Di banyak sudut jalanan kota-kota Indonesia, kita menemukan pemandangan yang bagi sebagian orang memunculkan rasa nostalgia: monyet kecil berbusana manusia yang melompat-lompat, kuda yang menarik delman di jalanan sibuk, atau hewan-hewan sirkus yang beraksi di bawah cahaya lampu sorot. Bagi para penonton, ini adalah tontonan yang menghibur, kadang bahkan dianggap sebagai bagian dari identitas budaya. Namun, di balik layar, ada realitas lain yang jauh dari romantis: kehidupan yang dipenuhi penderitaan, pengekangan, dan eksploitasi.
Fenomena ini bukan sekadar soal “hiburan rakyat” atau “mata pencaharian”. Ini adalah cerminan relasi kuasa yang timpang antara manusia dan makhluk lain relasi yang sering kali dilegitimasi oleh tradisi, ekonomi, dan bahkan hukum. Dalam kacamata filsafat, ini adalah bentuk perbudakan yang berkamuflase sebagai budaya.
Di sinilah pemikiran Michel Foucault tentang biopolitik menjadi relevan. Foucault mengajarkan kita bahwa kekuasaan modern bekerja bukan hanya melalui paksaan langsung, tetapi melalui pengaturan kehidupan itu sendiri seperti mengontrol tubuh, perilaku, bahkan eksistensi makhluk hidup. Jika konsep ini diperluas ke hewan, kita melihat bahwa hewan-hewan dalam hiburan adalah subjek dari sebuah rezim kekuasaan yang secara sistematis mengatur dan mengeksploitasi hidup mereka demi keuntungan manusia.
Pemanfaatan hewan untuk hiburan bukanlah hal baru di Indonesia. Tradisi seperti topeng monyet memiliki akar panjang dalam hiburan rakyat. Pada masa lalu, monyet yang dilatih melakukan atraksi menjadi sumber penghidupan bagi seniman jalanan. Sementara itu, delman dan dokar adalah moda transportasi tradisional yang kini sebagian besar bergeser menjadi atraksi wisata. Sirkus baik yang berkeliling maupun yang menetap menghadirkan gajah, singa, harimau, atau lumba-lumba sebagai bintang utama.
Baca juga:
Awalnya, praktik ini lahir di masa ketika kesadaran akan hak-hak hewan belum berkembang. Hewan dianggap sebagai alat atau aset yang dapat digunakan sesuai kebutuhan manusia. Namun, di era modern, ketika pengetahuan tentang kesejahteraan hewan (animal welfare) dan etika lingkungan semakin meluas, praktik-praktik ini semakin sulit dibenarkan.
Tubuh Hewan sebagai Instrumen Ekonomi
Dalam konteks ekonomi rakyat, hewan-hewan tersebut adalah “modal hidup”. Monyet yang bisa mengendarai sepeda mini atau kuda yang bisa berlari cepat menjadi sumber pendapatan pemiliknya. Namun, logika ekonomi ini memandang tubuh hewan semata-mata sebagai alat produksi.
Proses “pelatihan” sering kali melibatkan kekerasan: rantai yang melukai leher, cambuk yang meninggalkan bekas, atau pembatasan makanan untuk memaksa kepatuhan. Hewan diajarkan untuk melanggar naluri alaminya demi memenuhi tuntutan atraksi. Kuda dipaksa berlari di bawah terik matahari di tengah lalu lintas padat; monyet harus berdiri tegak berjam-jam dengan kostum panas.
Dalam bahasa Foucault, ini adalah bentuk disiplin tubuh sebuah proses di mana tubuh diatur, dilatih, dan dipaksa berfungsi sesuai kebutuhan sistem. Bedanya, kali ini objeknya bukan manusia, melainkan hewan. Tubuh hewan diukur dari produktivitasnya, bukan dari kesejahteraannya.
