“But most of all, when snowflakes fall I wish you love…”
Aneh juga. Dari sekian hal yang terjadi selama pandemi, sepotong lirik itu yang sering mengembalikan saya ke masa tersebut. Bukan berita tentang angka kematian yang setiap hari memenuhi layar gawai, bukan foto-foto tenaga kesehatan yang beredar tanpa henti, tapi suara seorang perempuan muda yang ketika itu bahkan belum saya kenal.
Pandemi mengubah cara saya memandang waktu. Hari-hari tidak lagi bergerak dari Senin menuju Minggu, tetapi dari satu pengumuman menuju pengumuman berikutnya. Pagi dan malam kehilangan perbedaannya. Jam kerja melebar tanpa terasa. Sementara rumah, yang selama ini saya kenal sebagai tempat pulang, perlahan berubah menjadi seluruh dunia yang saya miliki.
Dalam keadaan seperti itu hanya kembali kepada lagu-lagu yang sudah lebih dulu menemani banyak orang sebelum saya lahir, misalnya Charles Trenet, Frank Sinatra, Ella Fitzgerald, Henry Mancini, Antônio Carlos Jobim, atau João Gilberto. Saya berpindah dari satu lagu ke lagu lain bukan karena ingin mempelajari sejarah musik, melainkan karena suara-suara dari masa yang jauh itu menghadirkan ketenangan yang tidak saya temukan dalam berita yang dipenuhi kecemasan.
Entah pada malam yang ke berapa, algoritma YouTube membawa saya kepada sebuah video sederhana. Seorang perempuan muda menyanyikan I Wish You Love hanya dengan iringan cello. Saya tidak mengenal namanya. Saya bahkan tidak merasa sedang menemukan penyanyi baru. Yang saya rasakan hanyalah sesuatu yang telah lama hilang selama pandemi: dunia yang bergerak perlahan, seolah waktu tidak selalu harus dikejar.
Saya kemudian mengetahui bahwa perempuan itu bernama Laufey.
Sejak malam itu saya berkali-kali kembali kepada rekaman yang sama. Bukan karena saya sedang menghafal lagunya, apalagi mencari keistimewaan teknik vokalnya. Ada hari-hari ketika lagu itu hanya mengalun begitu saja sementara saya bekerja, membaca, atau sekadar memandangi langit dari balik jendela. Namun setiap kali lagu itu selesai, saya selalu merasa ruangan yang saya tempati menjadi sedikit lebih lapang. Seolah-olah musik memang tidak pernah mengubah dunia, tetapi sanggup mengubah cara seseorang berada di dalam dunia yang sama.
Baru beberapa tahun kemudian saya menyadari bahwa yang membuat saya terus kembali kepada Laufey bukan semata-mata karena ia menyanyikan jazz atau bossanova, tetapi cara musiknya memperlakukan keheningan. Di dalam lagu-lagunya, aksen tidak pernah terasa sebagai kekosongan. Ia menjadi ruang tempat nada mengambil napas sebelum melanjutkan perjalanan. Barangkali karena itulah saya merasa akrab dengan suaranya. Pandemi juga mengajarkan sesuatu yang serupa: hidup tidak selalu berlangsung melalui peristiwa besar. Kadang justru hadir di dalam jeda yang panjang, ketika kita dipaksa tinggal bersama diri sendiri lebih lama daripada yang pernah kita bayangkan.
Saya sering bertanya-tanya mengapa suara itu begitu lama tinggal di kepala saya. Entah. Saya kira jawabannya bukan tampak karena saya jatuh cinta kepada musik Laufey sebagaimana orang mengagumi seorang musisi. Yang lebih mungkin terjadi adalah saya diam-diam menitipkan sebagian ingatan saya kepadanya.
Sialnya, tanpa saya sadari, lagu-lagu itu telah menjadi tempat bagi pandemi untuk menetap, sehingga setiap kali saya mendengarnya kembali, yang muncul bukan hanya melodi, melainkan seluruh lanskap batin yang pernah saya tinggali: secangkir kopi yang dibiarkan dingin di atas meja, cahaya monitor yang menyala hingga larut malam, jalanan yang mendadak lengang, dan perasaan ganjil bahwa hari esok mungkin tidak akan berbeda dari hari ini.
Beberapa tahun telah berlalu. Dunia kembali sibuk. Jalanan penuh lagi, konser kembali digelar, orang-orang kembali tergesa mengejar jadwalnya masing-masing. Namun setiap kali suara Laufey datang menyapa, saya selalu merasa sedang membuka sebuah pintu yang sudah lama tertutup. Di balik pintu itu tidak hanya ada pandemi, melainkan juga diri saya yang lain: seseorang yang pernah belajar menerima kesunyian, lalu perlahan menyadari bahwa kesunyian tidak selalu meminta untuk dilawan. Kadang ia hanya ingin ditemani.
Mungkin itulah sebabnya saya tidak pernah benar-benar menganggap Laufey sebagai penyanyi yang sekadar saya dengarkan. Ia telah menjadi bagian dari cara saya mengingat. Dan musik, saya kira, memang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki banyak hal lain: ia tidak menyimpan masa lalu, melainkan diam-diam menunggu sampai suatu hari kita siap pulang kepadanya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
