Awalnya aku kira The Lost Library karya Rebecca Stead dan Wendy Mass hanya akan menjadi cerita misteri ringan tentang seorang anak yang menemukan sebuah perpustakaan kecil. Tapi ternyata, dari sebuah lemari sederhana di bawah pohon, Evan justru dibawa untuk menguak cerita lama yang selama ini tersembunyi di kota tempat tinggalnya.
Evan adalah anak laki-laki berusia 11 tahun yang tinggal di Martinville. Kota kecil yang sekilas terlihat tenang, tapi ternyata menyimpan sejarah yang cukup kelam. Suatu hari, saat berjalan kaki menuju sekolah, Evan menemukan sebuah perpustakaan gratis berbentuk lemari kecil di bawah pohon rindang, tepat di seberang Rumah Sejarah. Karena penasaran, ia mulai melihat-lihat buku yang ada di dalamnya.
Salah satu buku yang menarik perhatiannya berjudul Cara Menulis Novel Misteri. Setelah membacanya, Evan mengetahui bahwa buku tersebut pernah dipinjam oleh H.G. Higgins. Yang membuatnya semakin penasaran, buku itu ternyata dipinjam jauh sebelum Higgins dikenal sebagai seorang penulis. Tak hanya menemukan buku, Evan juga menemukan sebuah foto misterius yang tidak diketahui siapa pemiliknya.
Awalnya mungkin terlihat seperti foto biasa. Tapi, ketika Evan menanyakannya kepada ayah dan ibunya, keduanya justru tidak memberikan jawaban. Nah, dari sini aku mulai merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. Kenapa mereka tidak mau menjelaskan? Apa sebenarnya hubungan foto itu dengan masa lalu kota mereka?
Baca juga:
- Perpustakaan Gereja Batavia: Literasi di Hindia Belanda
- Mengenang Perpustakaan Kampus di Pangkuan Google Scholar
Rasa penasaran Evan semakin besar ketika dalam perjalanan pulang, bus sekolahnya melewati Rumah Sejarah. Wali kelas mereka kemudian bercerita bahwa di samping tempat tersebut dulunya berdiri sebuah perpustakaan legendaris yang menjadi kebanggaan kota. Sayangnya, perpustakaan itu telah habis terbakar dalam sebuah tragedi di masa lalu.
Mendengar cerita tersebut, Evan tentu semakin penasaran. Ia akhirnya mengajak sahabatnya, Rafe, untuk mencari tahu sendiri lokasi tempat foto itu diambil. Kalau dilihat dari sisi seorang anak, menurutku hal ini cukup masuk akal. Anak-anak masih berada dalam tahap bertumbuh dan rasa ingin tahunya juga tinggi. Evan tidak langsung menerima begitu saja apa yang dikatakan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Justru ketika mereka memilih untuk membisu, Evan semakin ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dari sini, Evan mulai bertindak seperti seorang detektif kecil. Ia mencari petunjuk, menghubungkan satu hal dengan hal lainnya, sampai akhirnya menemukan sebuah rahasia yang bahkan berkaitan dengan keluarganya sendiri.
Rahasia tersebut kemudian membawa Evan pada sebuah plot twist yang cukup mengejutkan. Ia mulai menemukan hubungan antara H.G. Higgins, perpustakaan lama, dan keluarganya sendiri. Aku bisa bayangin bagaimana kagetnya Evan ketika mengetahui bahwa ternyata ada banyak hal tentang masa lalu keluarganya yang selama ini tidak ia ketahui.
Evan kemudian mengetahui bahwa ayahnya pernah menjadi pemagang di perpustakaan lama yang terbakar tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi, ayahnya bahkan sempat menjadi tersangka utama dalam kebakaran itu. Walaupun begitu, tuduhan tersebut tidak pernah terbukti karena tidak adanya bukti yang cukup. Dari sini, misterinya jadi terasa semakin dekat dengan kehidupan Evan sendiri. Bukan lagi sekadar mencari tahu apa yang terjadi dengan perpustakaan, tapi juga tentang keluarganya. Awalnya aku kira kebakaran itu memang ada hubungannya dengan H.G. Higgins. Tapi ternyata aku salah. Ada penyebab lain yang sama sekali nggak aku duga sebelumnya.
Di sisi lain, Evan juga mulai menemukan petunjuk lain yang membuat misteri kebakaran tersebut semakin menarik. Ada seseorang yang selama ini menyimpan rasa bersalah dan cerita dari masa lalu yang belum pernah terungkap. Perlahan, semua petunjuk itu mulai terhubung dan memberikan jawaban yang mungkin tidak pernah Evan bayangkan sebelumnya.
Menurutku, bagian akhir ini menarik kalau dilihat dari sisi cerita anak. Konfliknya memang berhubungan dengan masa lalu, tetapi penyelesaiannya tidak membuat kita harus menunjuk satu orang sebagai penjahat. Justru, kesalahpahaman yang sudah berlangsung bertahun-tahun akhirnya terungkap dan membuat Evan bisa melihat ayahnya dari sisi yang berbeda.
Yang aku suka, cerita ini juga nggak berhenti hanya pada misterinya. Ada banyak hal yang akhirnya mulai terungkap, terutama tentang masa lalu yang selama ini disimpan oleh orang-orang di sekitar Evan. Dari sini, aku merasa cerita ini juga menunjukkan kalau kejujuran memang nggak selalu mudah untuk disampaikan. Kadang ada hal-hal yang sengaja disimpan karena seseorang merasa takut, bersalah, atau belum siap menghadapi masa lalu.
Selain itu, buku yang dibacanya juga punya peran cukup besar dalam perjalanan Evan. Awalnya ia hanya penasaran dengan sebuah buku dan foto, tapi dari situlah ia justru menemukan cerita besar tentang masa lalu kotanya.
Baca juga:
Menurutku, ini salah satu hal yang menarik dari The Lost Library. Membaca ini ternyata bukan hanya soal mengetahui isi sebuah perpustakaan, tetapi juga bisa membawa kita menemukan cerita lain yang sebelumnya nggak pernah kita bayangkan.
Pada akhirnya, cerita ini juga mengajarkan kita untuk berdamai dengan masa lalu. Nggak semua hal yang terjadi harus terus disesali, apalagi ketika kebenarannya sudah mulai terungkap. Menurutku, The Lost Library nggak hanya cocok untuk para remaja, tapi juga untuk orang dewasa yang menyukai cerita misteri sederhana dengan sisi yang tetap hangat. Karena dari sebuah perpustakaan kecil saja, ternyata kita bisa menemukan cerita yang jauh lebih besar. (*)
Editor: Kukuh Basuki
