Aesthetic atau Estetik bukan sekadar istilah visual, melainkan sebuah nilai keindahan dan artistik yang menciptakan harmoni dalam sebuah ruang. Dalam gaya hidup masa kini, konsep ini mewujud nyata melalui kehadiran kafe estetik—sebuah ruang yang didesain secara sadar dengan sentuhan interior dan eksterior yang unik. Di tempat-tempat seperti ini, setiap sudut tidak hanya diciptakan untuk kenyamanan, tetapi juga dikurasi sedemikian rupa agar tampak fotogenik, artistik, dan memiliki vibe khusus yang menarik untuk dibagikan ke media sosial, serta untuk menarik perhatian dari berbagai kalangan usia, terutama anak muda.
Sekarang ini, beraktivitas di kafe sudah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda, terutama mahasiswa. Sebelumnya, kafe hanya dianggap sebagai tempat untuk minum kopi atau bertemu teman, tetapi sekarang fungsinya semakin luas. Banyak orang datang ke kafe untuk mengerjakan tugas, meeting dengan client, bekerja secara fleksibel di kafe (work from cafe), membaca buku, atau hanya ingin menghabiskan waktu sendiri. Selain itu, saat ini banyak kafe juga menawarkan fasilitas tambahan seperti photobox, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Banyak orang yang datang ke kafe bukan hanya untuk melakukan kegiatan tertentu, tetapi juga ingin menggunakan fasilitas kafe sebagai bagian dari pengalaman yang ingin mereka simpan dan bagikan di media sosial, lengkap dengan gambar yang menarik dan aesthetic.
Baca juga:
Fenomena ini menunjukkan bahwa kafe tidak hanya berfungsi sebagai ruang fisik untuk berkumpul, tetapi juga merupakan ruang yang memiliki makna dan simbol tertentu. Foto seseorang yang duduk di kafe dengan laptop, buku, dan secangkir minuman tidak hanya menunjukkan aktivitas sehari-hari, tetapi juga menyampaikan pesan tertentu kepada audiens. Dalam hal ini, pendekatan semiotika Roland Barthes bisa digunakan untuk memahami cara makna tersebut terbentuk dan dihasilkan.
Menurut Barthes, tanda terdiri dari penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk nyata/fisik yang dapat dilihat, sedangkan petanda adalah gagasan atau makna yang diwakili oleh bentuk tersebut. Hubungan antara keduanya bersifat arbitrer dan dibentuk oleh budaya. Dalam fenomena kafe, penanda dapat berupa visual ruang aesthetic, laptop, buku, dan kopi, sementara petandanya berkaitan dengan aktivitas belajar, bermain, atau bekerja.
Pada tingkat denotasi, makna yang muncul bersifat langsung dan harfiah. Seseorang yang duduk di kafe dengan laptop bisa diartikan sebagai seseorang yang sedang mengerjakan tugas atau bekerja di luar rumah. Tidak ada makna tambahan selain aktivitas tersebut. Namun, dalam kenyataannya, foto atau video yang diunggah ke media sosial tidak bersifat netral. Ada proses pemilihan sudut pengambilan gambar, pencahayaan, serta komposisi visual yang sengaja diatur agar terlihat menarik.
Ketika unsur-unsur estetika tersebut ditambahkan, makna mulai bergerak ke tingkat konotasi. Pada tahap ini, aktivitas di kafe tidak lagi sekadar belajar, tetapi juga terkait dengan gaya hidup tertentu. Orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut bisa dianggap sebagai pribadi yang produktif, kreatif, dan memiliki selera modern. Kafe dengan desain minimalis dan pencahayaan hangat juga menjadi simbol ruang yang “ideal” untuk melakukan berbagai aktivitas.
Konotasi ini tidak muncul secara alami, melainkan dibentuk melalui pendekatan dalam budaya visual. Ketika banyak konten dengan pola yang sama beredar di media sosial, makna yang terbentuk menjadi lebih kuat. Caption seperti “productive day”, atau “working outside” memperkuat hubungan antara kafe dan produktivitas. Dalam hal ini, bahasa dan gambar bekerja bersama untuk menciptakan makna tertentu.
Lebih lanjut lagi, Barthes menjelaskan bahwa konotasi yang diulang terus-menerus bisa berkembang menjadi mitos. Mitos menurut Barthes bukan hanya cerita fiksi, tetapi merupakan sistem makna yang dianggap benar dan wajar oleh masyarakat. Dalam fenomena ini, beredar mitos bahwa tampilan yang produktif harus terlihat menarik, teratur, dan menyenangkan. Aktivitas belajar yang terbaik adalah yang bisa ditampilkan secara visual dan menerima respons positif melalui media sosial.
