Mari bersikap jujur bahwa di seluruh bentangan kosmos ini, tidak ada satu pun entitas yang “sadar” selain manusia. Di seluruh semesta yang terbentang luas, tidak ada makhluk berkesadaran lain selain itu. Manusia adalah satu-satunya entitas yang terjaga di dalam teater kegelapan ini.
Senada dengan itu, Jean-Paul Sartre dalam Being and Nothingness (1943) menamakan kondisi ini dengan istilah “Manusia dikutuk untuk bebas” (condemned to be free). Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tetapi begitu dilemparkan ke dunia ini, kita dipaksa memikul beban untuk menciptakan makna di atas kanvas semesta yang absurd dan bisu. Fenomena ini disebut “Silentium Universi” (Kesunyian Alam Semesta), yakni sebuah realitas mengerikan, bahwa sejauh mata teleskop memandang, mereka sendirian.
Bahkan AI, AI tidak punya kesadaran. AI tidak tahu rasanya kecemasan yang menggigit di pukul tiga pagi, tidak mengerti kenangan yang traumatis, dan tidak pernah bergetar menghadapi kepastian liang lahat. AI hanyalah simulasi tanpa jiwa dengan memproses kata “kematian” tanpa pernah merasakan dinginnya ketakutan akan ketiadaan.
Baca juga:
Namun, eksklusivitas menjadi satu-satunya makhluk yang tahu bahwa ia tahu adalah sebuah privilese sekaligus kutukan yang dibayar dengan harga yang teramat mahal. Kita mengalami apa yang disebut oleh filsuf Peter Wessel Zapffe dalam esai terkenalnya, The Last Messiah (1933), sebagai “Tragedi Biologis”. Zapffe berargumen bahwa manusia adalah spesies yang berevolusi terlalu jauh (over-evolved). Kita diberi senjata berupa kesadaran yang terlalu tajam, yang justru merusak pelindung alami kita dan membuat kita menjadi satu-satunya hewan yang menangisi takdirnya sendiri.
Filsuf Søren Kierkegaard dalam bukunya, The Concept of Anxiety (1844) merumuskan harga mahal ini dengan presisi yang brutal. Bagi Kierkegaard, kecemasan (angst) merupakan konsekuensi ontologis dari kebebasan. Ketika manusia sadar bahwa ia berbeda dari alam yang mekanis. Artinya bila manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan maknanya sendiri di hadapan jurang kefanaan, maka manusia akan diserang oleh “the dizziness of freedom” (pusingnya kebebasan). Ini adalah sensasi vertigo psikologis saat kita berdiri di tepi tebing eksistensi, menyadari bahwa tidak ada pagar pembatas; kita bebas memilih, dan kita sepenuhnya bertanggung jawab atas kejatuhan kita sendiri.
Teks suci merekam dengan sangat halus bagaimana alam semesta ketakutan ketika beban kesadaran dan kehendak bebas ini pertama kali ditawarkan. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 72:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
Langit yang megah, bumi yang membentang, dan gunung yang kokoh memilih ada tanpa perlu mengerti arti keberadaan dengan patuh sepenuhnya tanpa nalar. Mereka mundur karena tahu bobot dari “amanat” eksistensial (The Existential Burden) itu terlalu menghancurkan. Hanya manusia, dengan kelancangan yang hampir absurd yang melangkah maju, merebut amanat itu, dan bersedia menanggung kutukannya.
Lalu, apa akhir dari semua ini? Akhirnya adalah sebuah kepasrahan. Dalam bukunya The Conspiracy Against the Human Race (2010), filsuf Thomas Ligotti menyebut bahwa ending terbaik bagi manusia adalah menyadari bahwa kesadaran ini adalah sebuah kecelakaan genetika. Kita adalah mangsa dari pikiran kita sendiri. Manusia sering kali mengakhirinya dengan menciptakan “Proyek Keabadian” (Immortality Projects), seperti yang dirumuskan Ernest Becker dalam buku pemenang Pulitzer, The Denial of Death (1973). Karena manusia tahu ia akan membusuk di liang lahat, kesadaran memaksanya untuk menolak dilupakan.
Ending-nya adalah penjinakan atas ketakutan itu sendiri. Kita membangun gedung pencakar langit, merumuskan teori, menulis buku, menciptakan AI, dan melahirkan karya seni. Semua itu adalah jeritan bawah sadar manusia yang berbunyi: “Tolong ingat bahwa aku pernah ada di sini!” Kita adalah makhluk rapuh yang sekarat, namun ending kita dihiasi oleh kepalan tangan yang menantang waktu.
Baca juga:
Maka terjadilah sebuah plot twist kosmik yang paling puitis pula. Manusia menjadi menyadari bahwa dia merupakan semesta itu sendiri.
Meminjam gagasan Carl Sagan dalam Cosmos (1980), “Kita adalah cara bagi kosmos untuk mengenal dirinya sendiri.” Atom di dalam tubuh kita adalah abu dari ledakan bintang miliaran tahun lalu. Langit, bumi, dan gunung menolak amanat kesadaran karena mereka memilih menjadi tubuh dari semesta. Sementara manusia memilih menjadi matanya. Kita adalah organ sensorik dari kosmos yang tak berhingga. Kita mati, kita fana, tetapi melalui kekonyolan dan kelancangan kita, semesta yang buta ini akhirnya bisa melihat keindahannya sendiri. (*)
Editor: Kukuh Basuki
