Mengandai Kesinambungan Makna Kata “Universitas”

Naufal Rifky

6 min read

Senior saya pernah mengajari saya, bahwa tulisan akan jadi menarik bila tulisan tersebut sejak kalimat awal sudah dapat mengail atensi pembacanya. Ia mencontohkan kalimat-kalimat pembuka dari beberapa esai Goenawan Mohamad, yang jujur saja, memang menarik dibaca sejak kalimat pertama. Dan keutamaan kalimat pertama ini tak berlaku pada non-fiksi saja. Saya ingat Dea Anugerah pernah menyarankan hal yang sama dengan mengutip Metamorfosa dan Anna Karenina sebagai contohnya. Masuk akal, memangnya siapa yang ingin menghabiskan tulisan yang tak menarik dibaca sejak awal?

Muh Rizaldi dalam “Menalar Kesinambungan Makna Kata “Universitas”” berhasil melakukan hal ini. Tulisannya dibuka dengan baik: “Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di antara penyakit sebagian sarjana modern—khususnya di Indonesia—ialah abai terhadap hal-hal dasar yang sebetulnya penting. Tidak sedikit mahasiswa/i yang begitu asyik baca buku tema yang tinggi tapi ketika ditanya tentang buku pengantar keilmuan yang ia geluti justru nge-blank.” Artikel ini berangkat dari keresahan Muh Rizaldi terhadap maraknya bacaan “tinggi” dalam pergaulan mahasiswa, yang menjadikan mahasiswa suka omong tinggi, padahal ketika ditanya apa arti kata-kata teknis yang digunakannya, seringkali mahasiswa macam itu tak mengerti apa artinya. Muh Rizaldi kemudian mencoba mengungkap bahwa ada satu hal yang benar-benar dasar, namun terkadang hal ini tak disadari oleh mahasiswa-mahasiswa “si paling aktivis dan organisatoris”. Hal tersebut adalah makna dari “university“.

Penjelasan makna kata “university” disebutnya berkaitan dengan makna “verse” (terdapat kesalahan penulisan dalam esai menjadi “vers“) yang diartikannya sebagai “surah/ayat” yang kemudian dikaitkan dengan “universe” yang dimaknai “presentasi ayat-ayat alam semesta” yang lalu mengalami perubahan menjadi “university” yang dimaknai “tempat kumpulan ayat-ayat—baik qauliyah maupun kauniyah” (terdapat kesalahan penulisan lagi, kali ini berupa kesalahan transliterasi sehingga dalam esai tertulis qauniyah). Muh Rizaldi kemudian mengaitkan lagi “university” yang memiliki tugas akhir “script“, berasal dari “scripture” yang berarti kitab suci. Jadi, Muh Rizaldi beranggapan bahwa “skripsi itu sejatinya merupakan ‘kitab suci’ yang dibuat oleh mahasiswa yang sudah belajar beragam ayat qauliyah atau kauniyah di universitas”.

Baca juga:

Saya memahami bahwa Muh Rizaldi berusaha mengungkap bahwa perkuliahan yang tampak profan ternyata punya dimensi sakral. Saya setuju dengan hal ini. Bagi saya, kampus idealnya menjadi sanctum sanctorum keilmuan. Sayangnya, konstruksi argumen yang dibangun Muh Rizaldi, saya rasa sebentuk cocoklogi belaka. Merujuk pada Oxford Dictionary—yang dirujuk juga oleh Muh Rizaldi (dalam esai tertulis “kampus Oxford”, saya kira ini adalah kesalahan penulisan dari “kamus Oxford” yang lebih tepat), “verse” secara terminologi bermakna “penulisan yang disusun dalam bentuk baris-baris, yang biasanya berima”. Dalam konteks kitab suci, “verse” bermakna “pembagian yang dinomori dalam sebuah bab dalam Alkitab”. “Verse” ini secara etimologi berasal dari bahasa Latin versus, bentuk lampau dari vertere yang berarti “putaran”. Bagaimana kemudian “putaran” menjadi “semesta” dalam “universe”?