Biopolitik: Mengatur Kehidupan, Mengendalikan Kebebasan
Michel Foucault menjelaskan bahwa biopolitik adalah praktik kekuasaan yang berfokus pada pengelolaan kehidupan. Dalam konteks manusia, ini berarti negara atau institusi mengatur kesehatan, populasi, perilaku, dan produktivitas warganya. Namun, konsep ini bisa diperluas untuk memahami bagaimana manusia mengatur kehidupan hewan.
Hewan-hewan dalam hiburan jalanan dan atraksi wisata menjadi bagian dari populasi yang dikelola secara sistematis. Hewan-hewan yang dimanfaatkan dalam hiburan rakyat dan atraksi wisata hidup di bawah pengaturan yang ketat layaknya sebuah rezim kontrol total. Regulasi waktu menentukan kapan mereka harus tampil di hadapan penonton, kapan diperbolehkan makan, dan kapan dapat beristirahat, sehingga ritme hidup mereka sepenuhnya diatur oleh kebutuhan manusia. Pengaturan ruang membatasi kebebasan bergerak mereka mulai dari kandang sempit yang mengurung, trotoar panas yang melukai telapak kaki, hingga arena pertunjukan yang hanya menyediakan ruang terbatas untuk beraksi.
Kontrol reproduksi pun dilakukan secara selektif, hanya membiakkan hewan-hewan tertentu yang dianggap menguntungkan dan dapat mempertahankan keberlangsungan bisnis. Bahkan perilaku mereka dinormalisasi agar tampak ‘manusiawi’, diajarkan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kodrat dan naluri alaminya, demi menciptakan tontonan yang menghibur publik namun menyembunyikan penderitaan di baliknya.
Foucault menyebut ini sebagai bentuk kekuasaan yang menyeluruh namun tidak selalu terlihat. Penonton tidak melihat rantai yang melukai kaki kuda atau jerat di leher monyet; mereka hanya melihat hasil akhir: hiburan. Dengan demikian, penderitaan dihapus dari kesadaran publik.
Romantisasi Tradisi dan Kolonialisme Spesies
Salah satu alasan mengapa praktik ini bertahan adalah romantisasi budaya. Delman dianggap “ikon wisata” di Yogyakarta, topeng monyet dilihat sebagai “warisan hiburan rakyat”, dan sirkus diklaim sebagai “pendidikan satwa” untuk anak-anak.
Baca juga:
Namun, pertanyaannya: budaya macam apa yang dibangun di atas penderitaan makhluk lain? Budaya sejati seharusnya bersandar pada nilai kemanusiaan dan keadilan, bukan pada eksploitasi. Menggunakan hewan sebagai alat hiburan adalah bentuk kolonialisme spesies dominasi manusia terhadap spesies lain yang dijustifikasi melalui tradisi atau ekonomi.
Di sini, manusia menempatkan dirinya di puncak hierarki biologis, menganggap kebebasan makhluk lain dapat dikorbankan demi kesenangan atau keuntungan. Ini adalah bias antroposentris yang menutup kemungkinan untuk melihat hewan sebagai subjek moral dengan hak atas hidupnya sendiri.
Salah satu ironi terbesar adalah bagaimana kekerasan terhadap hewan sering kali dianggap normal. Anak-anak dibawa menonton sirkus tanpa diberitahu bahwa gajah yang mereka lihat melambai telah melewati proses pelatihan yang penuh paksaan. Wisatawan naik delman tanpa memikirkan bahwa kuda itu harus menarik beban di jalan panas berjam-jam.
Di sinilah biopolitik bekerja: kekuasaan bukan hanya mengatur tubuh hewan, tetapi juga membentuk persepsi publik. Kekerasan disamarkan menjadi hiburan, penderitaan dikemas menjadi atraksi, dan penonton menjadi bagian dari mekanisme kekuasaan itu sendiri bukan sebagai pelaku langsung, tetapi sebagai konsumen yang menghidupkan permintaan.
