Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

The Secret Agent: Menguak Sejarah Kelam Anti-Komunisme di Brasil

Rido Arbain

2 min read

Gelombang anti-komunisme paling kuat di Brasil terjadi sejak 1964, ketika militer dengan dukungan AS berhasil menggulingkan Presiden João Goulart. Sejak saat itu, anti-komunisme dijadikan ideologi resmi negara, melandasi sensor, penangkapan, penghilangan paksa, dan penyiksaan terhadap oposisi yang dituduh simpatisan kiri. Novel berjudul “1970” karangan Henrique Schneider bahkan merekam dengan jelas konflik panas yang melibatkan rezim militer Brasil, di tengah gemerlap perhelatan final Piala Dunia 1970 yang membawa timnas Brasil meraih gelar juara untuk ketiga kalinya.

Kondisi itu juga yang melatarbelakangi The Secret Agent (O Agente Secreto) besutan Kleber Mendonça Filho, film yang meraih empat nominasi bergengsi di Academy Awards ke-98 (Oscars 2026), termasuk kategori bergengsi Best Picture, Best International Feature, Best Actor (Wagner Moura), dan Best Casting.

The Secret Agent mengambil latar tahun 1977, di mana kediktatoran militer sedang jaya-jayanya, terutama di kota Recife. Maka tak heran adegan pembuka yang menampilkan seonggok mayat tergeletak di pom bensin, pemandangan yang biasa di waktu itu, polisi setempat justru lebih tertarik untuk menilang mobil Beetle yang dikendarai oleh tokoh utama kita, Marcelo—diperankan dengan apik oleh Wagner Moura—yang tampaknya mudah untuk diperas.

Baca juga:

Pada adegan berikutnya, kita pun diajak terhubung dengan legenda urban tentang “kaki berbulu” yang dalam folklor Brasil dikenal dengan nama Perna Cabeluda dan cukup terkenal pada tahun 70-an. Dalam film ini, setungkai kaki itu muncul dan ditarik dari isi perut seekor bangkai hiu besar yang berantakan; lalu ia dicuri dari kamar mayat dan dibuang oleh polisi untuk merusak barang bukti; kemudian si Kaki tunggal dicap sebagai pelaku dalam berita kriminal yang sensasional.

Masih tentang kaki berbulu. Dalam mimpi buruk Marcelo, kaki itu bepergian untuk menghajar para pria yang sedang berhubungan seks di bawah pohon dan bangku taman. Adegan surealisme ini seakan menjadi metafora bagaimana berlangsungnya penindasan rezim terhadap komunitas queer, juga kelompok-kelompok rentan lainnya, yang mungkin secara otomatis dicap sebagai simpatisan komunis.

Kembalinya Marcelo ke kampung halamannya di Recife, awalnya untuk melepas rindu dengan putra kecilnya, lalu melarikan diri dari negara tersebut. Namun, sialnya geng pembunuh bayaran yang disewa oleh pejabat federal yang korup mulai mengincarnya, terkait dengan sepak terjang Marcelo alias Armando saat masih menjadi mahasiswa aktivis.

Menariknya, dalam film ini Kleber Mendonça Filho tak hanya mejejalkan narasi sejarah dan politik di Brasil, tetapi ia juga memadukannya dengan geliat kultur populer pada masa itu. Kita bisa lihat selingan humor di tengah ketegangan ketika ada penonton yang kesurupan saat menonton The Omen (1976) sementara penonton lain sedang asyik masyuk melakukan tindakan tidak senonoh di kursi bioskop. Kita juga bisa lihat bagaimana anaknya Marcelo, bocah kecil bernama Fernando, yang mulai terobsesi dengan gambaran hiu setelah melihat poster Jaws (1975) walaupun belum cukup umur untuk dibolehkan menonton film aslinya.

Semua elemen absurd dalam film ini seolah-olah hadir secara organik. Humor gelapnya pun muncul tanpa tendensi untuk menihilkan sejarah kelam yang terjadi pada masa itu. Jadi, sangat jelas, bahwa ini adalah film serius yang ingin mengajak kita merawat ingatan, sebab apa yang terjadi di Brasil pada pada 1964–1985 juga terjadi di Indonesia pada 1965–1998.

Kesamaan Brasil dan Indonesia adalah narasi “bahaya laten komunis” yang sering kali dihidupkan kembali untuk membungkam lawan politik, mengkriminalisasi kelompok kritis, atau menyingkirkan pihak-pihak yang tidak sejalan dengan pemerintah. Dari buku Jakarta Method karangan Vincent Bevins, kita tahu betul bagaimana dampak gerakan anti-komunisme yang terjadi di Indonesia, Brasil, Chile, Filipina, bahkan negara-negara lain. Selama bertahun-tahun, paham komunisme selalu diidentikkan ibarat hantu gentayangan, padahal ketakutan kita—dan juga ketidaktahuan kita—terhadap paham tersebut kadang kala jauh lebih menyeramkan.

Baca juga:

Soe Tjen Marching pernah mengatakan bahwa menciptakan rasa takut memang efektif untuk mengontrol massa. Ketika diliputi rasa takut, manusia cenderung mencari perlindungan dengan cara melarikan diri. Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk berpikir rasional sering kali memudar; yang tersisa hanyalah kekhawatiran akan keselamatan diri. Rasa takut juga membuat seseorang lebih mudah tunduk pada penguasa yang diyakini mampu memberikan perlindungan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, orang tidak lagi mempersoalkan tindakan penguasa selama dirinya tetap aman. Ketakutan yang teramat sangat pada akhirnya menempatkan seseorang pada dua pilihan ekstrem: “membunuh” atau “dibunuh”.

Apa yang dialami oleh karakter Marcelo dalam The Secret Agent tentu hanya satu gambaran kecil dari bermetamorfosisnya ketakutan menjadi kekejaman atas nama gerakan anti-komunisme. Bahkan untuk membuat film serupa—yang kontra terhadap anti-komunisme—mungkin Indonesia pun belum siap, sebab kesadaran kolektif kita masih jauh tertinggal. Jangankan membuat film perlawanan, kesadaran kolektif kita mungkin masih berhenti pada pemahaman bahwa film hanya sekadar media hiburan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Rido Arbain
Rido Arbain Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email