Tanah yang Bertubuh: Finansialisasi sebagai Proses Hidup dan Sejarah Pergulatan Kelas

Mohamad Rachmat Ramdhani

3 min read

Dalam diskursus urban dan ekonomi kontemporer, tanah sering diperlakukan sebagai entitas mati: sebidang ruang kosong yang siap disulap menjadi komoditas, aset, atau investasi. Pandangan ini banyak mewarnai cara negara, pasar, maupun akademisi memaknai proses finansialisasi tanah—yakni perubahan fungsi tanah dari sekadar media produksi atau tempat tinggal menjadi objek spekulasi keuangan.

Namun, buku Class Meets Land: The Embodied History of Land Financialization karya Maria Kaika dan Luca Ruggiero menantang asumsi ini. Mereka menyodorkan argumen yang mendalam sekaligus segar: bahwa finansialisasi tanah bukanlah proses teknokratis atau top-down semata, melainkan sebuah proses hidup (lived process) yang berakar dalam sejarah panjang konflik kelas, perlawanan sosial, dan formasi identitas kolektif yang membumi.

Kaika dan Ruggiero menyusun narasi historis yang sangat kaya tentang wilayah Bicocca di Milan, Italia, sejak akhir abad ke-19 hingga dua dekade pertama abad ke-21. Tanah dalam buku ini bukan hanya objek ekonomi, melainkan subjek historis. Ia mengalami, menyimpan, dan menampilkan bekas-bekas tubuh dan perjuangan kelas pekerja selama lebih dari 150 tahun. Dengan pendekatan timeful—istilah yang mereka adopsi dari geolog Marcia Bjornerud—para penulis menolak pendekatan timeless khas analisis neoliberal yang cenderung melucuti konteks sosial-politik dari transformasi ekonomi.

Baca juga:

Diagnosis utama buku ini adalah bahwa tanah tidak pernah netral, perubahannya tidak pernah bebas dari konflik. Dari tanah pertanian yang berubah menjadi distrik industri, kemudian menjadi ruang sosial pekerja, lalu menjadi objek revanchisme dan akhirnya menjadi aset finansial, tanah di Bicocca telah mengalami serangkaian perebutan makna dan fungsi. Perubahan-perubahan ini, menurut Kaika dan Ruggiero, bukan semata hasil dari perencanaan kota atau investasi swasta, tetapi juga akibat dan medan dari pertarungan antara buruh dan kapital.

Pada masa awal industrialisasi (1880–1939), tanah di Bicocca digunakan sebagai alat untuk membentuk pekerja baru yang disiplin dan setia. Pabrik-pabrik seperti Pirelli tidak hanya membangun tempat kerja, tetapi juga sekolah, fasilitas kesehatan, dan perumahan pekerja. Tujuannya jelas: membentuk subjek pekerja yang sesuai dengan logika produksi kapitalis. Namun, dalam prosesnya, pekerja dan keluarga mereka justru membentuk solidaritas yang mendalam—bukan dengan perusahaan, tetapi dengan sesama pekerja dan ruang-ruang sosial yang mereka isi setiap hari. Artinya, tanah bukan hanya ruang kerja, melainkan medium pembentukan komunitas dan jaringan resistensi.

Periode berikutnya (1939-1970-an) menunjukkan ironi sejarah: tanah yang semula dirancang untuk menundukkan pekerja justru menjadi basis perlawanan. Bicocca menjadi pusat perlawanan anti-Fasis, rumah bagi gerakan pekerja radikal, feminis, dan mahasiswa. Ini adalah bukti bahwa ruang tidak pernah sepenuhnya tunduk pada niat awal pembuatnya. Ia dapat diisi ulang secara politis oleh aktor-aktor yang selama ini dianggap pasif. Dalam konteks ini, tanah menjadi lebih dari sekadar komoditas; ia adalah tempat simbolik di mana identitas politik terbentuk dan diklaim secara kolektif.