Budaya yang Berpihak pada Kehidupan
Budaya sejati bukanlah fosil yang dipajang tanpa perubahan; ia adalah organisme hidup yang tumbuh, beradaptasi, dan memperkaya dirinya seiring meningkatnya kesadaran manusia. Jika budaya adalah cermin nilai, maka apa yang kita pertahankan hari ini mencerminkan siapa kita sebagai peradaban. Maka, mempertahankan budaya yang menjadikan hewan sebagai alat eksploitasi hanyalah mempertahankan bayang-bayang masa lalu yang gelap. Sudah waktunya kita memutar arah kompas budaya, dari panggung yang memaksa hewan menari di bawah cambuk, menuju ruang yang merayakan kehidupan mereka sebagai makhluk bebas.
Topeng monyet tidak harus menjadi tarian rantai dan kostum panas. Ia dapat berevolusi menjadi panggung yang mengungkap kecerdikan monyet di alam, mengajarkan pada penonton bahwa interaksi manusia-hewan tidak harus dibayar dengan penderitaan. Delman wisata pun tidak harus menjadi derap kaki kuda yang mengerang di bawah terik matahari. Ia bisa menjadi wahana ramah lingkungan yang membawa wisatawan sambil memperkenalkan seni merawat, melindungi, dan memahami satwa. Sirkus satwa tak perlu lagi menghadirkan gajah melompat melalui lingkaran api alih-alih, ia dapat menjadi pusat konservasi yang menghidupkan keagungan satwa melalui teknologi visual dan kisah-kisah pelestarian yang menggugah nurani.
Dalam kerangka ini, budaya bukan lagi mesin penindasan yang mengekstraksi tenaga dan kehidupan dari mereka yang tak bisa bersuara. Budaya menjadi panggung yang setara, tempat manusia hadir bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai penjaga. Pergeseran ini bukan sekadar soal mengubah cara kita bersenang-senang; ia adalah pernyataan moral bahwa kebebasan tidak boleh menjadi hak eksklusif manusia. Budaya yang hidup di abad ini harus berani memutus rantai secara harfiah dan metaforis dan menjadikan konservasi sebagai pusat pertunjukan.
Jika dahulu tepuk tangan adalah penutup babak eksploitasi, maka di era baru ini biarlah tepuk tangan menjadi penanda kemenangan: kemenangan hidup atas perbudakan, kemenangan kasih atas kekuasaan, kemenangan manusia yang akhirnya belajar untuk tidak selalu menempatkan dirinya di atas segalanya.
Kebebasan Bukan Hak Eksklusif Manusia
Jika kita menuntut kebebasan, keadilan, dan martabat untuk manusia, mengapa kita menolak memberikannya kepada hewan? Argumen bahwa hewan “tidak sadar” atau “tidak memiliki hak” hanyalah sisa-sisa filsafat kuno yang memandang alam sebagai properti manusia.
Foucault mengajarkan bahwa kekuasaan selalu beroperasi melalui mekanisme pengaturan hidup. Jika kita tidak mengkritisi bagaimana kita memperlakukan hewan, kita sedang membiarkan bentuk kekuasaan yang menindas itu tetap hidup bahkan berkembang.
Perjuangan membebaskan hewan dari hiburan paksa adalah bagian dari perjuangan yang lebih besar: membongkar sistem kekuasaan yang mendasarkan dirinya pada subordinasi makhluk lemah. Di sinilah kita diuji. Apakah kita hanya peduli pada kebebasan kita sendiri, atau juga kebebasan mereka yang tidak dapat berbicara untuk dirinya?
Selama hewan-hewan itu dipaksa menjadi aktor dalam panggung kekuasaan manusia, kita tidak sedang merayakan budaya kita sedang merayakan dominasi. Setiap tepuk tangan untuk monyet yang menari atau gajah yang melompat adalah tepuk tangan untuk sistem yang membatasi kebebasan demi hiburan.
Biopolitik mengajarkan kita bahwa kekuasaan mengatur kehidupan melalui mekanisme yang sering kali tidak kita sadari. Menyadari ini berarti berani berhenti menjadi penonton pasif, dan mulai menjadi pelaku perubahan. Budaya yang sejati bukanlah yang mengulang kebiasaan lama tanpa kritik, tetapi yang berani meninggalkan praktik yang menindas demi menghormati kehidupan dalam segala bentuknya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
