Kilat Tanpa Wajah dan Puisi Lainnya

salman aristo

1 min read

Kilat Tanpa Wajah
: kelar memutar ulang The Parallax View

Aku duduk di depan kilat gambar
arti dipaksa masuk
tanpa tanya kepala
yang dipilih digeser senyap

Lorong panjang aku berjalan
langkahku dipinjam
nama luruh
sebelum sempat lekat

Mereka sebut itu terang
aku lihat dingin merakit rapuh
bayang lepas dari tubuh
yang mengawasi tanpa wajah

Jika aku hilang
jangan cari tubuh
cari di kalimat patuh
di situ aku padam, tetap

(April, 2026)



Apa Yang Terjadi

Kata tak lagi bisa diuji,
diucapkan seperti menandatangani sesuatu
yang tidak lagi dibaca.

Sudut-sudut bibir menggigil,
menyebut nama yang sama
dengan cara yang berbeda,

Di antara titik dan koma janji
ada jeda yang terlalu rapi,
seperti ruang kosong di formulir
yang sengaja tidak diisi

Kita terus berbicara,
tapi setiap kalimat pulang
sebelum sampai.

Yang tinggal bukan sunyi.
Kalimat terakhir
yang lupa alamatnya.



Dengung Tak Terucap

Menjelang malam, AC itu mendadak lebih berisik.
Aku tahu sebenarnya tidak.
Hanya ada jam-jam tertentu
ketika kesunyian mulai mendengar dirinya sendiri.

Dari luar, kota tetap biasa:
lampu-lampu, motor rewel,
orang-orang yang pulang
tanpa benar-benar tiba di mana pun.

Cinta: mula-mula seperti udara,
lalu perlahan berubah jadi bunyi
yang terus ada karena tak pernah dimatikan.

Dan kita duduk di bawah dengung itu,
seolah masih saling menjaga,
sementara hati sudah lama
belajar pergi tanpa suara.

Lampu Kantor Sore Hari

Dulu ia menulis
dengan tinta biru dan mata terbakar.
Katanya dunia harus diguncang
dengan kalimat-kalimat yang tidak sabar.

Ia pernah ingin jadi api.
Sekarang jadi lampu kantor sore hari.

Pukul lima lewat tiga puluh.
Meja-meja sudah kosong.
Lift turun sekali lagi.
Lalu sunyi.

Di mejanya:
map cokelat,
kopi yang tinggal setengah,
dan selembar kertas
yang belum selesai dibaca.

Ia mematikan lampu.

Di kaca jendela
ruangan masih ada.

Hanya orangnya
pelan-pelan
sulit dikenali.

Orang-Orang di Trotoar

Mereka tidak pandai
menyembunyikan kelelahan.

Mereka tak pernah belajar
berpura-pura bahagia.

Menjelang sore
trotoar makin penuh.

Ada yang menenteng helm,
membawa kantong plastik,
ada yang merapikan lengan baju,
ada yang melihat jam tangan
lebih dari sekali.

Lampu toko mulai menyala.
Klakson datang dan pergi.
Angin menggeser struk belanja
melewati ujung sepatu.

Tak ada yang terjadi.

Orang-orang terus berjalan.

Di lampu merah seberang jalan
seseorang berdiri cukup lama.

Lalu lampunya hijau.

Semua bergerak lagi.

Kecuali tatapannya.

*****

Editor: Moch Aldy MA

salman aristo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email