Merujuk etymoline.com, “universe” berasal dari bahasa Perancis Kuno, univers yang berasal dari bahasa Latin universum, yang terdiri dari unus yang artinya “satu” dan versus, sehingga menghasilkan makna “berputar menjadi satu”, “beralih menjadi satu”, “menyatu” atau “kesatuan” itu sendiri. Dalam terminologi modernnya, “universe” bermakna “keseluruhan ruang dan segala yang ada di dalamnya”, sehingga, kita kerap mengenal “universe” sebagai bahasa Inggris dari “alam semesta”. “University” yang merupakan perubahan kata “universe” yang biasanya digunakan dalam konteks akademik, merepresentasikan singkatan dari bahasa Latin universitas magistrorum et scholarium yang berarti “kesatuan/komunitas guru (master) dan pelajar (scholar)”. Selain itu, “universitas” juga bisa dimaknai dengan ”badan kesatuan antara manusia dan pengetahuan”.

Oleh karena itu, ”university” perlu dipahami tidak berasal dari ”universe” yang berasal dari “verse” yang bermakna “ayat”, apalagi “surah”. Bila kita mengumpamakan bahasa sebagai pohon, ”verse” yang berarti ”ayat” berada di ranting yang berbeda dengan ”universe” yang bermakna kesatuan, bukan dalam garis linear bila menelusuri akar katanya. Bayangkan ada dahan utama yang memiliki ranting menyimpang, dahan utama itulah ”verse” yang bermakna ”putaran” yang segaris dengan ”universe” yang berarti ”berputar menjadi satu”. Kemudian, bayangkan ranting yang menyimpang itu adalah “verse” yang bermakna “ayat” dan lihatlah, “universe” hanya bersambung dengan “verse” dalam arti “putaran”, bukan ranting “verse” dalam arti “ayat”!

Yang juga berada dalam satu garis linear adalah ”university” dengan ”universe”, sehingga “universe” tidak bermakna “presentasi ayat-ayat alam semesta”, melainkan kesatuan ayat-ayat semesta itu sendiri. “University”, dengan begitu, boleh saja dimaknai dengan “tempat kumpulan ayat-ayat—baik qauliyah maupun kauniyah” hanya semata-mata karena “university” bermakna “tempat kumpulan”, bukan karena “university” berasal dari unus ditambah “verse” yang berarti ayat.

Karena itu, bila kemudian Muh Rizaldi mengaitkannya dengan “’script’ akar kata dari scripture yang juga bisa diartikan ‘kitab suci’”, cocoklogi ini jadi semakin jauh. “Script” yang berarti tulisan (atau skripsi dalam konteks akademik), memang adalah tugas akhir mahasiswa sarjana, dan “scripture” memang bermakna “kitab suci”. Namun, dari segi etimologi, “script” bukanlah akar kata dari “scripture” atau kebalikannya, tetapi keduanya secara jauh berasal dari skribh dari bahasa Proto-Indo-Eropa yang berarti “memisahkan” yang kemudian menjadi scribere dalam bahasa Latin. Sama halnya dengan “verse” yang berarti ayat dan “universe”, “script” dan “scripture” juga berkembang sendiri-sendiri. “Script” berasal dari scriptum, dan “scripture” berasal dari scriptus yang keduanya merupakan bentuk lampau dari scribere.

Baca juga:

Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa “script” sebagai tugas akhir sarjana, tak memiliki hubungan dengan “scripture” selain mereka hanya berasal dari akar kata jauh yang sama. Karena itu, kurang tepat bila Muh Rizaldi—karena ia merasa “university” adalah “tempat kumpulan ayat”—lalu menyambungkannya dengan “scripture”. Saya melihat itu sebagai cocoklogi yang dicocoklogikan dengan cocoklogi yang lain. Yang pertama, “universe” tidak berasal dari akar kata “verse” yang berarti “ayat” melainkan “putaran”. “Universe” ini lalu punya kesinambungan makna dengan “university”, dan ini benar. Yang kedua, “university” yang dihubungkan dengan “ayat”, dicocokkan dengan “script” yang dihubungkan dengan “kitab suci”. Padahal—yang ketiga—“script” sebagai tugas akhir mahasiswa tidak punya hubungan dengan “scripture/kitab suci” selain hanya berasal dari akar kata yang sama dan kemudian keduanya berkembang sendiri-sendiri.