Mitos ini kemudian memengaruhi perilaku individu. Banyak mahasiswa memilih kafe sebagai tempat belajar bukan hanya karena tempatnya nyaman, tapi juga karena makna simbolik yang terkait dengan kafe tersebut. Di kota-kota seperti Bogor, fenomena ini bisa dilihat dari banyaknya kafe yang memiliki desain interior khusus, dirancang agar menarik perhatian secara visual. Tempat-tempat itu tidak hanya menjual makanan dan minuman, tetapi juga memiliki suasana yang “layak untuk difoto”.
Dari sudut pandang semiotika, kafe tidak hanya menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga merupakan simbol yang kaya makna. Ia tidak hanya merepresentasikan aktivitas konsumsi, tetapi juga menunjukkan siapa seseorang dan bagaimana ia menjalani kehidupan. Datang ke kafe dapat dimaknai sebagai bentuk partisipasi dalam budaya tertentu, yaitu budaya perkotaan yang modern dan gaul.
Peran media sosial dalam proses ini sangat penting. Platform seperti Instagram dan TikTok memiliki algoritma yang mendorong konten gambar/video yang menarik untuk disebarluaskan. Konten yang menarik secara estetika lebih mudah menarik perhatian dan membuat orang berinteraksi, jadi lebih sering muncul di halaman utama pengguna. Hal ini menciptakan siklus di mana pengguna terus-menerus membuat konten yang sama untuk mendapat perhatian dari orang lain.
Namun, perlu diingat bahwa apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mewakili keadaan sebenarnya. Banyak hal dalam proses belajar atau bekerja yang tidak terlihat, misalnya rasa lelah, distraksi, atau tekanan. Representasi yang ditampilkan lebih mengutamakan sisi yang menarik dan indah, sehingga membentuk gambaran yang tidak sepenuhnya nyata.
Dari sudut pandang Barthes, hal ini menunjukkan bagaimana mitos berperan secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari. Mitos tidak dipaksa, tetapi diterima secara perlahan karena terus diulang dan dianggap sebagai hal yang biasa. Ketika seseorang terus melihat gambarang yang sama berulang kali, mereka biasanya merasa itu adalah hal yang biasa dan dianggap wajar.
Meskipun demikian, fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Kafe bisa jadi pilihan alternatif yang nyaman untuk melakukan aktivitas, terutama bagi mahasiswa yang ingin menghabiskan waktu di tempat yang berbeda dari rumah atau kampus. Membutuhkan suasana baru agar tidak jenuh saat mengerjakan tugas. Namun, penting untuk diperhatikan bagaimana makna yang diberikan pada aktivitas tersebut tidak dijadikan satu-satunya penentu dalam mengukur produktivitas. Produktivitas tidak selalu harus tampil dalam bentuk yang menarik secara estetika, dan nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh bagaimana mereka terlihat di dunia digital.
Dengan demikian, dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, fenomena “cafe aesthetic” dapat dipahami sebagai sebuah sistem tanda yang beroperasi pada tiga tingkat, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Aktivitas biasa seperti minum kopi dan bekerja di luar rumah kini memiliki makna yang berubah menjadi simbol gaya hidup serta identitas sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa di masyarakat saat ini, kehidupan tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi, tetapi juga oleh cara peristiwa itu diterapkan dan dipahami oleh orang-orang.
Baca juga:
- Ngafe Yuk! Mau kafe literasi, kafe gamers, atau kafe konten?
- Warkop sebagai Parlemen Mini Mahasiswa
- Menemukan Ruang Nyaman bagi Perempuan di Gowa
Selain itu, fenomena ini juga bisa dihubungkan dengan perubahan cara seseorang membangun relasi sosial. Kafe bukan hanya tempat untuk melakukan aktivitas pribadi, tetapi juga menjadi ruang interaksi atau yang kita kenal sebagai “tempat nongkrong”, yang menunjukkan bagaimana identitas terbentuk bersama-sama. Keberadaan seseorang di suatu ruangan biasanya disebabkan dari keinginan untuk diakui sebagai bagian dari kelompok tertentu, terutama kelompok yang dianggap modern dan selalu mengikuti perkembangan tren terbaru. Dalam konteks ini, tanda-tanda visual yang ditampilkan—seperti jenis minuman, gaya berpakaian, hingga perangkat yang digunakan—juga turut membentuk citra diri seseorang.
Jika dilihat lebih dalam, menurut saya praktik ini menunjukkan bahwa konsumsi tidak lagi semata-mata berkaitan dengan kebutuhan, tetapi juga dengan produksi makna. Aktivitas kecil seperti memilih lokasi untuk melakukan kegiatan bisa menjadi cara simbolik dalam membentuk identitas seseorang. Oleh karena itu, analisis semiotika penting untuk mengerti bahwa di balik hal-hal yang tampak biasa, terdapat proses penandaan yang rumit dan terus berkembang dalam kehidupan masyarakat saat ini. (*)
Editor: Kukuh Basuki
