Seorang awam yang senang menuliskan keresahannya untuk berbagi dan belajar bersama tentang permasalahan, relasi, komunikasi, dan dinamika sosial di masyarakat

Pesta Babi: Ritual Bakti pada Leluhur dalam Bayang-Bayang Proyek Nasional

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

3 min read

Ada satu pola yang terus berulang di Indonesia. Daerah yang dianggap “kosong” oleh negara biasanya justru adalah tanah yang paling penuh makna bagi masyarakat adat. Hutan dianggap lahan tidur. Rawa dianggap belum produktif. Pegunungan dianggap cadangan energi. Padahal bagi masyarakat lokal, semua itu bukan sekadar ruang ekonomi. Itu rumah, sejarah, sekaligus identitas.

Film Pesta Babi hadir membawa kegelisahan itu. Film ini bukan cuma cerita tentang konflik pembangunan di Papua. Lebih dari itu, film ini seperti tamparan keras terhadap cara negara dan investor melihat tanah Papua hanya sebagai angka, peta proyek, dan target produksi pangan maupun energi.

Baca juga:

Di balik narasi besar tentang ketahanan pangan dan transisi energi, ada masyarakat yang pelan-pelan kehilangan tanah leluhur, kehilangan arah hidup, bahkan kehilangan hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

Papua yang Selalu Dilihat Sebagai “Cadangan”

Papua sejak lama diperlakukan seperti halaman belakang Negara Indonesia. Kaya sumber daya, luas wilayahnya besar, penduduknya sedikit, lalu dianggap cocok menjadi tempat segala macam proyek raksasa. Mulai dari tambang, perkebunan sawit, food estate, sampai proyek energi hijau.

Masalahnya, banyak proyek itu datang dengan bahasa yang terdengar indah. Mulai dari ketahanan pangan, hilirisasi, transisi energi, hingga pembangunan berkelanjutan. Semua istilah itu terdengar modern dan progresif. Tapi di lapangan, masyarakat adat sering hanya jadi penonton.

Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Papua menghadapi situasi absurd semacam itu. Mereka dipaksa memahami konsep-konsep pembangunan yang bahkan tidak lahir dari kebutuhan mereka sendiri. Tanah adat tiba-tiba berubah status menjadi area strategis nasional. Hutan yang selama ratusan tahun dijaga tiba-tiba dianggap menghambat investasi.

Pesta Babi yang Bukan Sekadar Tradisi

Dalam kultur Papua, Pesta Babi bukan hiburan biasa. Ia punya makna sosial, spiritual, dan politik yang sangat dalam. Pesta Babi adalah simbol relasi antar manusia, penghormatan terhadap leluhur, sekaligus bentuk solidaritas komunitas.

Film ini memakai simbol Pesta Babi bukan secara kebetulan. Justru di situlah letak kekuatan narasinya. Ketika tanah adat mulai hilang, maka tradisi seperti Pesta Babi juga perlahan kehilangan ruang hidupnya.

Masyarakat Papua tidak cuma kehilangan hutan atau lahan bercocok tanam. Mereka kehilangan ekosistem budaya. Di titik itu, pembangunan bukan lagi soal kesejahteraan rakyat. Pembangunan berubah menjadi alat legitimasi pengambilalihan ruang hidup.

Ini yang sering gagal dipahami dalam logika mega proyek. Negara terlalu sibuk menghitung ton produksi pangan, kapasitas listrik hijau, atau angka investasi, namun lupa menghitung kehancuran identitas sosial masyarakat adat. Karena bagi Masyarakat Papua, tanah bukan properti. Tanah adalah bagian dari tubuh mereka sendiri.

Ketahanan Pangan yang Ironis

Narasi food estate atau mega proyek pangan selalu dijual sebagai solusi masa depan Indonesia. Alasannya begitu klasik. Indonesia harus mandiri pangan. Indonesia harus siap menghadapi krisis global. Indonesia harus punya lumbung pangan baru. Tapi ironinya, proyek ketahanan pangan sering justru mengorbankan masyarakat yang selama ini hidup mandiri dari alamnya sendiri.

Film Pesta Babi memperlihatkan kontradiksi itu dengan sangat tajam. Masyarakat adat sebelumnya bisa hidup dari hutan, sungai, dan kebun tradisional. Namun tiba-tiba, dipaksa masuk ke sistem industri pangan modern yang asing bagi mereka.

