Menemukan Ruang Nyaman bagi Perempuan di Gowa

Evi Jeremias

3 min read

Kebingungan adalah teman perjalanan saya di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sebagai seorang pendatang, saya merindukan sesuatu yang sangat mendasar: sebuah jeda. Saya memerlukan tempat yang tenang, di mana saya bisa duduk, menyeruput kopi hangat, dan yang paling penting, menurunkan kewaspadaan tanpa merasa terancam atau diawasi. Kebutuhan ini—mencari ruang publik yang benar-benar nyaman dan aman bagi seorang perempuan yang sendirian—mungkin terdengar sepele. Namun, bagi kami, ini adalah perburuan yang melelahkan. Ruang yang menawarkan ketenangan pikiran, bukan hanya minuman yang enak, adalah sebuah kemewahan yang langka.

​Saya mencoba peruntungan melalui algoritma media sosial yang konon tahu segalanya. Harapan saya sederhana: semoga ia bisa mengantarkan saya ke tempat yang tidak hanya menyajikan kopi, tetapi juga privasi yang utuh.

​Dari sanalah, saya disuguhi Kasikopi. Sebuah nama yang langsung menarik perhatian saya. Mereka secara eksplisit menyatakan hanya menerima pelanggan perempuan. Di tengah keramaian Gowa yang didominasi oleh ruang-ruang publik dengan bias gender yang tebal, konsep ini terasa seperti oasis yang berani. Sebuah deklarasi kecil bahwa perempuan berhak atas ruang mereka sendiri.

Baca juga:

Rasa penasaran bercampur kebutuhan membuat saya langsung memutuskan untuk datang. Mengapa kita harus menciptakan ruang terpisah? Jawabannya ada pada kenyataan pahit yang melekat pada pengalaman perempuan: tatapan mengganggu, interaksi yang tidak diminta, dan ancaman ketidaknyamanan yang selalu mengintai. Tempat ini menjanjikan perlindungan dari semua itu.

Kehangatan yang Menghapus Kecemasan

​Saya tiba di Kasikopi pada pagi yang masih sejuk, saat udara belum terlalu padat oleh aktivitas. Begitu pintu terbuka, kesan yang saya dapatkan bukanlah formalitas tempat usaha, melainkan kehangatan sebuah rumah. Barista bernama Dian menyambut dengan senyum ramah yang tulus, menghilangkan sisa-sisa kegelisahan yang sempat saya bawa dari jalanan. Segera setelah duduk, beban di pundak terasa ringan. Saya tidak sedang berada di ruang publik yang harus saya taklukkan, melainkan di tempat yang dirancang untuk menerima.

​Saya memesan Sweet n Salty, sebuah minuman andalan mereka, bersama dengan Original Croissant. Kombinasi itu memanjakan lidah saya: kopi yang lembut dengan kejutan rasa yang pas, dan croissant yang renyah serta hangat. Namun, kelezatan di lidah hanyalah pelengkap. Inti dari pengalaman ini adalah atmosfernya.

​Saya memilih sudut terjauh, membuka buku yang memang sengaja saya bawa. Suasana di dalam sangat mendukung untuk tenggelam dalam konsentrasi. Pencahayaan kuning temaram menciptakan kehangatan visual, AC stabil, dan yang paling saya syukuri, tidak ada suara gaduh atau obrolan keras yang memecah fokus.

Di tempat lain, menikmati waktu sendirian di ruang publik sering kali berarti harus membangun dinding pertahanan, siap sedia melawan pandangan atau interaksi yang tidak diinginkan. Tetapi di sini? Tidak ada sorot mata yang membuat risih. Hanya ada ketenangan dan privasi murni, sebuah pengalaman yang terasa mewah bagi saya.

Kontras Keterasingan dan Kepemilikan

​Saat saya mendongak, saya melihat pemandangan yang menarik. Tepat di seberang Kasikopi, berdiri sebuah warung kopi (warkop) sederhana yang, seperti ribuan warkop di Indonesia, dipenuhi oleh para lelaki. Pemandangan ini menciptakan kontras yang tajam, baik secara visual maupun nilai.

