Pengajar di sekolah menengah pertama

Pengiriman Siswa Nakal ke Barak: Sebuah Kontradiksi Tujuan Pendidikan

Fio F. Yussup

4 min read

It must bear witness to negativity… primary functions is to illuminate the ways… educational policy and practice are connected to the relations of exploitation and domination—and to struggles against such relations—in the larger society.”

Kutipan di atas merupakan pesan untuk para aktivis pendidikan atau pun bagi para pendidik yang disampaikan oleh seorang pemikir pedagogi kritis asal Amerika Serikat Michael Apple dalam karyanya yang berjudul Can Education Change Society? Pesan itu sangat aktual terkait perkembangan dunia pendidikan akhir-akhir ini.

Baca juga:

Beberapa waktu lalu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), mengumumkan sebuah kebijakan yang mengharuskan anak-anak yang dianggap Nakal dikirim ke barak militer. Anak-anak di sana akan mengikuti semacam pelatihan kedisipilinan di bawah bimbingan tentara. Menurut KDM, hal tersebut dilakukan dalam langkah pembinaan karakter anak-anak, sebuah imaji yang dianggap sebagai jalan keluar guna mengatasi kenakalan remaja yang sudah tak mampu diatasi oleh sekolah, masyarakat, maupun orang tua.

Berbagai respons bermunculan di masyarakat dalam menanggapi kebijakan tersebut. Sebagian yang mendukung menyambutnya dengan suka cita, “Akhirnya ada tindakan tegas!” kata mereka. Pun sebagian yang menolak merasa risih dengan munculnya kebijakan tersebut, “Tidakkah ini merupakan bentuk pemaksaan?“, “Bukankah sekolah harusnya mendidik bukan menghukum?

Padahal kurikulum kita memberikan isyarat jika suatu intervensi dalam pendidikan harus berdasarkan pada hasil akhir atau hasil yang ingin dicapai melalui UbD (Understand by Design) dengan konsep Backward Design-nya. Oleh karena itu, muncullah pertanyaanya, apa sebenarnya hasil yang ingin dicapai oleh kebijakan ini? Bukti otentiknya apa dan bagaimana? Apakah benar barak militer mampu menyelesaikan masalah anak-anak yang sulit diatur? Atau malah justru malah akan menunjukkan sebuah gejala yang lebih besar, semisal, ketimpangan sosial, alienasi, atau bahkan kegagalan sistem pendidikan itu sendiri?

“Nakal” dari Perspektif Relasi Kuasa dan Ideologi Pendidikan 

Jika kita memandang gejala tersebut melalui kacamata pedagogi kritis pertanyaan semacam itu bukanlah barang baru lagi sebetulnya. Apple, memberikan sebuah pandangan jikalau pendidikan itu bukanlah ruang yang netral. Menurutnya, sekolah adalah tempat di mana ideologi beroperasi secara halus, tetapi efektif mempengaruhi. Apa yang mesti dipelajari, bagaimana cara penyempaiannya, mengapa harus disampaikan, serta siapa yang menentukan itu merupakan pengaruh dari ideologi yang beroperasi.

Termasuk ketika anak-anak dianggap nakal hanya karena menolak tunduk pada sistem yang tak mampu memahami mereka. Bagaimana kita bisa memaknai term “nakal” tersebut? Siapa yang berhak memberikan makna? Bagaimana kita membentuk maknanya dan lain-lain merupakan pengaruh dari ideologi yang beroperasi.

Apple berpendapat jikalau pendidikan itu tidak bisa dilepaskan dari relasi kekuasaan dan ideologi yang menyertainya. Dalam karyanya yang berjudul Ideology and Curriculum, Apple menunjukkan bagaimana sekolah memproduksi nilai-nilai dominan, semisal, kepatuhan, individualisme, dan kompetisi. Nilai-nilai tersebut ditanamkan bukan melalui mata pelajaran yang direncanakan di kurikulum atau pun silabus, melainkan melalui rutinitas di sekolah, struktur kelembagaan, serta aturan-aturan yang mesti diikuti oleh para peserta didik.

