullang dan Batak secara umum pada saat itu menegaskan bahwa Batak adalah tanah adat yang tercipta hanya untuk penghidupan sebaik-baiknya dalam skema berkelanjutan. Dan jika konsesi perkebunan dibuka di tanah Batak, maka adat dan iman atau masa depan Batak pun akan tinggal hanya cerita.

Bayangkan jutaan Gulden (Dolar) akan tercipta dari konsesi jika rencana itu berjalan. Tentu saja jutaan Gulden tersebut mengalir ke Eropa. Di sisi lain, hutan-hutan adat angker Batak dengan segala kekayaannya hangus melayang dan tak menyisakan apa-apa bagi generasi Batak selanjutnya.

Padahal, para pendahulu Batak telah mengajarkan untuk menjaga tanah Batak tiap jengkalnya. Kita di-tona-kan (dititip dan diajarkan) untuk menjaganya lewat berbagai “pantangan” atau semacam tabu atau cerita rakyat atau poda dan petuah-petuah. Saking tak ternilainya harga tanah kelahiran atau bonapasogit itu, sampai-sampai hampir semuanya terekam dalam berbagai produk budaya mulai dari ende/lagu sampai turi-turian atau sejarah yang mengalir langsung lewat darah.

Hingga pada tahun 1990-an Batak tiba-tiba berubah.

Akhirnya setelah ratusan tahun seturut catatan sejarah, tanah Batak yang dipertahankan mati-matian itu akhirnya tunduk dihempas, dipukul seperti tak berdaya. Hingga kini tanah Batak ibarat manusia yang kudisan, luka kulit tapi disiksa tanpa pengobatan. Seakan Batak yang telah lama berjuang itu kini ompong dan bisu, tak garang menggigit, tak mampu bersuara.

Ya akhirnya setelah ratusan tahun, untuk pertama kalinya pada 1983, industri rayon mengoyak keanggunan tanah Batak. PT Inti Indorayon Utama (Indorayon) atau sekarang TPL akhirnya hadir merajalela seperti binatang buas yang ganas mencabik-cabik hutan-hutan adat Batak, menciptakan huru-hara.

Batak yang berubah itu telah menjungkir-balikkan segala tatanan yang telah disusun para pendahulu. Dengan entengnya Batak baru menghapus dan melanggar larangan yang telah di-poda-kan dan hendak membentuk tatanan tersendiri. Seolah kearifan pengetahuan turun-temurun dianggap tak cocok pada kepala Batak yang berisikan mata pelajaran Eropa atau Amerika.

Baca juga:

Semua ini atas nama pembangunan. Obsesinya adalah adanya bayangan infrastruktur jalan, bangunan, transportasi, sampai pasar-pasar seperti di kota-kota besar. Dengan cara ini dianggap meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan dapat mengatasi kemiskinan.

Sekadar mengaitkan bahwa kehadiran TPL dulu itu dirumorkan karena kawasan tanah Batak dikategorikan sebagai salah satu daerah miskin. Siapa yang merumorkan, yaitu para Batak baru alias elit-elit berpangkat dan berjabatan. Maka menghadirkan Indorayon adalah jawaban sederhana yang dianggap jadi malaikat penyelamat bagi orang-orang Batak yang dinilai miskin dan terbelakang itu.

Pertanyaannya apakah kampung-kampung Batak itu tidak miskin lagi sejak kedatangan perusahaan bubur kertas dan rayon itu? Adakah bukti statistik, misalnya, yang mencatat sejarah perubahan kondisi perekonomian ini, di mana tanah Batak jadi bukan peta kemiskinan lagi? Apakah ada data di Badan Pusat Statistik yang menunjukkan perubahan ini setelah kehadiran TPL?

Gelombang protes terhadap perusahaan yang mayoritas sahamnya dipegang Sukanto Tanoto ini adalah bukti bahwa Batak tidak menjadi sejahtera. Perlawanan tidak sekarang ini saja terjadi. Lihat ke tahun 1998 atau bahkan sejak awal pendiriannya sudah banyak pertentangan bukan karena orang Batak itu norak tidak mau menerima pembangunan. Jadi jangan sembarangan cap seolah-olah Batak itu tidak maju-maju karena tidak menerima pembangunan seperti hadirnya pabrik TPL.

Kerugian yang ditimbulkan perusahaan ini pada dasarnya justru lebih besar. Dalam konteks umum, kehadiran TPL malah jadi malapetaka. Ia seperti raksasa dari neraka yang datang menghukum kebebalan kita Batak terhadap acuhnya kita terhadap “poda na tur” yang telah lama diwariskan Oppungta Sijolojolo Tubu. Akibatnya, dalam kurun 30 tahun lebih sampai sekarang, perusahaan ini terus berbuat keburukan, mengkriminalisasi sebagian dari diri kita, sebagian dari tondong kita, sebagian dari dongan samarga kita, sebagian dongan sahuria kita, sebagian dongan sabutuha kita, sebagian dongan naso sahaporseaon.

Apa yang telah kita panen dari kehadiran TPL selama ini, selain kehancuran hutan-hutan adat kita, selain perpecahan dengan keluarga dekat maupun jauh kita, selain kesalahpahaman atau miskomunikasi antarsesama kita, selain pencitraan, selain diamnya para kepala daerah sekawasan Danau Toba?

Berita baiknya Ephorus HKBP Victor Tinambunan mengangkat suara kenabian yaitu dengan tegas menyerukan untuk menutup PT. TPL, Tbk. Kalau di masa M.H. Manullang perkebunan belum sampai beroperasi, sebaliknya dimasa Tinambunan tanah Batak telah menjadi daerah rawan bencana sekaligus tempat kriminalisasi sehari-hari kita dengar.

Masyarakat Adat Batak mengalami kriminalisasi bukan karena mereka sudah hidup di perkotaan. Ironisnya, mereka dikriminalisasi saat mereka tengah berpeluh keringat mengayun cangkulnya ke tanah di mana mereka meneruskan praktik bertani yang telah menghidupinya selama ratusan atau ribuan tahun. Mereka dikriminalisasi seperti perampok atau penjahat di atas ladangnya sendiri.

Perjuangan bersama Ephorus ini tidak boleh sia-sia. Batak harus bangkit dari tumbangnya. Jaga adat, jaga iman, jaga Batak. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Jakob Siringoringo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email