Mereka kehilangan akses berburu, sagu, dan ruang ritual adat. Bahkan sumber air pun turut lenyap. Atas nama ketahanan pangan nasional, masyarakat lokal justru menjadi kelompok paling rentan mengalami ketidakamanan pangan. Ini paradoks pembangunan yang jarang dibicarakan.

Transisi Energi dan Wajah Baru Kolonialisme

Sekarang dunia sedang berlomba menuju energi hijau. Mobil listrik, baterai, nikel, biofuel, semua menjadi simbol masa depan. Indonesia pun ikut masuk dalam arus besar itu. Masalahnya, transisi energi sering diperlakukan seolah otomatis baik bagi semua orang. Padahal tidak sesederhana itu.

Film “Pesta Babi” secara tidak langsung menunjukkan bahwa proyek transisi energi juga bisa melahirkan bentuk kolonialisme baru. Bedanya, dulu eksploitasi dilakukan atas nama industrialisasi. Sekarang eksploitasi dilakukan atas nama keberlanjutan lingkungan. Tetap saja masyarakat adat menjadi komunitas yang paling rentan terdampak.

Ironis memang. Dunia ingin menyelamatkan bumi lewat energi hijau. Namun di saat bersamaan, justru menghancurkan komunitas yang selama ini paling dekat dengan alam. Papua kemudian menjadi medan perebutan baru. Bukan cuma perebutan sumber daya, tapi juga perebutan definisi tentang masa depan.

Ada pola emosional yang terasa kuat dalam film ini. Orang Papua selalu diminta mengerti demi kepentingan nasional. Demi kemajuan bangsa. Demi investasi. Demi masa depan energi dunia. Tapi pertanyaannya sederhana. Kapan negara mau mengerti orang Papua?

Selama ini masyarakat Papua terlalu sering diposisikan sebagai hambatan pembangunan. Ketika menolak proyek, mereka dicap anti-kemajuan. Ketika mempertahankan tanah adat, mereka dianggap menghambat investasi. Padahal yang mereka pertahankan bukan sekadar lahan kosong. Mereka mempertahankan memori kolektif, makam leluhur, identitas suku, dan cara hidup yang diwariskan turun-temurun.

Film Pesta Babi terasa penting karena berani memperlihatkan sisi manusia dari konflik pembangunan. Bukan cuma angka ekonomi atau data proyek. Ada rasa takut, marah, kehilangan, dan kebingungan. Semua itu nyata dan benar adanya.

Film yang Menolak Menjadi Netral

Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah keberaniannya untuk tidak pura-pura netral. Film ini jelas berpihak pada masyarakat yang selama ini suaranya tenggelam oleh jargon pembangunan. Dalam banyak film bertema konflik sosial, masyarakat adat sering hanya jadi pelengkap eksotis. Tapi di Pesta Babi, mereka justru menjadi pusat cerita.

Penonton dipaksa melihat pembangunan dari sudut pandang orang yang terdampak langsung. Bukan dari ruang rapat elite. Bukan dari presentasi investor. Bukan dari pidato pejabat. Dan itu adalah hal yang penting. Hal ini karena selama ini Papua terlalu sering dibicarakan tanpa benar-benar didengarkan.

Baca juga:

Pesan paling kuat dari film Pesta Babi sebenarnya sederhana. Papua bukan tanah kosong yang bebas dieksploitasi sesuai kepentingan proyek nasional. Di sana ada manusia dan budaya. Ada pula sejarah panjang yang tidak bisa diganti dengan uang kompensasi atau janji lapangan kerja.

Mega proyek ketahanan pangan dan transisi energi mungkin terdengar heroik di atas kertas. Tapi ketika pelaksanaannya menghapus ruang hidup masyarakat adat, maka pembangunan berubah menjadi ilusi kemajuan. Film ini mengingatkan bahwa modernisasi tanpa keadilan sosial hanya akan melahirkan luka baru. Dan Papua sudah terlalu lama dipenuhi luka atas nama pembangunan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Marselinus Eligius Kurniawan Dua Seorang awam yang senang menuliskan keresahannya untuk berbagi dan belajar bersama tentang permasalahan, relasi, komunikasi, dan dinamika sosial di masyarakat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email