Sejarah yang Mengenakan Wajahku Sendiri
mula-mula,
wajah itu kupinjam untuk berteriak
agar yang menakutkan
takut padaku.
lama-lama,
ia mulai bicara lebih dulu dariku.
kemudian,
kupakai ia untuk menyambut tamu,
menyimpan duka
di balik senyum plastik yang nyaris lengket.
kini,
topeng itu tidur lebih nyenyak dariku.
ia bermimpi dengan wajahku,
sementara aku
kehilangan cara
untuk membuka kulitku sendiri.
–
Aamiin Tanpa Tanda Tangan
Tuhanku
jangan beri aku kemenangan
beri aku bangun esok pagi
dengan leher yang masih mampu menoleh
dan tangan yang tak otomatis mengangguk
jangan buat musuh-musuhku lemah
tapi kuatkan sendi lututku
saat harus berdiri di ruang tanpa sekutu
jika perlu
buatlah aku gagal
asal aku masih bisa
menyebutkan satu kebenaran
tanpa menutup jendela
aamiin
tanpa tanda tangan
–
Catatan untuk yang Bertahan
aku menulis untukmu yang telah kehilangan kepercayaan
kepada statistik kepada juru bicara kepada
perwakilan manusia yang tidak tahu malu
kepada pemungut suara yang tidak tahu siapa yang
mereka pilih
aku menulis ini bukan karena aku lebih baik tapi karena
aku tidak tidur
dan malam adalah jam di mana suara-suara yang tidak
punya kantor
berbisik kepada orang-orang biasa dengan paru-paru
setengah penuh dan hati yang letih
aku menulis untukmu yang tahu
bahwa kebenaran kadang lebih ringan dari sepucuk surat
dan lebih berat dari pengakuan dosa
yang tahu bahwa darah bisa menguap dari sejarah dan
muncul di meja makan
yang tahu bahwa kata kita bisa memenjarakan lebih dalam
dari kata mereka
yang tahu bahwa batu bisa menjadi tubuh dan tubuh bisa
menjadi statistik
aku menulis tanpa jeda karena jika aku berhenti aku akan
mendengar
derak kecil dari langit-langit suara pelan dari radio yang
terus menyala
walau tidak ada yang mendengarkan
dan semua ini bukan metafora
karena satu-satunya yang tidak berbohong adalah
tubuhmu yang mengerut saat musim berganti
dan wajahmu yang tidak dikenali oleh kamera keamanan
aku menulis untuk yang tahu bahwa kesabaran
bukanlah kebajikan
melainkan bentuk pasrah yang halus
untukmu yang menolak menjadi pahlawan karena terlalu
sering melihat pahlawan dikubur tanpa nama
untukmu yang menolak menjadi martir karena tidak ada lagi
martabat dalam mati demi slogan
untukmu yang berjalan kaki dalam hujan dan tidak
menulis puisi tentangnya
aku menulis dengan satu napas
karena jeda bisa disalahartikan sebagai keraguan
dan keraguan telah ditandai sebagai kelemahan dalam
formulir sensus
aku menulis ini untukmu
yang masih menggigit roti dengan malu
yang menyeka keringat bukan sebagai simbol kerja tapi
sebagai upaya untuk tidak terlihat
yang menutup jendela tidak karena angin tapi karena
terlalu banyak mata
yang mendengarkan sunyi dan tidak mencatatnya
aku menulis karena barangkali kata-kata bukan jawaban
tapi semacam luka yang tidak jadi bernanah
semacam doa yang tidak tahu kepada siapa ia ditujukan
semacam batu di saku
semacam berat yang diam-diam memberi bentuk pada
langkahmu
dan jika satu pun dari kalimat ini menyentuhmu
jangan berterima kasih
karena aku juga menulis ini agar aku tidak melupakan
bahwa aku ada
bahwa kau ada
bahwa kita masih bisa memilih untuk tidak menjadi
mereka
–
Perjalanan Kedelapan
ia tiba
di negeri yang penduduknya semua berkata:
“kami mencintai kebenaran”
tapi tak satu pun
mau melihatnya dalam wajah orang asing
mereka undang ia ke pesta
bernama Simposium Etika
dan menolak masuk
karena sepatu botnya berdebu
mereka menulis deklarasi
tentang kebebasan
tapi tak suka
jika didebat
ia kembali pulang
dengan kantong kosong
dan catatan:
“kebenaran dicetak di pamflet
bukan di mata penduduknya.”
–
Aku Berbicara kepada Diriku dalam Cahaya Suram Sebuah Jendela Tua
aku berbicara kepada diriku dalam cahaya
suram sebuah jendela tua
dan jendela itu menghadap ke reruntuhan perpustakaan
yang dibakar orang-orang dengan keyakinan tak
tergoyahkan
bahwa api lebih murni daripada kata-kata
dan aku duduk di kursi warisan seorang profesor etruska
yang percaya bahwa debu adalah satu-satunya bahasa
yang adil
sebab tak membedakan antara tengkorak penyair dan
pembunuh
dan aku mendengarkan suara di dalam tubuhku yang
berkata:
bertahan, bertahan
meskipun tak ada yang tinggal
kecuali sehelai kulit tipis di atas tulang kesadaran
dan kata-kata dari ayat-ayat lama
yang telah dilupakan bahkan oleh imamnya sendiri
dan aku mendengar kaki tentara di atas marmer tua
dan aku ingat suara sendal ibu
ketika ia menyelinap ke dapur
untuk menyembunyikan roti dari penguasa
yang memungut pajak atas lapar
dan aku mencium bau tinta
yang telah menjadi darah di arsip-arsip tua
dan aku berkata:
jangan berlutut
kecuali untuk mencium tanah
tanah itu sendiri
yang menanggung beban semua pengkhianatan
dan kebenaran yang gagal
dan aku menggambar garis dengan pensil tumpul di atas
peta kuno
bukan untuk menandai negara
tetapi reruntuhan
di mana aku bisa mengubur suara ini
jika suatu hari aku kehilangan keberanian untuk bicara
dan aku bertanya kepada tubuhku
berapa lama kita bisa bertahan
jika tak satu pun dari sejarah
memberi kita tempat untuk duduk
dan aku melihat bayangan bayonet di sisi matahari
dan aku mendengar suara dari mulut seseorang algojo yang
mengatakan:
ini demi masa depan
dan aku menjawab dengan suara yang sama datarnya:
masa depan tak pernah datang
bagi mereka yang dibungkam
dan aku menyimpan batu kecil dalam sakuku
sebagai ingatan
bahwa dahi para martir pun rapuh
dan bahwa puisi tak bisa menyelamatkan hidup
hanya nama
dan nama pun kadang tak cukup kuat
untuk menahan angin sensor
dan aku tahu–aku tahu
bahwa hari akan datang
ketika aku harus memilih
antara selimut dan kata terakhir
dan aku tahu bahwa aku akan memilih kata itu
meskipun dingin menelan seluruh alfabet
karena kata itu akan berkata:
aku hidup
dan itu sudah cukup.