Apple memberikan pengistilahan untuk gejala tersebut dengan term Hidden Curriculum. Oleh karena itu, ketika anak-anak yang dirasa tidak sesuai dan menyimpang dari sistem harus dikirim ke barak militer, sehingga kebijakan tersebut secara halus memperluas kekuasaan serta memperdalam dari kurikulum yang tersembunyi tersebut. Sekolah menyerah pada keadaan, sehingga militer dipercaya untuk mengambil alih.

Barak bukanlah tempat belajar, ia merupakan tempat pelatihan; tempat relasi yang berlaku adalah perintah dan kepatuhan. Tubuh dan pikiran anak-anak ditempa agar tunduk, bukan agar mereka mengerti apalagi mampu memahami. Tujuan yang disasar bukan asal-usul dari kenakalan, tetapi kenakalannya itu sendiri. Bukan lukanya yang diobati, melainkan gejala yang ditimbulkannya. Kita berharap mereka berubah, tetapi menolak melihat, mengetahui, serta memahami mengapa mereka bisa berbuat demikian sedari awal.

Pendidikan Inklusif vs Penyeragaman Militeristik

Kebijakan yang dibuat oleh KDM dengan mengirimkan anak nakal ke barak militer mengasumsikan bahwa anak nakal cukup ditempa dan diberi sedikit tekanan agar menjadi lebih baik. Akan tetapi, bagaimana jika kenakalan serta penyimpangan yang mereka lakukan justru merupakan bentuk perlawanan terhadap sistem? Bagaimana jika mereka tidak nakal, hanya kritis, keras kepala, atau tidak cocok dengan sistem yang kaku?

Baca juga:

Jika setiap penyimpangan harus diseragamkan melalui jalan militer, maka kita semakin jauh dan bahkan kehilangan peluang untuk membangun pendidikan yang inklusif.

Pada artikel yang sama, Apple mengajak kita bertanya lebih jauh mengapa kita selalu menganggap pendidikan sebagi alat untuk memperbaiki individu, alih-alih memperbaiki struktur sosial yang menciptakan berbagai masalah tersebut? Kenapa yang harus berubah adalah anaknya dan bukan sistemnya?

Anak-anak yang melawan, membangkang, atau pun menyimpang seringkali bukanlah akar masalahnya, melainkan gejala yang muncul dari masalah yang lebih dalam dari luka yang lebih serius. Ketika mereka ditangani dengan logika militer, kita bukan menyelesaikan masalahnya yang ada kita malah membungkamnya.

Apple mengingatkan kita jikalau pendidikan harus mampu memahami struktur dalam kehidupan sosial; kemiskinan, masalah keluarga, masalah lingkungan, kekerasan gender, stigmatisasi, segregasi sosial, hingga keterasingan kultural, merupakan penyebab yang lebih mendalam dan krusial. Menyikapi mereka dengan pola kedisiplinan militer merupakan respons yang kurang tepat dan bahkan cenderung reduksionis.

Dalam hal ini, barak militer bukanlah jalan keluar, melainkan cara cepat untuk menghapus kegaduhan semata. Anak-anak yang dianggap mengganggu dipindahkan ke tempat lain, diasingkan, dan ditata ulang. Kita lupa bahwa pendidikan seharusnya mendampingi bukannya menyortir; mengembangkan, bukan membungkam.

Apple menyebut kebijakan seperti ini sebagai bagian dari pengaruh ideologi. Ia menggunakan istilah conservative modernization yang merupakan gabungan antara neoliberalisme, audit culture, kompetisi, dan nilai-nilai moral yang dipaksakan atas nama keteraturan.

Anak-anak tak lagi dipandang sebagai subjek, melainkan sebagai objek yang harus disempurnakan. Dalam logika ini, anak yang tidak patuh bukan membutuhkan ruang diskusi atau tempat di mana ia bisa berdialog, tetapi membutuhkan suatu disiplin keras. Oleh karena itu, cara terbaik dan ampuh untuk mendisiplinkan mereka, tentu saja dengan mengirimkannya ke barak militer.

Masalahnya, militer bukan lembaga pendidikan, mereka tidak dirancang untuk mendengar; mereka tidak dirancang untuk bertanya atau pun untuk berdialog; mereka dirancang untuk melatih agar patuh bukan untuk bisa memahami. Ketika pendidikan diambil alih militer, kita kehilangan untuk benar-benar mendidik serta benar-benar membangun dialog bersama anak.

