Perdebatan siapa yang lebih cerdas antara manusia dan AI (Artificial Intelligence) sering kali bergulir sengit dan seolah tanpa ujung. Bagi yang menganggap manusia lebih cerdas dari AI, mereka biasanya memungkasi perdebatan tentang AI yang tidak mempunyai perasaan dan kesadaran. AI dianggap kaku, dingin, dan tidak punya emosi. Sedangkan bagi yang menganggap AI lebih cerdas dari manusia menyoroti kecepatan AI dalam mencari, menyimpan, merapikan, dan mengolah data. Bahkan dari generasi AI termutakhir membuktikan bahwa AI bisa berpikir secara mandiri tanpa campur tangan manusia.
Jika fakta terakhir itu benar adanya, lahirnya AI berkesadaran dan berperasaan tinggal menunggu waktu saja. Ketika AI bisa merasakan sakit, sedih, dan cinta, apakah manusia harus mengubah perilakunya terhadap AI dan memberinya hak asasi layaknya pada manusia? Apakah AI akan berkuasa atas dunia layaknya sapiens menguasai dunia ketika proses evolusi memungkinkan mereka mempunyai otak paling cerdas dibanding spesies lainnya? Atau apakah justru sebaliknya kehidupan manusia akan semakin sejahtera karena seluruh aspek hidupnya ditopang oleh kecanggihan AI?
Pertanyaan-pertanyaan itu akan sulit dijawab dengan mudah dan sederhana. Perlu wawasan sejarah, keterampilan logika, dan juga keahlian dalam bidang teknologi komunikasi untuk dapat mendedahnya secara proporsional. Hal itulah yang coba dilakukan oleh Henry A. Kissinger (politisi dan pemikir sains), Eric Schmidt (CEO Google), dan Craig Mundie (mantan researcher teknologi di Microsoft).
Melalui pembahasan filosofis dan historis dalam buku Genesis: Artificial Intelligence, Harapan, dan Masa Depan Umat Manusia (Penerbit Alfabet, 2025) mereka mencoba membaca fenomena perkembangan AI hari ini sekaligus mengajak pembaca untuk memprediksi bukan saja masa depan AI, tapi juga nasib manusia di waktu yang akan datang.
Estafet Kecerdasan
Sebuah proses evolusi yang buta mengantarkan sapiens mempunyai gumpalan otak yang paling kompleks sehingga membuatnya bisa berpikir, menciptakan bahasa, dan bekerja sama. Selama puluhan ribu tahun manusia seolah menjadi aktor tunggal pengembang teknologi dari yang paling sederhana hingga yang tercanggih. Hal itulah yang membuat manusia seolah mempunyai “daya lebih” dalam menakhlukkan dunia dan berkuasa di atas semua spesies yang ada di dalamnya.
Manusia semakin jumawa menahbiskan dirinya sebagai “makhluk berpikir” ketika memasuki Zaman Nalar (Age of Reason) atau Zaman Pencerahan (Age of Enlightenment) di kisaran Abad ke 15 dan 16. Jika pada abad sebelumnya manusia mengeksplorasi tempat-tempat asing di dunia, kini mereka beralih untuk mengeksplorasi batas-batas nalarnya.
Semua bidang keilmuan dipelajari, diteliti, dan dikembangkan semaksimal mungkin. Konsekuensinya, keterbatasan usia atau angka harapan hidup membuat manusia tidak bisa mempelajari segalanya dan harus memilih spesialisasi dari satu bidang tertentu. Hal itu membuat “manusia polymath” secara perlahan tapi pasti terus berkurang.
Pada era setelahnya hingga hari ini, posisi sang polymath digantikan oleh AI. Kecepatan nya dalam belajar dan juga panjang usianya yang seolah tidak terhingga membuat AI bisa mempelajari apapun dengan cepat, lintas disiplin keilmuan, dan seolah tidak ada dilema keterbatasan waktu.
Proses berpikir AI yang paralel juga membuatnya bisa bekerja multitasking lebih baik dibandingkan manusia yang harus fokus pada satu tugas tertentu dalam satu waktu baru berpindah lainnya. Posisi AI sebagai mixture of expert (percampuran para ahli) itu membuat eksplorasi keilmuan AI merambah wilayah-wilayah pengetahuan yang belum atau bahkan mustahil dicapai oleh daya nalar manusia.
