Choi Hyeong-wook akhirnya mendapat nilai sempurna matematika. Mendadak satu kelas memperhatikannya. Anak yang selama ini keberadaannya cuma penting saat patungan kelas akhirnya dianggap juga. Guru memujinya. Teman sekelasnya takjub. Untuk pertama kalinya, Hyeong-wook merasakan sesuatu yang sangat mahal di zaman sekarang: menjadi manusia yang dianggap punya value.
Keesokan harinya, ia mati sambil bersimbah darah di depan teman-temannya sendiri. Dan anehnya, itu terasa masuk akal.
Episode pertama If Wishes Could Kill memang dibungkus seperti horor sekolah biasa. Ada aplikasi kutukan bernama Girigo, ada countdown kematian, ada bunuh diri, ada ruang sekolah gelap yang secara visual lebih terawat daripada kesehatan mental murid-muridnya.
Tapi semakin lama menonton, saya merasa drama ini sebenarnya tidak sedang bicara soal hantu. Ia sedang bicara tentang generasi yang terlalu lelah untuk terus membuktikan dirinya layak hidup. Dan itu terasa lebih dekat daripada yang kita kira.
Hyeong-wook bukan anak gagal. Ia cuma tidak cukup spesial untuk dunia yang terobsesi pada pencapaian. Jenis manusia yang kalau tidak masuk sekolah seminggu, mungkin baru disadari saat guru mulai menghitung presentase kehadiran.
Dan jujur saja, sebagian besar kelas menengah digital hari ini hidup seperti itu: tidak miskin, tidak sukses, tidak bahagia, tapi juga tidak cukup hancur untuk berhenti. Mereka hidup dari gaji ke gaji. Dari payday ke payday. Dari notifikasi promo ke tagihan berikutnya. Pagi beli iced latte ukuran large supaya bisa merasa jadi urban people, meski malamnya tetap hitung cicilan. Di penghujung akhir pekan membuka mobile banking sambil menarik napas panjang seperti habis mendengar hasil diagnosis dokter.
Baca juga:
Hari ini anak muda cuma ingin: tidur cukup, punya tabungan darurat, dan buka Instagram tanpa merasa dirinya manusia gagal. Masalahnya, internet tidak mengizinkan manusia hidup setenang itu.
Bangun tidur buka LinkedIn, teman SMA diterima LPDP. Buka Instagram, mutual upload foto kerja remote di Bali dengan caption: “slow living 🤍”, padahal laptopnya tetap penuh revisi dan anxiety. Buka TikTok. Muncul anak umur 23 tahun ngajarin “cara mencapai financial freedom sebelum usia 30.” Sementara kita? Makan siang pakai promo buy one get one saja sudah merasa finansialnya mulai stabil.
Kita hidup di zaman ketika scrolling lima menit bisa membuat seseorang merasa kariernya gagal total. Dan yang lebih menyedihkan: semua itu terjadi sebelum jam 9 pagi.
Makanya burnout generasi sekarang terasa aneh. Mereka tidak kerja rodi. Mereka cuma online terus sampai otaknya tidak pernah benar-benar logout. Bahkan saat libur, mereka hidup dengan 47 tab browser terbuka di kepalanya. Tapi tetap lelah terus. Karena sekarang manusia tidak capek bekerja. Manusia capek mempertahankan harga dirinya.
Dulu orang diperas bos. Sekarang orang diperas bos dan ambisinya sendiri. Kita memaksa diri ikut webinar yang tidak kita pahami. Mengambil sertifikasi yang tidak benar-benar kita inginkan. Membangun personal branding padahal bahkan tidak yakin dengan kepribadian sendiri. Semua orang sibuk menjadi “versi terbaik dirinya.” Lucunya, tidak ada yang benar-benar tahu kapan boleh berhenti.
Makanya sekarang istirahat terasa ilegal. Rebahan dua jam muncul rasa bersalah.
Tidak produktif sehari langsung merasa hidup tertinggal.
Balas email kantor jam 11 malam dianggap dedikasi, bukan tanda hidup mulai bermasalah.
Kapitalisme memang cerdas. Ia berhasil membuat manusia mengeksploitasi dirinya sendiri sambil menyebutnya: “self-growth.” Orang sekarang ikut kelas self-improvement pakai paylater demi belajar cara mengurangi stres finansial. Dan tidak ada yang merasa itu absurd.
Itulah kenapa Hyeong-wook terasa menyakitkan. Ia tidak benar-benar ingin jadi pintar. Ia cuma ingin berhenti merasa tidak penting. Masalahnya, validasi bekerja seperti narkoba sosial. Sekali manusia merasa dilihat, ia mulai takut kembali jadi nobody.
Baca juga:
Makanya setelah mendapat nilai sempurna, Hyeong-wook tidak tampak lega. Ia justru semakin gelisah. Semakin paranoid. Semakin takut kehilangan perhatian yang baru saja ia rasakan. Bukankah itu juga yang terjadi hari ini? Orang upload pencapaian bukan karena bahagia, tapi takut terlihat stagnan.
Foto laptop di kafe lebih penting daripada isi file kerja. Self-care berubah jadi industri. Healing berubah jadi konten. Burnout berubah jadi estetik. Work from café. Cemas dengan ambience. Dan mungkin itu kutukan paling modern hari ini: manusia tidak lagi takut hidup susah. Mereka cuma takut hidupnya terlihat biasa saja.
Karena di dunia sekarang, menjadi manusia biasa terasa lebih memalukan daripada menjadi manusia lelah. (*)
Editor: Kukuh Basuki
