Topilus B. Tebai: Suara dari Distrik Papua Pegunungan

Mina Megawati

2 min read

Dari balik papan tulis di sebuah sekolah di ketinggian 1800 mdpl, Topilus B. Tebai tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga merajut cerita-cerita. Ini menjadi suara, ingatan, dan kebanggaan bagi tanah kelahirannya, Dogiyai, Papua Tengah.

Sebagian besar hari-harinya dihabiskan di depan kelas, mengajari anak-anak muda di Dogiyai, Papua Tengah. Meskipun tidak berlatar pendidikan guru, hal itu bukanlah penghalang karena membagikan ilmu adalah tentang niat tulus kita kepada mereka yang kita sebut sebagai penerus bangsa.

Waktu itu di tahun 2018, saat Papua sedang mengalami konflik beberapa guru memilih mengungsi ke kota. Akhirnya kekosongan tenaga pengajar tidak terhindarkan.

Bastian tergerak untuk mengisi kekosongan itu. Baginya konflik boleh saja terjadi, tapi anak-anak ini harus tetap mendapatkan haknya untuk belajar.

SMP YPPK Moanemani jadi saksi bagaimana seorang putra Papua itu membulatkan tekadnya untuk membagikan ilmu yang sudah didapatkannya. Tiga tahun berlalu, akhirnya sejak 2022 sampai saat ini Bastian menjadi tenaga pengajar di SMAN 1 Dogiyai.

Topilus B. Tebai lahir dan tumbuh di Mapiha, sebuah distrik kecil di Pegunungan Tengah Papua, Kabupaten Dogiyai. Wilayah ini dikenal dengan lanskapnya yang sejuk dan bergelombang, dikelilingi hutan lebat, lembah, serta perbukitan yang subur.

Akses menuju daerah ini tidak mudah, sebagian jalannya masih berupa tanah dan hanya bisa ditempuh dengan kendaraan tertentu atau jalur udara kecil. Dalam keseharian, masyarakat Mapiha hidup dari hasil bumi seperti ubi, sayuran, dan tanaman lokal lain yang menjadi bagian dari budaya agraris mereka.

Berawal dari tempat terpencil dan tenang inilah, suara sastra Bastian tumbuh. Cerita-ceritanya berakar pada pengalaman hidup masyarakat Dogiyai penuh nilai kemanusiaan, konflik sosial, dan kebijaksanaan lokal yang jarang tersentuh oleh arus modernitas.

Sastra sebagai Ruang Kelas yang Lebih Luas

Dari sudut pandangnya, Bastian memosisikan sastra sebagai medium untuk menyuarakan kehidupan, luka, dan kebanggaan Papua dari dalam. Ia menulis bukan untuk melawan, tapi untuk menghidupkan ingatan dan kemanusiaan dari tanahnya. Ada geliat dari dalam diri Topilus mengajak pembaca melihat Papua bukan sebagai pinggiran, tapi sebagai pusat dari kemanusiaan yang utuh.

Mengutip kalimat dari Norman Erikson Pasaribu di Asian American Writers Workshop (AAWW), menyebut kalau Bastian adalah penulis yang menulis dengan kejujuran yang brutal. Namun dengan sudut pandang yang lembut dalam mengamati manusia.

Kegilaan sekaligus kejujuran itu terlihat dengan jelas dalam cerpennya Gila yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris Madness.

Jejaring Sastra Papua: Dari Komunitas Hingga ke Panggung Dunia

Saat diajak berbincang lebih jauh soal pencapaiannya di dunia penulisan, Bastian menjawab adalah sebuah anugerah ketika ia terpilih menjadi salah satu Emerging Writers Makassar International Writers Festival. Kemenangan itu juga yang menjadi alasan kuat buatnya untuk tidak lagi perlu merasa minder dan tidak percaya diri.

Tulisannya sudah diterima oleh khalayak yang lebih luas, menasional, bahkan sekarang menuju internasional. Dengan cara bicaranya yang amat tertata dia menyebut lewat MIWF dia bisa menginjakkan kaki di Bali.

Di panggung Ubud Writers and Readers Festival tahun ini, dia membagikan cerita seorang anak Papua tentang bagaimana dia menjalani kehidupan sampai saat ini.

Sebuah keberhasilan yang tidak didapati secara instan. Awal penulisannya dimulai saat mengikuti ekstrakurikuler di SMA-nya sekitar 13 tahun lalu di tahun 2010-2012. Saat masuk dunia perkuliahan (2012-2015), dengan berbekal ilmu jurnalistik itu pun menjadikan dirinya bagian dari kontributor Majalah Selangkah khusus membahas cerita-cerita dari Papua.

Topilus B. Tebai punya semacam kegelisahan untuk masa depan anak muda di Papua supaya mereka punya akses pendidikan yang lebih baik. Di antara gempuran kondisi infrastruktur yang kurang memadai, kondisi alam membuat desanya sulit dikunjungi, dia ingin Dogiyai bisa setara dengan daerah lain dari segi akses pendidikan.

Infrastruktur yang buruk bukan hanya soal jalan berlubang, tapi tentang bagaimana setiap lubang itu mengikis harapan anak-anak untuk mengenyam pendidikan yang layak. Supaya tulisan-tulisannya tidak hanya indah dibaca tapi bisa ikut membawa dampak perumahan yang signifikan dan nyata.

Bagi Bastian, setiap tulisan yang lahir dari tanah Dogiyai bukan sekadar karya sastra, melainkan jembatan yang menghubungkan dunia dengan Papua-nya. Sebuah jembatan yang dia harap suatu hari nanti akan dilalui oleh anak-anak didiknya menuju masa depan yang lebih cerah.

Kalau Belitung punya Andrea Hirata, maka Papua pun punya seorang Topilus Bastian Tebai untuk menuliskan lebih banyak lagi tentang pulau di timur Indonesia.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Mina Megawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email