Warga Jalan Sekalong.

Menyemai Pendidikan Aktivisme Anak di Sekolah Dasar

Styo Mahendra Wasita Aji

2 min read

Kata “aktivis” selama ini kerap disalahartikan. Kata ini identik dengan pendemo  kebijakan pemerintah. Namun, faktanya aktivis bukanlah istilah yang sesempit itu. Kata “aktivis” menurut Pamela Olever (1992) merujuk kepada mereka orang yang memiliki cukup kepedulian terhadap masalah-masalah, dan siap bergerak untuk mencapai tujuan yang mereka yakini. Oleh sebab itu, pada dasarnya mereka yang aktivis memiliki niat mulia dengan memiliki keberanian dan kepedulian mengangkat isu-isu sosial.

Selama ini aktivis yang kita kenal adalah mahasiswa. Mereka mengangkat isu-isu sosial, dan disampaikan secara langsung ataupun melalui kanal digital. Mereka mendialogan, mengkaji, lalu menyampaikan sikap, kritik, tuntutan, ataupun saran mereka mengenai isu sosial. Isu yang mereka angkat pada dasarnya dapat berdampak pada banyak orang. Tindakan yang berbasis kesadaran terhadap orang banyak dan ingin melakukan perubahan sosial inilah yang dikenal dengan aktivisme.

Baca juga:

Namun, sebelum sampai ke tingkat universitas, siswa juga perlu diajarkan aktivisme. Isu-isu sosial yang berdampak pada orang banyak khususnya anak-anak antara lain pembulian dan perubahan iklim. Hal inilah yang menjadi dasar  untuk menakar pendidikan aktivisme anak, sebab mereka juga dapat mengambil bagian dalam upaya memecahkan masalah sosial yang berdampak pada dirinya.

Pendidikan aktivisme pada anak artinya membangun kesadaran anak sejak dini. Melalui pendidikan mereka akan sadar isu-isu sosial yang akan berdampak pada masyarakat. Mereka akan memiliki kepekaan pada diskriminasi, ketidakadilan, kerusakan, dan kesenjangan. Siswa sekolah dasar sudah dapat mulai belajar hal-hal ini.

Aktivisme Anak di Berbagai Negara

Di era digital seperti saat ini, kita dapat melihat berita peran anak dalam aktivisme. Bahkan mereka tidak kalah militan dibandingkan aktivis dewasa. Penelitian Benjamin T. Lester, dkk (2006) menunjukkan pemberian pendidikan kepada anak, membangunkan kesadaran di sekolah dasar, secara berkala melakukan ekspresi aktivisme. Mereka berani menyatakan pendapatnya terhadap isu-isu sosial, dan memperjuangkan apa yang mereka yakini baik bagi kemaslahatan dunia. Melalui kesadarannya, mereka mengambil bagian dalam perubahan sosial.

Keterlibatan anak dalam dunia aktivisme menunjukkan kepedulian mereka. Hasil riset Lembaga Riset Edeleman merilis bahwa 70% Generasi Z memiliki keterlibatan dalam tujuan sosial dan politik. Meskipun dari 10.000 responden tidak semuanya mendeklarasikan diri sebagai aktivis, mereka melakukan aktivisme dengan memperjuangkan tujuan apa yang mereka yakini. Apalagi generasi saat ini cenderung memulai aktivisme di usia yang lebih muda dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Oleh sebab itu, kita dengan mudah menemukan aktivis-aktivis muda yang bahkan sudah berjuang sejak usia siswa sekolah dasar. Di dalam negeri, pada tahun 2021 kita  mengenal Aeshnina Azzahra Aqilani dari Gresik. Sejak kelas 5 sekolah dasar ia memiliki kepedulian tentang isu lingkungan, terutama tekait plastik dan sungai. Ketika SD, ia dan teman-temannya juga pernah menulis kepada Bupati Gresik tentang harapan perubahan di wilayahnya.

Sementara itu, di luar negeri ada Milly Boby Brown dari Inggris. Ia mengapanyekan anti perudungan. Sebagai aktris muda, sejak usia 11 tahun ia menggunakan platform media sosialnya untuk kampanye isu sosial. Berkat Milly, penggemarnya saat itu yang kebanyakan anak usia SD pun mulai memiliki keberanian mengapanyekan penghentian perudungan. Pada 2018, saat usianya yang masih 14 tahun, ia telah ditunjuk oleh UNICEF sebagai duta. Ia menjadi yang termuda, pengaruhnya mampu berdampak pada kepedulian orang-orang terhadap masalah sosial seperti perudungan.

Kedua contoh anak muda di atas menunjukkan aktivisme dapat dilakukan sedari dini. Anak-anak usia sekolah dasar pun dapat bergerak dengan kesadarannya memperjuangkan isu sosial. Oleh sebab itu, pendidikan untuk membangun kesadaran melalui aktivisme dapat dipertimbangkan untuk diberikan ke siswa sejak dini.

Pendidikan Aktivisme di Sekolah Dasar

Paulo Freire, tokoh pendidikan dunia,  menekankan bahwa pendidikan harus mengutamakan pembentukan kesadaran untuk melihat realitas dan mengubahnya. Pendidikan aktivisme di sekolah dasar dapat menjadi benih dalam membangun kesadaran anak akan realitas di depannya. Mereka juga dapat turut andil dalam melakukan perubahan sosial, melalui gerakan-gerakan kecil yang mereka lakukan.

Pendidikan aktivisme di sekolah dasar bisa diupayakan melalui beberapa upaya. Pertama, pembelajaran di sekolah memberikan ruang pada isu-isu seperti diskriminasi, ketidakadilan, kerusakan, dan kesenjangan. Para siswa harus diajarkan tentang kesetaraan.

Kedua, mengadakan dialog dalam pembelajaran bersama siswa. Dialog-dialog dilakukan untuk menggali pengetahuan dan mengetahui sejauh mana kepekaan siswa terhadap suatu isu sosial. Terkhusus pada isu-isu yang terkait dirinya dan yang terjadi di sekitarnya. Dialog juga dilakukan untuk mengetahui sikap dan keinginan siswa atas keadaan yang terjadi.

Baca juga:

Ketiga, melakukan gerakan advokasi kecil yang bersifat lokal. Caranya adalah menumbuhkan komitmen bersama dengan melakukan gerakan seperti peduli lingkungan dan pencegahan perudungan. Mereka juga dapat melakukan kampanye-kampanye lokal pada peringatan hari-hari tertentu, misalnya peringatan Hari Bumi dan Hari Air setiap tahunnya.

Akhirnya, ketiga upaya pendidikan ini dapat menjadi langkah awal di sekolah dasar untuk membangun kesadaran aktivisme. Aktivisme yang dapat menarik anak memahami realitas sosial dan memiliki kepedulian sosial. Oleh karena itu, sudah selaiknya upaya-upaya awal ini terus dikembangkan, sehingga perubahan sosial menuju arah yang lebih baik dapat dirintis sedari dini.

 

 

 

Editor: Prihandini N

Styo Mahendra Wasita Aji
Styo Mahendra Wasita Aji Warga Jalan Sekalong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email