Bias Interpretasi

Saya yakin bahasa itu licin. Perbedaan interpretasi, multi-tafsir, bahkan adanya kemungkinan dekonstruksi atas suatu teks saya kira mencerminkan hal ini. Namun, di saat bersamaan, bahasa juga bersifat beku. Karena itu, bahasa memungkinkan adanya definisi atas suatu kata serta konstruksi makna. Bahasa yang terlampau licin tak memungkinkan dipakai berkomunikasi, sedang bahasa yang dingin padat membeku tak mungkin ditafsiri, dan ini tidak mungkin mengingat keterbatasan bahasa itu sendiri.

Saya bukan ahli sastra, tapi saya kira interpretasi Muh Rizaldi bisa jadi sah-sah saja. Hanya saja, perlu diingat, interpretasi demikian hanya cocoklogi belaka, tidak berdasar etimologis dan merupakan tafsiran alternatif, sehingga setiap usaha Muh Rizaldi untuk meneguhkan interpretasi pribadinya rapuh dengan sendirinya, sebab interpretasi itu sendiri memang tak punya dasar yang kuat.

Tentang “faculty”, apa yang disampaikan Muh Rizaldi adalah benar, dan saya tak akan mencari-cari kesalahan bila kesalahan itu memang tak ada. Dengan demikian, tersisa satu aspek saja yang belum diulas, yakni kritik Muh Rizaldi pada mahasiswa yang ber”buku tinggi”.

Perihal Membaca “Buku Tinggi”

Saya sebetulnya tak meyakini membaca adalah hobi saya. Sebab waktu yang saya luangkan untuk membaca terlampau sedikit dibanding alokasi waktu untuk hobi seharusnya. Meski begitu, bagaimanapun, saya lumayan akrab dengan kegiatan membaca, atau setidaknya dengan buku itu sendiri. Dan diakui atau pun tidak, saya sendiri juga kerap sok membaca ”buku tinggi”. Buku pertama yang saya beli ketika menginjak perkuliahan adalah—bisa ditebak—Madilog (Tan Malaka)—yang kemudian entah apa alasannya saya buang beberapa saat setelahnya.

Buku-buku berikutnya yang saya beli—sebab saya tak ingat urutan pastinya—juga bisa dianggap ”buku tinggi”, antara lain Sejarah Filsafat Barat (Bertarand Russel), The Structure of Scientific Revolution (Thomas Kuhn), Beyond Good and Evil (Friedrich Nietzsche) dan Origin of Species (Charles Darwin). Di antara buku-buku itu, yang sudah khatam hanya bukunya Kuhn saja, padahal buku-buku itu sudah setahun lebih berdiam di lemari.

Faktor pertama mengapa buku-buku itu tak kunjung selesai dibaca adalah buku-buku yang lebih menarik (dan baru) kian menjejali lemari saya. Faktor kedua, seperti saya sebut di awal, alokasi waktu untuk membaca itu terlampau sedikit dibanding yang ideal. Faktor ketiga, jujur saja, pembacaan atas buku-buku demikian terlampau melelahkan, sebab—seperti yang disampaikan Muh Rizladi—saya tak memahami dasar/pengantarnya terlebih dahulu (meski untungnya saya tak pernah ngeblank ketika ditanya istilah-istilah dasar). Saya setuju dengan Muh Rizaldi, bahwa bacaan tinggi pun perlu diikuti dengan pemahaman akan hal-hal yang fundamental terlebih dahulu. Karena, bila tidak, pembacaan itu akan terkesan ”sia-sia” sebab bagaimanapun, mengaplikasikannya butuh pengetahuan fundamental terlebih dahulu (ketika menulis ini, tiba-tiba di dalam kepala saya terputar Pelantur oleh The Adams).

