Wallace dan Kekecewaannya

Arief Kurniawan

4 min read

Naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, pernah bercerita di buku terkenalnya, The Malay Archipelago, bahwa ia pernah mendapatkan sekitar 2.000 jenis kumbang yang berbeda di Borneo, dengan hampir seluruhnya, kecuali sekitar seratus jenis, dikumpulkan di sebuah lokasi pertambangan yang luasnya hanya sedikit lebih dari satu mil persegi (sekitar 2,59 kilometer persegi). Ia juga mencatat bahwa dirinya mendapatkan 1.836 ngengat dalam 26 malam pengamatan, dengan 800 di antaranya ia dapatkan hanya dalam 4 malam yang gelap dan basah karena hujan. Ia juga bercerita tentang keunikan katak “terbang”, orangutan yang perilakunya mirip dengan manusia, anggrek-anggrek yang indah, dan banyak biodiversitas lainnya yang ia temukan ketika menjelajahi Borneo dan kepulauan lainnya yang ia sebut sebagai Kepulauan Melayu kala itu (meliputi hampir sebagian besar negara Asia Tenggara modern ini).

Mendengar cerita-cerita Wallace hari ini agaknya seperti mendengar cerita bual belaka. Bagaimana ia menemukan 2.000 jenis kumbang yang hanya di lokasi sekitar dua setengah kilometer persegi? Bagaimana dengan 1.836 ngengat dalam 26 malam? Sekaya itukah biodiversitas alam kita dahulu ketika Wallace selama delapan tahun menjajaki Kepulauan Nusantara ini pada tahun 1854 hingga 1862? Apa yang kiranya Wallace komentari ketika ia tahu “Kepulauan Melayu” di buku tebalnya yang ia ceritakan itu sebagian besar tidak lagi ada?

Agaknya kita akan mudah sekali membayangkan betapa terpukulnya perasaan Wallace ketika ia kembali melihat tempat yang sama saat ia jelajahi begitu berubah dengan bayang-bayang di kepalanya. Mungkin Wallace terheran-heran, “Sejak kapan tanaman sawit menjadi tanaman endemik khas Borneo?” atau mungkin, “Orang utan kok hidup di tempat yang tidak ada hutannya? Ke mana memang hutannya?” Bisa jadi pula Wallace marah sejadi-jadinya, geram kepada pemerintah lokal dan ingin menggugatnya. Kita tidak tahu apa yang bakal menjadi reaksi spesifiknya, tetapi mungkin kita tahu bahwa ia akan kecewa.

Baca juga:

Buku yang pertama kali diterbitkan dalam dua jilid dengan total lebih dari 1.000 halaman itu ia persembahkan kepada sahabat yang dikaguminya, Charles Darwin. Kekaguman tersebut rupanya berbalas. Darwin pun mengagumi perjalanan dan dedikasi Wallace dalam menjelajahi Kepulauan Melayu, sebuah pengalaman yang bahkan membuatnya merasa iri. Menjadikan mereka berdua sebagai pencetus teori yang ikonik, Teori Evolusi. Ya, pulau kita di Nusantara ini punya andil dalam memperkuat argumentasi teori tersebut. Jika Darwin menjelajahi Kepulauan Galapagos dengan kapal HMS Beagle-nya, sedang Wallace menjelajah di Kepulauan Melayu sebagai laboratoriumnya.

Namun, zaman memang berubah. Buku yang menceritakan bukan hanya tentang beragamnya diversitas makhluk hidup di Kepulauan Nusantara, tetapi juga bagaimana beragam corak kehidupan, budaya, dan ilmu pengetahuan warga lokal itu seolah menguap begitu saja. Ia tergerus oleh obsesi manusia dalam memperoleh keuntungan dirinya sendiri.

Obsesi Monokultur untuk Energi Terbarukan

Pada Rabu (7/10/2026), Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi sekaligus adik kandung dari Presiden, menyatakan rencana pemerintah untuk memanfaatkan lahan terdegradasi seluas 12,7 juta hektar dalam mengembangkan biofuel (bahan bakar nabati) dari B50 hingga B100 di agenda Investor Daily Summit 2026. Biofuel ini digadang-gadang sebagai energi terbarukan yang menggantikan bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan. Ia juga menegaskan bahwa hutan yang dipakai bukanlah hutan primer, melainkan hutan-hutan rusak yang sudah kehilangan kayu, yang menurutnya menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan.

