Dalam perjalanan menuju kantor beberapa pekan lalu, muncul pertanyaan sederhana yang telah lama mengusik. Apakah ikhlas itu sungguh ada? Gugahan ini terasa makin penting ketika kita berbicara tentang kehilangan, sebab dalam setiap peristiwa duka atau kehilangan, nasihat yang paling sering terdengar adalah “yang ikhlas, ya.” Kalimat tersebut hadir di rumah duka, di pesan singkat, di ruang tamu, di pemakaman, bahkan di kepala orang yang sedang hancur. Seolah-olah setelah kehilangan, tugas pertama manusia adalah menjadi ikhlas.
Tetapi. pertanyaannya adalah, ikhlas yang seperti apa?
Jika kita jujur, banyak orang yang disebut “sudah ikhlas” sebenarnya bukan telah mencapai suatu penerimaan dan kejernihan batin yang luhur. Mereka hanya kehabisan tenaga untuk terus melawan kenyataan. Mereka bukan berdamai dalam arti yang paripurna. Mereka hanya belajar bahwa hidup, dengan kejamnya, tidak memberi pilihan selain terus berjalan.
Kita hidup dalam kebiasaan menyederhanakan duka dengan kata-kata yang terdengar mulia. Ikhlas adalah salah satunya. Kata ini terdengar hangat, dewasa, bahkan religius. Masalahnya, ia sering terlalu cepat ditempelkan pada pengalaman kehilangan yang sesungguhnya jauh lebih kacau serta kompleks. Kehilangan bukan peristiwa yang langsung melahirkan kebijaksanaan. Kehilangan lebih sering melahirkan kebingungan, penolakan, amarah, rasa hampa, dan kelelahan yang diam-diam menggerogoti diri.
Baca juga:
Lalu waktu bergerak. Hari berganti. Orang yang kehilangan tetap harus bangun pagi, mandi, menjawab pesan, bekerja, makan, mengurus rumah, memenuhi kewajiban yang tidak peduli pada luka batin akibat kehilangan. Dari luar, semua itu terlihat seperti tanda bahwa ia sudah pulih, bahwa ia sudah menerima, bahwa ia sudah ikhlas. Padahal, yang sesungguhnya terjadi jauh lebih sederhana sekaligus lebih getir, yaitu ia mulai terbiasa.
Ikhlas atau Adaptasi?
Pada titik ini, kita perlu membedakan secara tegas antara ikhlas dan adaptasi. Ikhlas sering dibayangkan sebagai keadaan batin yang bersih, lapang, selesai. Sementara adaptasi adalah kemampuan manusia menyesuaikan diri terhadap kenyataan, termasuk kenyataan yang tidak pernah ia inginkan. Yang satu terdengar ideal, yang lain sangat manusiawi.
Manusia memiliki kapasitas untuk menyesuaikan diri dengan penderitaan. Karena jiwa manusia, sampai pada batas tertentu, mampu menyusun ulang ritme hidupnya setelah guncangan. Kesedihan tidak selalu hilang, ia hanya berubah bentuk. Tangis tidak selalu lenyap; ia hanya tidak selalu muncul di permukaan. Kehilangan tidak selesai, ia hanya tidak lagi melumpuhkan setiap detik.
Itulah sebabnya, bagi saya banyak orang salah menamai ketahanan sebagai ikhlas. Ketika seseorang tidak lagi menangis setiap hari, kita bilang ia sudah menerima. Ketika ia mulai tertawa lagi, kita bilang ia sudah rela. Ketika ia kembali bekerja, kita bilang ia sudah kuat. Kita terlalu cepat memberi makna moral pada sesuatu yang mungkin, hanyalah hasil dari penyesuaian yang panjang dan sunyi.
Ketika Duka Diadili dengan Kata-Kata
Masalah dari cara pandang ini bukan sekadar soal istilah. Ada akibat yang lebih serius. Kita membuat orang berduka merasa bersalah atas dukanya sendiri. Seolah-olah bila ia masih sedih setelah sekian bulan, berarti ia belum dewasa. Bila ia masih marah, berarti ia kurang lapang. Bila ia belum bisa ikhlas, berarti ada yang salah dengan jiwanya. Padahal mungkin tidak ada yang salah. Mungkin ia hanya manusia.
Filsafat memberi kita bahasa yang lebih jernih untuk melihat ini. Dalam tradisi Stoa, misalnya, manusia diajak membedakan mana yang berada dalam kendalinya dan mana yang tidak. Kehilangan, terutama kematian dan perpisahan, jelas berada di luar kuasa kita. Maka respons yang rasional bukan memaksa diri merasa damai, melainkan mengakui batas: ini terjadi, ini menyakitkan, dan aku tidak bisa mengubah fakta itu.
Penerimaan semacam ini tidak romantis. Ia tidak seindah kata ikhlas, tetapi justru karena itulah ia lebih jujur. Ia tidak menuntut seseorang untuk tampak luhur di tengah kehancuran. Ia hanya meminta keberanian untuk menatap kenyataan tanpa topeng.
Baca juga:
Barangkali selama ini kita terlalu memuliakan bahasa, dan terlalu sedikit menghargai realitas. Kita suka kata-kata yang terdengar bersih, padahal pengalaman manusia tidak pernah benar-benar bersih. Duka itu berantakan. Kehilangan itu tidak runtut. Kadang seseorang tampak tenang di siang hari lalu runtuh di malam hari. Kadang ia bisa berbicara biasa tentang orang yang telah pergi, lalu mendadak hancur hanya karena mencium aroma yang mengingatkannya pada masa lalu. Tidak ada garis lurus dalam kesedihan.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita lebih berhati-hati dengan nasihat “ikhlaskan saja.” Kalimat itu sering tidak menolong. Dalam banyak kasus, ia justru terdengar seperti tuntutan agar orang segera menyelesaikan sesuatu yang memang tidak bisa diselesaikan dengan perintah. Tidak semua luka perlu diikhlaskan. Sebagian luka hanya perlu diakui. Sebagian kehilangan tidak perlu diberi nama yang besar, ia hanya perlu ditemani.
Melihat kehilangan secara lebih rasional bukan berarti menghilangkan sisi emosionalnya. Justru sebaliknya, itu berarti kita memberi tempat yang wajar bagi emosi, tanpa memaksanya menjadi sesuatu yang luhur demi kenyamanan sosial. Orang yang berduka tidak selalu membutuhkan nasihat. Kadang ia hanya butuh diizinkan untuk tetap merasa kehilangan tanpa diadili.
Maka ketika kita bertanya, apakah ikhlas itu ada? mungkin jawaban yang lebih jujur adalah: entah. Atau, kalau pun ada, ia bukan sesuatu yang bisa dituntut dari setiap orang yang kehilangan.
Yang lebih nyata, lebih dapat diamati, dan lebih dekat dengan pengalaman manusia adalah, orang tidak selalu ikhlas, tetapi mereka bisa terbiasa. Mereka tidak selalu damai, tetapi mereka bisa bertahan. Mereka tidak selalu sembuh, tetapi mereka belajar hidup dengan bagian yang patah.
Dan mungkin, dalam dunia yang terlalu gemar memoles luka dengan kata-kata indah, keberanian untuk mengatakan “saya belum ikhlas, saya hanya sedang belajar hidup dengan kehilangan ini” justru merupakan bentuk kejujuran yang paling matang.
Editor: Prihandini N
