masihkah ada puisi cinta?
pada malam minggu,
sedih menguap, derita lenyap
tanpa aba-aba; seekor tupai
mematung-gigil, dibanjiri cemas
yang dingin di dahan pohon mahoni,
ia selalu bersembunyi dari penciuman
kucing yang sanggup mengejar-latahnya,
lalu menerkamnya dengan gigi tajam
bagai sabit sang maut.
apakah mungkin
masih bisa mendengar puisi cinta
di tengah hidup tanpa sedih, tanpa derita
dan tanpa takut akan gigitan kucing?
–
sebelum kita menyeberang
semasa bocah, kita selalu ragu-ragu
menyeberang sungai itu. padahal, kita
baru saja mandi bersuka-ria di sungainya.
ketika ada angin yang berseru,
“menyeberanglah, wahai bocah!”
kita sekonyong-konyong diserang ragu,
seolah tak ada yang pasti di seberang sana. “tapi, kita harus menyeberang,” katamu.
“di seberang sana, hanya ada maut
yang menjelma kota urban, yang mampu
memuaskan hasrat-napsu,” ucap angin,
yang lama-lama merasa kasihan
melihat kerapuhan kita.
–
yang tak bisa diulang
bulan tak akan pernah memberi tanda
sebelum ia menjatuhkan sepi
ke tiap-tiap dinding kamar
yang menampung seluruh cahaya redup
dari jauh.
sepi itu, diam-diam
menghantarkan pikiran pada ingatan
perihal peristiwa-peristiwa besar
yang tak bisa diulang: seperti
kelahiran seorang nabi di muka
bumi, atau ledakan besar
yang memulai segalanya dari kekosongan.
esok hari,
seorang perempuan jalang
melahap habis jantung si muncikarinya
yang tengah menikmati tubuhnya.
ia menciptakan
peristiwa lain yang juga
tak bisa diulang.
–
permainan terakhir
maut itu seperti
bocah yang sedang
mengejar layang-layangnya
yang putus, lalu tersangkut
di kepalamu.
*****
Editor: Moch Aldy MA
