Meraba Jakarta
21 kilometer menuju Jakarta
awal mula malam
di kota ini
berisi kesibukan pulang kerja
lalu lintas berisi angan-angan seputar bakso & mi ayam
lalu keringat lengket di baju kemeja
mengunci ingatan peran seorang bapak
hati-hati di depan ada polisi
menerpa udara busuk
& lampu-lampu LED,
aku selalu mengingat cintamu
meski hampir tengah malam.
rasanya seperti baru kemarin
saat kita bertemu di selasar gedung baru itu
ada penutupan jalan di depan
tapi memang beginilah, perasaan itu lagi-lagi datang
dengan melihatmu menebar cinta
sepanjang jalan & selama Karolina kita dengarkan
(J, 2026)
–
Di Pantai
telah lama semenjak kita ke pantai
rasanya selalu seperti terjadi setiap hari
kaumembawa kedamaian dan mengajariku
untuk berhenti & selalu
kauajari aku untuk tidak pernah bersembunyi
badanmu menampung penyakit
& cinta yang selalu kecewa
lalu asap rokok yang kauembuskan itu
menjadi puing-puing matahari
di bibir pantai
kaumelepaskan gundah yang bermunculan
sepanjang kita berkendara–sepanjang hidupmu
lalu membeku di atas pasir Pelabuhan Ratu
melihat titik terjauh laut &
melihat horizon bahwa kita berdua
pada dasarnya adalah bermula dari sepasang kesepian
(J, 2026)
–
Di Bulan September
sudah lama kugendong kesepianku
di bulan september,
& sementara aku habiskan kegundahan
yang menetap di tubuhmu
waktu-waktu berlompatan
& kau paksa
menyeret kaki-kaki kecil itu
mengarungi dunia
suaramu yang tertahan sinus
mengisi ruang kamar kost
& mengaburkan aroma masa lalu
yang kau miliki
lalu kau percaya pada kisahku,
bahwa cinta bukanlah dongeng yang diciptakan
orang-orang putus asa
(J, 2026)
–
Awal
Aku tak pernah melihat ini dalam mimpi
kita bermula di festival lalu memaknai
wajah kesenian kontemporer
kau menangkapku di lantai fkip
dengan tawa yang tertahan
yang cukup untuk membuat Rapsodi
kehilangan keceriaannya
& begitulah,
cinta menerjang & kabut rindu,
menyelimuti & menutupi kesepian
& kegagalan-kegagalan orang tua
(J, 2026)
–
Di Ruang Tunggu
kubaca dua puisi yang kau buat
saat kau berada di ruang operasi,
sebelumnya kulihat kau seperti
satu tulip di tengah belantara peralatan medis
aku terhisap di dalam ruang tunggu
suara detik jam kura-kura
membawa memori kita berdua
kuingat-ingat kembali bentuk badanmu
kuingat-ingat kembali wajah kecil itu,
suaramu, dan harapan-harapan yang kita bicarakan
di museum, taman kota, mal, & depan pintu kostmu
kekasihku, di ruangan ini
kubaca dua puisi yang kau buat
sambil merapal doa keselamatan
(J, 2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