​Warkop di seberang mewakili ruang publik tradisional yang secara tak terhindarkan didominasi oleh maskulinitas. Sementara itu, Kasikopi berdiri tegak, memproklamirkan ruang eksklusif secara gender demi keamanan. Batas fisik dan nilai yang dijaga di dalam Kasikopi terasa jelas. Dinding-dindingnya seolah bukan terbuat dari beton, melainkan dari rasa saling menjaga dan pengakuan kolektif atas hak perempuan untuk merasa aman tanpa syarat.

Baca juga:

​Pengalaman ini memicu refleksi mendalam: mengapa saya harus mencari ruang terpisah hanya untuk mendapatkan kenyamanan? Jawabannya terletak pada kegagalan ruang publik secara umum untuk menjamin keamanan dan kesetaraan.

Ketika seorang perempuan datang sendirian, seringkali ia dipersepsikan sebagai ‘mudah didekati’ atau ‘bisa diganggu’. Di Kasikopi, semua asumsi itu lenyap. Saya bebas menikmati kopi, bekerja, atau sekadar melamun tanpa perlu mengkhawatirkan penilaian atau potensi pelecehan. Ruang ini menjadi laboratorium kecil di mana ketenangan adalah norma, bukan sesuatu yang harus saya perjuangkan.

Kepedulian yang Melampaui Transaksi

​Kepedulian Kasikopi tidak berhenti pada kebijakan gender, tetapi meresap ke dalam detail kecil yang sangat berarti. Saya melihat bentuk pemahaman menyeluruh terhadap kebutuhan spesifik perempuan yang sering diabaikan.

​Contoh paling nyata adalah di toilet, di mana tersedia dua jenis pembalut gratis. Detail ini bukan sekadar bonus kecil; ini adalah bentuk pengakuan dan validasi bahwa kebutuhan menstruasi perempuan adalah hal yang serius dan perlu diantisipasi. Ini mengirimkan pesan kuat yang terasa personal: “Kami melihat Anda, kami memahami kebutuhan tubuh Anda.”

​Selain itu, keberadaan musala yang bersih dan nyaman memudahkan saya menunaikan ibadah tanpa harus terburu-buru mencari tempat lain. Semua detail ini—mulai dari pencahayaan yang tenang, ketiadaan sorot mata mengganggu, hingga fasilitas dasar perempuan—menegaskan esensi ruang aman yang holistik. Tempat ini melayani saya sebagai individu dengan kebutuhan yang utuh, bukan hanya sebagai konsumen kopi yang lewat.

​Meninggalkan Ruang Aman

​Saya meninggalkan Kasikopi dengan perasaan ringan dan penuh. Rasanya seperti menemukan tempat persembunyian kecil yang ingin saya kunjungi kembali berkali-kali. Kasikopi bukan hanya tentang secangkir kopi yang enak; ini adalah tentang perlawanan kecil terhadap dominasi patriarki ruang publik yang terasa menyesakkan.

​Keberadaan coffeeshop khusus perempuan seperti ini di Gowa adalah sebuah manifestasi bahwa keamanan bukanlah sekadar absennya ancaman, melainkan kehadiran kenyamanan dan pengakuan. Ini adalah pengingat yang kuat bahwa saya, sebagai perempuan, berhak untuk menikmati waktu, bekerja, dan bercengkerama di ruang publik tanpa beban rasa waspada, dihargai, dan dipahami.

​Di tengah perjuangan menuntut kesetaraan akses ke seluruh ruang publik tanpa diskriminasi, inisiatif seperti Kasikopi menjadi titik tolak penting. Ia menunjukkan betapa besarnya permintaan (demand) untuk ruang yang secara aktif memprioritaskan keamanan perempuan. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa terkadang, untuk merasa setara di ruang yang lebih besar, kita harus terlebih dahulu menemukan kedamaian dan kepemilikan di ruang yang lebih kecil. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Evi Jeremias

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email