Seorang anak berdiri di depan kelas dan berkata ia bisa membaca. Namun, tidak ada yang percaya. Sejak saat itu, pelajaran pertama yang ia terima bukanlah huruf, melainkan keraguan.
Di tengah riuh perbincangan tentang adaptasi filmnya yang sedang tayang di bioskop, buku Na Willa seri pertama karya Reda Gaudiamo justru terasa semakin relevan untuk dibaca ulang. Buku ini seolah mengingatkan kita bahwa sebelum menjadi tontonan yang hangat di layar lebar, Na Willa lebih dulu hidup sebagai bisikan sunyi dalam bentuk teks.
Pertama kali diterbitkan oleh POST Press pada 2018 dengan ketebalan 115 halaman, buku ini menarasikan keseharian seorang gadis kecil di Surabaya pada rentang 1960-an hingga 1970-an. Ditulis dalam bentuk catatan harian yang lugu dan jujur, Na Willa membawa pembaca menyusuri kehidupan gang, persahabatan, serta dinamika keluarga multikultural, dengan Mak yang berasal dari NTT dan Pak yang berlatar Tionghoa.
Kesederhanaan cara bertuturnya justru membuat pengalaman emosional dalam buku ini terasa lebih dekat dan mengena.
Membuka Pintu, Melepas Dunia
Untuk apa sebenarnya sekolah, jika membaca, menulis, dan bernyanyi bisa diajarkan di rumah?
Pertanyaan itu tidak datang dari ruang kosong. Ia lahir dari kegelisahan seorang Mak yang merasa masih mampu menjaga, mendampingi, sekaligus mengajari anaknya sendiri. Bagi Mak, dunia di luar sana bukan hanya luas, tetapi juga belum tentu ramah. Maka keputusan menyekolahkan Na Willa bukanlah sesuatu yang ringan, ia ditimbang, ditunda, bahkan diragukan.
Baca juga:
Namun, suara lain datang dari Pak. Ia tidak menolak kekhawatiran itu, tetapi menggeser cara pandangnya: sampai kapan seorang anak akan terus dibatasi untuk melihat dunia luar?
Kalimat itu sederhana, tetapi membuka sesuatu yang lebih dalam. Bahwa yang perlu dibuka bukan hanya pintu sekolah, tetapi juga pintu dalam diri orang tua, untuk percaya, untuk melepaskan, dan untuk membiarkan anak bertemu dengan dunia yang tidak selalu bisa kita kendalikan.
Keputusan itu pun diambil. Bukan tanpa ragu, tetapi dengan harapan. Bahwa sekolah akan menjadi ruang pertama bagi Na Willa untuk tumbuh, bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai tempat merasa diterima. Namun, harapan itu tidak sepenuhnya menemukan bentuknya.
Di sekolah pertamanya, Na Willa justru berhadapan dengan sesuatu yang tidak ia duga: ketidakpercayaan. Sosok Bu Tini, dengan cara mengajarnya yang kaku dan otoriter, menghadirkan pengalaman yang jauh dari hangat. Di ruang yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh, Na Willa malah belajar tentang penolakan, tentang bagaimana suaranya diragukan, bahkan disangkal.
Ia menyukai sekolah, tetapi ia tidak menyukai Bu Tini. Kalimat ini menjadi semacam retakan kecil yang pelan-pelan membesar. Sebab dari sanalah kita menyadari: ada yang keliru dalam cara kita membangun ruang belajar.
Di titik inilah Na Willa seperti menegaskan sesuatu yang sering kita lupakan: bahwa sekolah tidak cukup hanya menjadi ruang aman. Ia juga harus menjadi ruang nyaman, tempat anak merasa didengar, dipercaya, dan diperlakukan sebagai subjek, bukan sekadar objek didik.
Dan ketika ruang itu tidak ditemukan, perpindahan menjadi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Dari “Putra Sedjati” ke “Djuwita”
Perpindahan sekolah yang dialami Na Willa menjadi titik penting yang tidak hanya bersifat naratif, tetapi juga simbolik.
Mak sempat melirik sekolah bernama “Putra Sedjati”, nama yang terdengar tegas, mapan, dan sarat nuansa maskulin. “Putra” sebagai pusat, “Sedjati” sebagai klaim kebenaran. Namun, Mak merasa ada yang tidak pas. Ia menyebut nama itu kurang menarik.
