Yang Ikut Tergantung
Kita menulis
di atas luka.
Malam selalu menyimpan
bunyi kecil yang sulit diterangkan,
seperti sesuatu yang patah
tanpa pernah terdengar jatuh.
Ada yang nyelekit mencubit bulan—
langit pun terlalu luas
untuk menanggung sunyi sendirian.
Kita mengira yang terluka cahaya.
Padahal yang nyeri
sesuatu di dalam dada,
yang diam-diam
ikut tergantung di sana.
–
Gaza Itu Sederhana
Gaza itu sederhana.
Seperti banyak perkara
yang terlalu lama dibawa ke meja-meja besar,
lalu pulang dengan bahasa
yang semakin sulit dimengerti.
Orang-orang menggambar peta,
membuat garis,
memberi nama perjanjian,
mendirikan pagar,
lalu menambahkan catatan kaki
agar semuanya tampak masuk akal.
Padahal sejarah sudah terlalu sering
mengulang caranya sendiri.
Dulu benua diambil dari orang-orang
yang bahkan belum selesai
memberi nama sungai-sungainya.
Dulu tanah dibagi di atas meja,
sementara mereka yang tinggal di atasnya
tidak ikut duduk di kursi.
Dulu orang-orang datang
membawa bendera, kitab, meriam,
dan kalimat-kalimat indah
tentang ketertiban.
Lalu sesudahnya,
selalu ada seseorang berdiri di depan rumah,
diam cukup lama,
karena sulit memahami
bagaimana halaman tempat ia tumbuh
tiba-tiba menjadi alamat orang lain.
Banyak tempat tahu bunyi itu.
Papua juga.
Dunia menghafalnya terlalu baik.
Maka Gaza itu sederhana.
Yang rumit pidatonya.
Yang rumit konferensinya.
Yang rumit peta-petanya.
Yang sederhana cuma satu:
ada orang pulang,
lalu rumahnya
sudah dibatalkan.
–
Undangan
Hidup,
mengundangku.
Aku datang
terlalu awal
atau terlalu terlambat.
Tak pernah kutahu.
Ketika mataku terbuka,
jam sudah berjalan.
Kursi-kursi telah terisi.
Percakapan telah dimulai.
Bahkan namaku
seperti sudah beberapa kali disebut
sebelum sempat kudengar.
Maka aku duduk.
Mendengarkan.
Seseorang melambaikan tangan
ke arah yang sudah lama kosong.
Seseorang menyebut nama dengan suara yang tidak sampai ke mana pun.
Anak kecil yang tadi berlari
tahu-tahu telah menjadi ayah.
Dan pohon di halaman itu,
yang setiap hari kulihat,
diam-diam sedang mengerjakan
sesuatu yang lebih tua daripada waktu.
Tak ada yang menjelaskan apa-apa.
Tak ada yang bertanya
apakah aku bersedia.
Namun segala sesuatu
berlangsung dengan ketepatan
yang tidak membutuhkan persetujuanku.
Burung.
Debu.
Hujan.
Perpisahan.
Malam.
Satu per satu lewat
seperti tamu yang mengenal rumah ini
lebih baik dariku.
Kadang aku ingin tahu
siapa yang mengirim undangan itu.
Tetapi setiap kali kucari,
alamatnya berpindah:
ke wajah orang yang kucintai,
ke bau tanah setelah hujan,
ke sepotong langit
yang muncul sebentar
di antara dua gedung,
lalu hilang.
Kini ruangan mulai lengang.
Suara-suara menjauh.
Jam masih berjalan.
Seperti saat pertama kali kudengar.
Seperti sebelum aku ada.
Dan ketika akhirnya seseorang
datang untuk memanggil namaku,
aku berharap
ia tidak membawa penjelasan.
Sebab selama ini
bukan karena aku mengerti
mengapa diundang,
melainkan karena keajaiban itu:
bahwa di tengah semesta
yang begitu luas untuk tidak mengenalku,
namaku pernah disebut.
–
Berdiri di Atas Meja
: kelar menonton ulang Dead Poets Society
Halaman disobek,
angka-angka gugur,
ia melampaui papan tulis,
kelas melihat dari ketinggian.
Langkah diseragamkan,
mereka pecah barisan,
gua menampung dada,
puisi lantang tanpa permisi.
Panggung menunggu,
ia memilih suara,
yang lain menahan,
takut jadi hakim.
Meja dinaiki,
satu, lalu satu,
yang pergi tetap berdiri di sini,
dan berani tak duduk lagi.
(April, 2026)
–
Meja Penguasa
Tidak ada yang bisa ditinggalkan.
Kita duduk di depannya.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang hidup.
Yang seharusnya sudah rusak
tidak pernah diberi kesempatan.
*****
Editor: Moch Aldy MA