Meski demikian, saya tak setuju bila pembacaan demikian disebut ”benalu”. Sebab, pertama, apa definisi Muh Rizaldi atas ”bacaan tinggi”? Origin of Species misalnya, sah dianggap sebagai bacaan tinggi sebab pembacaannya yang rumit dan karenanya jarang dibaca, namun, pada kenyataannya buku tersebut adalah fondasi keilmuan biologi modern. Jadi, jangan-jangan buku tersebut bukan ”bacaan tinggi” melainkan ”bacaan dasar”? Dikotomi ”bacaan tinggi” dan ”bacaan dasar” yang rancu ini terjadi pada berbagai buku, History of God dalam bidang teologi misalnya, atau Principia karya Newton, atau Relativitas karya  Einstein. Buku-buku macam ini bisa jadi terlampau ”tinggi” sebab ia terlampau ”dasar”. Ia bisa jadi terlalu rumit sebab memang terlalu fundamental.

Dalam dunia perkuliahan, kita lebih sering dicekoki jurnal-jurnal ilmiah dibanding karya langsung seorang pencetus teori yang sering berbentuk esai. Lalu, mana yang lebih tinggi, jurnal ilmiah tetapi hanya perkembangan, atau esai ilmiah populer yang pokok? Alih-alih menganggap buku-buku demikian “benalu”, saya bersyukur saya membaca buku demikian pada awalnya. Sebab buku-buku demikianlah yang meruntuhkan ego saya, membuat saya memahami bahwa masih banyak hal yang belum saya tahu dan bersikap rendah hati.

Buku-buku demikian juga yang akhirnya membuat bacaan-bacaan saya bertambah banyak. Itu terjadi ketika saya mencoba membaca From Darwin to Derrida oleh David Haig. Karena membaca buku itu memerlukan pemahaman atas Darwin dan Derrida terlebih dahulu, saya perlu membaca Origin of Species-nya Darwin dan memahaminya. Ternyata, Origin of Species saja tak mencukupi, sehingga saya perlu River Out of Eden dan The Selfish Gene oleh Richard Dawkins, The Malay Archipelago oleh Alfred Russel Wallace serta Evolusi oleh Ernst Mayr. Ini hanya untuk memahami seminimalnya apa itu Teori Evolusi Darwin.

Belum lagi untuk memahami Derrida, saya perlu membaca Derrida dan Derridean oleh Al-Fayyadl, juga pemikiran-pemikiran lain dari Husserl, Heidegger, dan Hegel, atau mungkin filsafat Lacan dan Lyotard, seminimal-minimalnya agar pemahaman saya jadi nyambung bila pada akhirnya baca From Darwin to Derrida. Daftar bacaan yang perlu dibaca pada akhirnya meluas sekali, dan sekali lagi menghantam dinding kesombongan saya dan merobohkannya. “Lihatlah s’kitarmu/ Bukalah matamu/ Masih ada waktu/ Banyak hal yang perlu engkau tahu” (Pelantur – The Adams)

Mungkin bila pembaca membaca tulisan Muh Rizaldi lalu membaca tulisan ini, pembaca akan merasa janggal dengan ketidaksepakatan saya atas tafsir “universe” sebagai “presentasi ayat-ayat semesta” karena Muh Rizaldi tidak menulis demikian. Alih-alih menjelaskan secara gamblang apa makna dari “universe”, ia mengambil contoh Miss Universe yang disebutnya “jika merujuk pada makna dasarnya, sebetulnya di situ ada pesan mendalam tentang beban tanggung jawab bagi mereka yang menyandang gelar itu sebagai ibu pertiwi dunia yang titahnya menjadi representasi ayat-ayat alam semesta bukan sekedar pamer kecantikan.”

Saya menalar, bisa jadi, karena Muh Rizaldi menyebut Miss Universe adalah representasi ayat-ayat alam semseta, maka baginya universe itu adalah presentasi ayat-ayat alam semesta itu sendiri. Inilah titik awal saya dalam menganalisis pemaknaan “universe” yang dipakai Muh Rizaldi. Sebab apa yang diterangkannya bisa jadi multi-tafsir dan belum cukup terang bagi saya, silahkan mengoreksinya dengan argumen sebab apa yang saya tulis merupakan argumen juga. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Naufal Rifky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email