Baca juga:
Pilihan kemudian jatuh pada sekolah “Djuwita”, yang berarti cantik. Nama yang lebih lembut, lebih terbuka, dan lebih mengundang. Di sini, Reda Gaudiamo seperti menyisipkan kritik halus: bahwa pendidikan kita terlalu lama dibangun di atas nilai-nilai yang kaku dan hierarkis, dan mulai membutuhkan pendekatan yang lebih reseptif, yang mau mendengar, merawat, dan memberi ruang.
Peralihan itu bukan sekadar perubahan tempat, melainkan perubahan cara pandang: dari pendidikan yang ingin membentuk, menjadi pendidikan yang ingin menemani.
Namun, pergeseran itu tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari pengalaman-pengalaman kecil yang semula terasa sepele, tetapi diam-diam membentuk cara seorang anak memaknai dunia tentang didengar atau diabaikan, dipercaya atau diragukan.
Keraguan yang Diajarkan
Dari rangkaian pengalaman itulah Na Willa menemukan nadinya: bahwa persoalan pendidikan bukan semata pada kemampuan anak, melainkan pada kesediaan orang dewasa untuk mendengarkan. Di titik ini, sosok Bu Tini tidak lagi sekadar tokoh, melainkan cermin dari sistem yang lebih luas, yang terlalu cepat menilai, tetapi lambat memahami. Dalam ruang seperti itu, kebenaran tidak lahir dari dialog, melainkan ditetapkan oleh otoritas.
Melalui metafora sederhana: kebohongan sebagai kerikil di dalam sepatu, Reda Gaudiamo mengajak kita berpikir ulang: bagaimana jika kerikil itu justru diletakkan oleh orang dewasa yang tidak mau percaya?
Menariknya, setelah buku ini mendapatkan tempat di hati pembaca, muncul dorongan yang cukup kuat dari para pembacanya, para pengikut setia karya Reda Gaudiamo, agar Na Willa dihadirkan dalam bentuk film. Bukan tanpa alasan: alur yang hangat dan penyajian cerita yang intim membuat pembaca ingin mengalami kisah ini secara lebih utuh, melalui medium audio-visual.
Keinginan itu akhirnya terjawab. Film Na Willa yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy resmi tayang perdana pada 15 Maret 2026 dan dirilis secara luas di bioskop Indonesia pada 18 Maret 2026, menjadi salah satu film keluarga yang hadir menyambut momentum Idul Fitri.
Alih wahana ini menunjukkan bahwa dunia Na Willa tidak hanya kuat sebagai teks, tetapi juga lentur ketika dipindahkan ke medium lain. Buku dan filmnya tidak saling menyaingi, melainkan saling melengkapi, memberi dua pengalaman yang berbeda, tetapi berakar pada kehangatan yang sama.
Sebagai sebuah karya, Na Willa mungkin tampak kecil, diterbitkan oleh penerbit independen seperti POST Press. Namun justru dari “kemungilan” itulah ia menemukan kekuatannya. Naskah-naskah yang diterbitkan bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk digandrungi.
Buku ini bahkan telah melampaui batas bahasanya sendiri ketika diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh The Emma Press dengan judul The Adventures of Na Willa. Namun, yang sesungguhnya menyeberang bukan hanya bahasanya, melainkan pengalaman yang dibawanya—tentang bagaimana seorang anak ingin didengar, dan bagaimana orang dewasa sering kali gagal mendengarkan.
Dari situlah Na Willa menjadi lebih dari sekadar cerita.
Ia adalah cermin bagi cara kita memandang pendidikan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan membaca dan menulis. Ia harus lebih dulu belajar mendengarkan. Dan bahwa setiap anak, sebelum diajari tentang dunia, perlu lebih dulu dipercaya bahwa ia sudah memiliki suaranya sendiri.
Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana, tetapi tidak mudah dijawab: “Berapa banyak anak yang hari ini berjalan dengan kerikil di dalam sepatunya, bukan karena mereka berbohong, tetapi karena kita tidak mau percaya?”
Dan di tengah ramainya layar bioskop hari ini, mungkin kita perlu kembali membuka bukunya, sebab dari sanalah semuanya bermula: dari seorang gadis kecil yang hanya ingin didengarkan. (*)
Editor: Kukuh Basuki