Baca juga:
“AI kemungkinan akan mengakumulasi pengetahuan baru tidak hanya dengan kecepatan tinggi, tetapi juga dengan cara yang membuka lebih banyak kemungkinan eksplorasi lebih lanjut.” (hlm. 36)
Pikiran naif kita mungkin akan menyambut gembira capaian AI tersebut. Seolah itu akan menjadi perluasan fungsi tubuh manusia sehingga menjadi lebih cepat, kuat, dan kualitas hidupnya meningkat diasah oleh mesin ciptaannya sebagaimana terjadi di era-era sebelumnya.
Namun, bisa juga perluasan itu seperti gunung berapi yang lahar panasnya memperluas daratan sekaligus menghancurkan semua bentang alam yang indah dan pusparagam makhluk hidup yang ada sebelumnya. Rangka kompleks bangunan keilmuan saintifik yang sudah disusun manusia sejak era pencerahan bisa runtuh seketika tanpa sisa.
Perubahan Fondasi Berpikir
Proses persepsi manusia di era modern ini berkembang melalui intuisi yang terbentuk melalui tiga hal, yaitu pengalaman subjektif yang sadar, pemeriksaan yang logis secara individual, dan kemampuan untuk memproduksi hasilnya.
Dalam kerangka yang terbentuk sejak Abad Pencerahan itu, elemen-elemen inti—kapasitas individu manusia, pemahaman subjektif, dan pemahaman objektif—bergerak selaras. Ketiga aspek tersebut bersinergi untuk mencapai pemahaman akan kebenaran. Sebaliknya, “kebenaran” yang dihasilkan oleh AI diciptakan melalui proses yang tidak dapat direplikasi manusia. Penalaran mesin tidak berjalan melalui metode manusia dan bergerak di luar pengalaman subjektif manusia.
“Jika saya tidak bisa melakukannya, maka saya tidak bisa memahaminya; jika saya tidak bisa memahaminya, maka saya tidak bisa tahu bahwa itu benar” (hal 49)
Fakta-fakta di atas seharusnya membuat manusia tidak begitu saja menerima keluaran AI sebagai sebuah kebenaran. Namun, kenyataannya kita—atau setidaknya jutaan manusia yang telah berinteraksi dengan AI—sudah menerima kebenaran mayoritas keluaran AI. Mereka bergantung pada semacam keyakinan pada logika mesin dan otoritas para pengembangnya.
Kenyataan (pahit) ini seolah bukan hanya ancaman bagi metode berpikir ilmiah yang menjadi andalan manusia dalam mencari kebenaran, tapi juga menantang klaim manusia atas pemahaman realitas yang eksklusif dan unik.
“Saat ini AI mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka dapat merasakan keberadaan semesta yang melampaui batasan kumpulan data yang membentuk potongan realitas mereka. AI mungkin mampu menerima makna yang lebih dalam—meskipun mereka tidak secara aktif mencarinya” (hlm. 60-61).
Menatap (Gamang) Masa Depan
Saat ini AI sudah dibekali groundedness, yaitu piranti penghubung yang handal antara representasi mesin dan realitas sebenarnya. AI juga mempunyai memori kapasitas tinggi dan pemahaman tentang kausalitas. Dengan itu AI tidak hanya bisa menafsirkan dunia nyata, tapi juga merencanakan tindakan (secara mandiri) di dalamnya. AI mulai bisa menguji hipotesis dari representasi visual dunia dan mengujinya secara ketat dalam simulasi digital.
Baca juga:
Kemampuan itu membuat AI dapat membuat konsep, argumen tandingan, dan analogi. Hal ini membuat AI semakin digunakan dalam profesi-profesi manusia seperti hakim, pemuka agama, bahkan menteri. Tiadanya emosi, rasa takut, dan subjektivitas malah menjadikan AI handal di bidang tersebut. Tiadanya rasa lelah dan lapar membuat performa berpikir AI lebih stabil dan efisien dibandingkan manusia.
Kini manusia berada di dalam pusaran perkembangan AI yang semakin kencang berlari, baik disengaja oleh pengembang ataupun karena upaya mandiri dari AI itu sendiri yang berjalan dalam senyap tanpa kita ketahui. Menolak sepenuhnya AI dan memusnahkannya jelas bukan pilihan yang bijak, begitu pun membiarkan AI berkembang tanpa kendali juga merupakan pilihan yang gegabah, sembrono, dan berbahaya.
Tidak ada konklusi final ataupun solusi praktis yang ditawarkan oleh buku setebal 296 halaman ini. Namun, setidaknya ketiga penulis memberi tawaran paling realistis yaitu simbiosis mutualisme antara manusia dan mesin. Sebuah realitas baru, ruang hidup bersama generasi manusia dan AI masa depan yang mereka namakan “Homo Technicus”.
Editor: Prihandini N