Namun, mulai 1970-an hingga 1990-an, kekuatan kapital kembali menyerang. Dalam apa yang disebut Kaika dan Ruggiero sebagai revanchisme tanah, perusahaan-perusahaan industri, dengan dukungan negara dan elite lokal, mulai mengambil kembali ruang sosial yang dibangun oleh dan untuk pekerja. Bicocca berubah menjadi technocity, lalu menjadi kawasan real estate yang steril. Finansialisasi tanah dalam tahap ini bukan sekadar pergeseran nilai buku, melainkan peristiwa material dan sosial yang menyakitkan: pengusiran, pemutusan hubungan kerja, dan penghapusan memori kolektif.

Menariknya, Kaika dan Ruggiero menunjukkan bahwa proses ini tidak terjadi karena kekuatan eksternal semata seperti “pasar global” atau “deregulasi.” Sebaliknya, transformasi tersebut melibatkan aktor-aktor lokal: manajer industri lama, birokrat kota, dan bahkan sebagian dari kelas menengah profesional. Inilah mengapa mereka menyebut finansialisasi sebagai proses hidup—karena ia tidak dibawa dari luar, tetapi lahir dari negosiasi sosial yang terjadi di level lokal, dalam tubuh-tubuh manusia, dalam komunitas, dan dalam konflik sehari-hari.

Pada akhirnya, dalam dua dekade terakhir (1990–2020), tanah di Bicocca diproduksi ulang sebagai aset finansial murni. Ini bukan lagi ruang hidup, tetapi media investasi yang dapat dibeli, dijual, dan dispekulasikan. Kaika dan Ruggiero menyebut produk akhirnya sebagai urbanitas tanpa kafein—ruang kota yang kehilangan sejarah, konflik, dan makna sosial. Ruang-ruang seperti ini tampak rapi, modern, dan “netral,” namun justru kosong secara politis dan manusiawi. Inilah bentuk konkret dari kota-kota kontemporer yang mengalami detasemen sosial: kota yang bersih dari jejak perjuangan, dari nilai-nilai publik, dan dari pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang berhak atas ruang.

Baca juga:

Buku ini tidak hanya menyodorkan sejarah lokal yang kaya, tetapi juga intervensi teoretis penting. Dengan menolak pendekatan yang menyederhanakan tanah sebagai “aset”, mereka menuntut agar kita memandang tanah sebagai situs pertemuan antara nilai ekonomi, simbolik, dan sosial. Di sinilah letak kekuatan utama Class Meets Land: ia menolak dikotomi antara “tanah sebagai sumber daya ekonomi” dan “tanah sebagai ruang sosial”, dan justru menunjukkan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan. Tanah adalah tempat di mana logika akumulasi dan logika kehidupan saling bertabrakan.

Melalui pembacaan yang teliti atas arsip, wawancara sejarah lisan, dan analisis spasial, buku ini menawarkan bukan hanya kritik terhadap finansialisasi tanah, tetapi juga epistemologi baru. Mereka menegaskan bahwa tanah bukan hanya “digunakan” atau “dikuasai,” tetapi juga “dihidupi”. Oleh karena itu, setiap upaya memahaminya harus melibatkan pengalaman, ingatan, dan tubuh-tubuh yang menghuninya. Ini adalah intervensi penting terhadap studi urban dan ekonomi politik kontemporer yang terlalu sering terjebak dalam statistik dan generalisasi makro.

Dengan demikian, Class Meets Land memperlihatkan bahwa finansialisasi bukanlah proses impersonal yang digerakkan oleh aktor global yang abstrak. Ia adalah proses sosial yang berdarah dan berdaging, penuh kompromi, perlawanan, dan keberlanjutan dari konflik kelas. Tanah bukan hanya “dipindahkan” dari satu fungsi ke fungsi lain, tetapi diperebutkan, dihidupi, dan kadang dirampas. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Mohamad Rachmat Ramdhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email