Mengurai Paradigma Pendidikan

Pendidikan seharusnya bukan sarana untuk menundukkan, menjinakkan, dan menyeragamkan, tetapi merupakan sarana serta cara untuk membangkitkan dan membantu anak untuk memahami siapa dirinya, lalu memberi pemahaman bagaimana ia hidup bersama secara bermakna. Jika pendidikan menjadi alat untuk menundukkan, menjinakkan, dan menyeragamkan, maka sejatinya ia bukanlah pendidikan; ia berhenti menjadi pendidikan; sekolah bukan lagi lembaga di mana dialog terbangun, melainkan lembaga penghasil kepatuhan dan penyeragaman.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh KDM mengenai anak Nakal dikirim ke barak militer mungkin sejatinya lahir dari niat baik, tetapi secara substansi ia bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan, khususnya nilai-nilai pedagogi kritis, yang membebaskan dan humanis. Dalam memandang kebijakan ini menurut Apple bukanlah pendidikan, tetapi proyek ideologis untuk mengatur tubuh dan pikiran generasi muda.

Anak-anak bukan tentara dan tidak semua dari mereka ingin jadi tentara; pun mereka bukan bahan uji coba. Anak-anak adalah manusia utuh yang butuh dan harus didengar, didampingi, dan dibebaskan. Jangan buru-buru mendidik dengan gaya militerisme; dan jika pendidikan berubah menjadi ruang penjinakkan, maka yang sedang kita bangun bukanlah generasi yang mampu berpikir, melainkan barisan yang patuh pada kekuasaan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Fio F. Yussup
Fio F. Yussup Pengajar di sekolah menengah pertama

4 Replies to “Pengiriman Siswa Nakal ke Barak: Sebuah Kontradiksi Tujuan Pendidikan”

  1. Sebaiknya cari solusi lain krn anak sekolah yg dikirim ke barak dikawatirkan terjadi hal yg tidak diinginkan diluar jangkauan Krn faktor usia ya masih dini dan faktor fisik serta mental siswa dan jika terjadi hal yg tidak diinginkan terjadi maka banyak pihak yg harus bertanggung jawab dan utk hal itu sebaiknya pembinaan TDK perlu dikirim ke barak mungkin diberi pengarahan dan pembinaan dari guru dan orangtuanya saja demikian Saranya

  2. Jangan2 nanti setelah selesai dari barak militer anak2 itu malah bertambah brutal sebagai bentuk perlawanan terhadap penekanan dari KDM

  3. Mengkritisi sebuah kebijakan dalam dunia pendidikan sesuatu yang wajar. Ada pro dan kontra. Dan bila kita melihat sebuah kenakalan yang membuat orang lain terluka bahkan terbunuh oleh sebuah kenakalan remaja terkhusus pelajar apakah merupakan hal wajar? Dan bila setiap usaha untuk membuat mereka ( pelajar ) menjadi baik menjadikan polemik, dan sebuah hukuman yang diberikan guru, karena pelajar tersebut melanggar aturan sekolah ……para pendidik pun akan berurusan dengan hukum. Atau di Indonesia sistem pendidikan dibiarkan sekehendak murid agar mereka tidak terkekang. Dan semua aturan disekolah dihilangkan. Mungkin cara itu adalah cara TERBAIK agar dunia pendidikan tidak mengharuskan seorang pelajar untuk taat atau patuh, bukankah mereka menginginkan sebuah pencarian jati diri. Dan mereka tidak semua bercita cita menjadi tentara……namun bagaimana dengan negara yang memberlakukan WAJIB MILITER?…..dan negara tersebut telah melanggar hak individu????? apakah mereka yang mengikuti wajib militer pasti akan menjadi tentara???????
    Terima kasih.

  4. Bener menurut pribadi,zitu ga bener, bener menurut pendapat umum itu blm tentu bener, tapi bener menurut Tuhan itu mutlak, tdk bisa diganggu gugat, menurut pendapat kdm dan marpaung juga bener menurut fersinya masing2,lwbih bihaknya kita lebih baik berkaca pada diri kita masing2, sdh bener blm dimata Tuhan….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email