Seorang awam yang senang menuliskan keresahannya untuk berbagi dan belajar bersama tentang permasalahan, relasi, komunikasi, dan dinamika sosial di masyarakat

Melihat Kepentingan Politik di Balik Bonus Demografi

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

3 min read

Bonus demografi sering dipromosikan sebagai tiket emas menuju kemajuan. Pemerintah menyebutnya peluang. Ekonom menyebutnya momentum. Politisi menjadikannya bahan pidato. Media menjadikannya judul berita. Semua terdengar indah. Masalahnya, bonus demografi bukan otomatis menjadi bonus kesejahteraan. Bonus demografi hanyalah kondisi. Bukan hasil akhir. Bukan jaminan. Bukan keajaiban.

Jumlah penduduk usia produktif yang besar memang bisa menjadi kekuatan ekonomi. Namun jumlah manusia yang besar juga bisa berubah menjadi sumber masalah baru. Semuanya tergantung arah kebijakan yang dibuat. Di sinilah persoalannya mulai terlihat. Bonus demografi sering berubah menjadi bonus kompromi kebijakan, komoditas politik, dan ladang monopoli bisnis.

Bonus Demografi dan Bonus Kompromi Kebijakan

Banyak negara gagal memanfaatkan bonus demografi. Penyebabnya bukan kekurangan tenaga kerja maupun anak muda. Penyebabnya adalah kompromi kebijakan yang terlalu besar. Pemerintah sering berbicara tentang kualitas sumber daya manusia. Namun kebijakan yang dibuat justru sering bertabrakan dengan tujuan tersebut.

Baca juga:

Pendidikan diminta menghasilkan lulusan unggul. Anggaran pendidikan sering dipotong efektivitasnya oleh birokrasi yang rumit. Mahasiswa diminta inovatif. Dunia kerja justru lebih sering meminta pengalaman daripada potensi. Anak muda diminta kreatif. Regulasi usaha kecil sering membuat mereka kesulitan berkembang. Negara berbicara tentang investasi manusia. Kebijakan yang lahir sering lebih fokus pada angka pertumbuhan ekonomi. Akibatnya muncul paradoks.

Jumlah usia produktif meningkat. Kualitas kesempatan tidak ikut meningkat. Jumlah pencari kerja bertambah. Lapangan kerja berkualitas tumbuh lambat. Jumlah sarjana naik. Pengangguran terdidik ikut naik. Bonus demografi akhirnya berubah menjadi bonus kompromi kebijakan. Semua pihak terlihat bekerja. Semua pihak terlihat serius. Namun hasil akhirnya sering setengah hati. Tidak ada keberanian untuk menyelesaikan akar masalah secara menyeluruh.

Bonus Demografi Sebagai Komoditas Politik

Bonus demografi juga sangat menarik bagi dunia politik. Alasannya sederhana. Kelompok usia muda adalah pemilih terbesar. Mereka adalah pasar politik yang sangat menguntungkan. Setiap menjelang pemilu, bonus demografi selalu muncul dalam pidato politik. Anak muda dijanjikan lapangan kerja. Anak muda dijanjikan pelatihan. Anak muda dijanjikan bantuan usaha. Anak muda dijanjikan masa depan.

Setelah pemilu selesai, banyak janji menghilang bersama baliho kampanye. Yang tersisa hanyalah slogan. Anak muda sering diposisikan sebagai angka statistik. Bukan sebagai manusia yang memiliki kebutuhan nyata. Mereka dijadikan simbol kemajuan. Mereka dijadikan bahan presentasi. Mereka dijadikan alat legitimasi. Mereka dijadikan bukti keberhasilan.

Padahal realitasnya berbeda. Masih banyak lulusan yang kesulitan mencari pekerjaan. Masih banyak pekerja muda yang menerima upah rendah. Masih banyak tenaga kerja yang terjebak kontrak jangka pendek. Masih banyak pekerja yang tidak memiliki kepastian karier.

Bonus demografi akhirnya menjadi komoditas politik. Semakin besar jumlah pemilih muda, semakin besar nilainya di mata politisi. Bukan karena kepentingan mereka benar-benar diperjuangkan. Melainkan karena suara mereka dibutuhkan. Politik akhirnya lebih sibuk mengelola persepsi daripada menyelesaikan persoalan.

Bonus Demografi dan Monopoli Bisnis

Ada sisi lain yang jarang dibahas. Bonus demografi juga menjadi keuntungan besar bagi kelompok bisnis tertentu. Jumlah penduduk produktif yang besar menciptakan dua hal sekaligus. Pasar yang besar. Tenaga kerja yang melimpah. Dua hal ini sangat disukai dunia bisnis. Perusahaan mendapatkan konsumen dalam jumlah besar. Perusahaan juga mendapatkan pasokan tenaga kerja yang terus tersedia.

