Saya pro gerakan boikot, divestasi, dan sanksi atau BDS. Alasannya murni pada kemanusiaan. Saya juga setuju, tidak ada sikap netral terhadap apapun. Lebih lanjut, saya berpendapat bahwa memilih untuk tidak bersuara pada genosida sama saja dengan mendukung genosida itu sendiri.
Ah, betapa jahatnya orang yang punya otoritas lebih untuk berpendapat tapi bukannya digunakan dengan baik, tapi malah semena-mena. Itulah yang terjadi pada Thom Yorke. Vokalis Radiohead, grup musik asal Inggris. Grup musik favorit saya sepanjang masa. Sikap Thom beserta bandnya yang katanya “netral” mungkin sudah terdengar lama. Sebab, itu sudah diangkat sejak 2017. Sebelum dan sesudah panggung mereka di Tel Aviv.
Saya pribadi tidak ada masalah dengan semua gerakan boikot. Tapi, saya harus jujur bahwa ada perasaan berat hati untuk memboikot Radiohead. Pasalnya, kalau urusan musik itu nggak ada gantinya. Kalau urusan makanan dan produk lainnya, saya rasa semua orang mudah untuk meninggalkan. Sementara musik, sudah pasti lebih sentimentil.
Meninggalkan Radiohead tidaklah semudah itu
Mudah sekali untuk bilang “daripada dengar Radiohead, mending dengar band ini”. Kenyataannya, sampai hari ini, semua produk yang saya boikot, tersisa Radiohead saja yang masih saya konsumsi diam-diam. Bagaimanapun, Radiohead dan semua karyanya tetap jadi nomor satu di hati saya.
Baca juga:
- Pak Prabowo, Palestina Tidak Butuh Direlokasi, tapi Kemerdekaan!
- Mengatasi Sektarianisme dan Hipokrisi Barat dalam Isu Palestina
Musik bukan makanan. Misalnya, kalau kita memboikot McDonald, masih banyak alasan untuk meninggalkan McDonald meski tanpa ada gerakan boikot. Sama halnya dengan produk lain. Produk fesyen misalnya. Ada perbandingan apple to apple yang bisa langsung dijadikan substitusi. Sedangkan musik Radiohead, ya cuma bisa saya temukan di Radiohead.
Nggak usah bohong lah, semirip apapun orang mengarang sebuah lagu dengan Radiohead, mereka tetap bukanlah Radiohead. Dan saya sedang berusaha jujur bahwa gerakan boikot tidak semudah itu. Justru saya di sini menunjukkan kekecewaan yang amat dalam terhadap idola saya. Katanya, orang yang paling marah, justru yang paling sayang kan?
Kalau dihitung-hitung, sudah hampir 10 tahun saya menggemari Radiohead. Dan selama itu pula, Radiohead selalu ada di tangga musik teratas saya. Bisa dibilang, saya sudah kenal luar dan dalamnya. Otomatis, pengaruh mereka terhadap kehidupan saya secara utuh juga besar. Setidaknya, dalam urusan hiburan sehari-hari.
Seandainya ditarik lebih jauh, pengaruh mereka terhadap saya di urusan yang lain juga besar. Contohnya, urusan mengarang lagu atau menulis sebuah satir. Saya sedikit banyak mencontoh, menjiplak, atau apapun itu lah namanya dari karya-karya mereka. Dan itu semua kebanyakan saya lakukan secara tidak sadar. Artinya, memang sudah senyangkut itu.
Memangnya, Ada Apa dengan Thom Yorke (atau Radiohead)?
Seperti saya sampaikan, ini semua bermula dari panggung mereka di Tel Aviv pada 2017. Dari sana, sudah muncul ajakan untuk tidak tampil. Dengan alasan, seminimal-minimalnya, panggung mereka bisa mendukung gerakan genosida yang terjadi di Gaza. Diikuti dengan asumsi orang terhadap sikap Thom Yorke beserta bandnya terhadap urusan Palestina dan Israel.
Mantan basis Pink Floyd, Roger Waters yang merupakan pendukung gerakan BDS sudah berusaha membujuk, paling tidak menyadarkan Thom perihal kemanusiaan. Thom memang pandai dalam urusan satir. Tapi, seharusnya itu berhenti pada penulisan-penulisan liriknya saja. Bukan ketika membahas isu genting seperti ini. Kata Thom, Roger Waters adalah polisi moral. Sementara, Thom dan bandnya sekadar berusaha mendekatkan diri pada penggemar.
Dari sana, pandangan publik terhadap Thom Yorke dan Radiohead melebar ke mana-mana dan simpang siur nasibnya. Namun, itu semakin jelas lewat aksi bodohnya pada Oktober 2024. Di penampilan tunggalnya, seorang penonton protes karena sikap apatisnya terhadap Palestina dan Israel. Ujung-ujungnya, ia malah mencemooh penonton itu dan meninggalkan panggung.
Baca juga:
Sampai akhirnya pada 31 Mei 2025. Ia katakan di caption kiriman Instagramnya. Fills in the blanks. Saya kira, nggak perlu dijelaskan panjang lebar lagi. Yang ada bikin naik darah. Thom cuma menyampaikan bahwa ia ada di tengah-tengah, playing victim, dan hal-hal yang biasa dilakukan oleh para zionis biadab.
Mari menyatukan antara karya dan senimannya
Jelas sudah. Saya memutuskan untuk meninggalkan Radiohead dan berhenti mendengarkannya lagi. Sejujurnya, masih ada cara lain untuk tetap menikmati karya-karya para seniman itu tanpa harus mendukung seniman-seniman itu secara personal. Tapi, ah itu sama saja bohong.
Terima saja kenyataan bahwa karya-karya bagus, indah, luar biasa dari Radiohead tercipta dari seorang Thom Yorke yang sangat tidak manusiawi. Sikap netral terhadap penindas sama saja mendukung penindas. Kita semua tahu itu. Nggak perlu bawa-bawa urusan Hamas pada serangan Oktober 2023 lalu. Apa artinya jika dibandingkan tekanan yang selama ini diberikan Israel terhadap Palestina? Dan itu pun kalau nyawa manusia masih mau dihitung sebagai statistik.
Memang begitulah seniman. Pola pikirnya nggak akan pernah bisa dijangkau orang biasa. Entah itu dalam urusan kebaikan maupun keburukan. Dalam urusan karyanya maupun kehidupan nyata. Seniman bukan Tuhan. Dan karena seniman bukan Tuhan, kita juga berhak dan masih punya alasan untuk membencinya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