Dalam kondisi tertentu, situasi ini menciptakan ketimpangan kekuatan. Jumlah pencari kerja lebih banyak daripada pekerjaan yang tersedia. Posisi tawar pekerja melemah. Perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk menentukan syarat. Persaingan antarpekerja menjadi semakin ketat. Banyak orang akhirnya menerima pekerjaan apa saja demi bertahan hidup.

Monopoli tidak selalu berbentuk penguasaan produk. Monopoli juga bisa berbentuk penguasaan kesempatan. Segelintir perusahaan menguasai pasar. Segelintir perusahaan menguasai distribusi. Segelintir perusahaan menguasai teknologi. Segelintir perusahaan menguasai data.

Pada saat yang sama, jutaan pekerja berebut ruang yang semakin sempit. Bonus demografi yang seharusnya memperkuat masyarakat justru memperkuat kelompok yang sudah kuat sejak awal. Keuntungan ekonomi terkonsentrasi. Kekayaan terkonsentrasi. Kekuasaan pasar terkonsentrasi. Sementara tenaga kerja tetap berada dalam posisi yang rentan.

Ketika Bonus Demografi Menjadi Beban Demografi

Ada satu fakta yang sering dihindari. Bonus demografi memiliki batas waktu. Jendela peluang tidak terbuka selamanya. Penduduk usia produktif akan menua. Jika kesempatan tidak dimanfaatkan sekarang, biaya sosial akan muncul di masa depan. Negara akan menghadapi jumlah lansia yang besar. Sistem kesehatan dan pensiun akan terbebani. Produktivitas ekonomi akan menurun. Masalah yang gagal diselesaikan hari ini akan menjadi tagihan generasi berikutnya.

Karena itu, bonus demografi bukan sekadar soal jumlah penduduk, melainkan juga ujian kualitas kebijakan untuk melihat apakah negara akan berhasil memanfaatkannya membangun pendidikan yang kuat, memperbaiki kualitas pekerjaan, menciptakan industri bernilai tinggi, memperkuat usaha kecil dan menengah, mengurangi ketimpangan ekonomi. Tanpa langkah tersebut, bonus demografi hanya menjadi slogan pembangunan.

Akar Masalah yang Sering Diabaikan

Pembahasan bonus demografi sering terlalu fokus pada angka. Jumlah penduduk produktif dihitung. Persentase usia kerja dihitung. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan. Namun kualitas manusianya sering terlupakan. Masalah pendidikan, keterampilan, akses pekerjaan, korupsi, dan ketimpangan masih besar.

Baca juga:

Selama masalah tersebut tidak diselesaikan, bonus demografi hanya menjadi potensi yang tidak pernah berubah menjadi kenyataan. Potensi tidak bisa dimakan. Potensi tidak membayar tagihan. Potensi tidak menciptakan kesejahteraan, yang menciptakan kesejahteraan adalah kebijakan yang tepat.

Bonus demografi sering diperlakukan seperti hadiah. Padahal bonus demografi adalah ujian. Ujian bagi pemerintah. Ujian bagi dunia pendidikan. Ujian bagi dunia usaha. Ujian bagi sistem politik. Tanpa keberanian memperbaiki kebijakan, bonus demografi hanya menjadi bonus kompromi kebijakan. Tanpa keberanian membangun masa depan yang nyata, bonus demografi hanya menjadi komoditas politik. Tanpa regulasi yang adil, bonus demografi hanya menjadi mesin keuntungan bagi kelompok bisnis besar.

Jumlah anak muda yang besar memang bisa menjadi kekuatan bangsa. Namun jumlah yang besar juga bisa menjadi sumber kekecewaan massal. Pada akhirnya, bonus demografi bukan soal berapa banyak orang yang berada di usia produktif.

Bonus demografi adalah soal siapa yang paling banyak menikmati keuntungan dari keberadaan mereka. Jika yang menikmati hanya elite politik dan elite bisnis, maka yang lahir bukan bonus demografi, melainkan bonus bagi segelintir orang di atas penderitaan banyak orang di bawah.

 

 

Editor: Prihandini N

Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Marselinus Eligius Kurniawan Dua Seorang awam yang senang menuliskan keresahannya untuk berbagi dan belajar bersama tentang permasalahan, relasi, komunikasi, dan dinamika sosial di masyarakat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email