Pernyataan tersebut mengundang kita pada pertanyaan mendasar: Untuk apa sebenarnya ada hutan? Apabila hutan-hutan tak dapat lagi memenuhi kebutuhan manusia, apakah ia perlu dipaksa agar menjadi produktif dan menghasilkan profit bagi manusia? Apa maknanya jika hutan hanya menghasilkan biodiversitas serangga-serangga kecil, habitat bagi burung-burung, dan tempat tinggal bagi para mamalia? Apa peran hutan bagi sebuah negara?

Jika demikian, hutan tak jauh berbeda dengan manusia di masyarakat industri yang dipaksa serba produktif. Tapi masih mendinglah manusia bisa mengajukan cuti ketika sedang sakit, berbeda dengan hutan jika ia sakit. Ia perlu dipaksa, sama seperti pernyataan Hashim bahwa ia harus segera dibuat produktif lagi, terlebih jika bisa membahagiakan orang-orang di forum investasi.

Di tengah hiruk-pikuk kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, isu pemerintah dalam menggalakkan monokultur masih saja bergema. Dikutip dari ANTARA News, Menteri Keuangan yang baru saja dilantik, Suahasil Nazara, juga mendorong mobilisasi investasi swasta di sektor kelapa sawit pada 13 Oktober 2026 saat menghadiri acara “Plantation360: Mobilizing Private Capital for More and Better Jobs” di Bangkok, Thailand.

Agaknya hutan memang tidaklah boleh dibuat menjadi hutan “biasa” lagi di mata negara karena perannya bagi “kehidupan” manusia kurang sekali. Mungkin suatu saat makhluk hidup yang ada di hutan harusnya mencoba masuk ke sistem manusia agar ia tetap lestari. Bisa jadi, misalnya, kita dorong agar semut, lebah, atau serangga lainnya membuat Curriculum Vitae (CV) bahwa ia bisa bekerja sama dengan baik walaupun di bawah tekanan agar mereka tidak disingkirkan; atau burung-burung ikut lomba audisi agar suaranya dilirik dan masuk dapur rekaman; atau mungkin orangutan juga bisa ikut jadi talent buat mengisi kebun binatang.

Terbukti pula, manusia punya jalan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam mempekerjakan hewan. Seperti seekor orangutan bernama Pony, misalnya, yang dipaksa melayani para lelaki birahi di Kalimantan Tengah, dan masih banyak kemungkinan lainnya. Pokoknya, agar hewan-hewan itu bisa sejahtera, tentunya ia harus ikut sistem ekonomi yang visioner itu, seperti para ekonom bilang. Tidak perlulah lagi kita mendengarkan para ilmuwan iklim, seperti yang pernah dinyatakan presiden, agar kita tidak tertipu oleh yang namanya deforestation karena sawit sama dengan pohon lainnya yang sama-sama punya daun untuk menyerap CO2 (karbon dioksida).

Gali Lubang, Tutup Lubang

Ibarat pepatah, apa yang pemerintah lakukan hanyalah gali lubang, kemudian tutup lubang, alias memang di situ-situ saja. Pemerintah seolah berkomitmen untuk memperjuangkan transisi energi yang lebih baik, tapi merusak yang seharusnya tidak dirusak. 

Investasi orang asing masih dan akan terus digalakkan oleh pemerintah demi “kemajuan” ekonomi. Namun, ketika musibah melanda atas dasar yang sama, mereka saling menuduh bahwa pemerintah abai dalam mengelola tanah dan hutannya, sedang pemerintah sendiri menyalahkan orang-orang asing tersebut karena mereka juga punya andil dalam merusak hutan. Betapa lucunya, mana yang perlu dipercaya padahal mereka sama saja saling dorong satu sama lain sedang jika musibah datang mereka saling sikut satu sama lain.

Bioetanol yang dibanggakan sebelumnya sebagai pengganti bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan, diambil dari sistem monokultur dengan merusak hutan-hutan yang telah ada sebelumnya. Hal itu menghilangkan keanekaragaman dan habitat banyak spesies. Dikutip dari Jurnal Entomologi Indonesia pada 2026, alih fungsi lahan bukan hanya menghilangkan jumlah populasi dan spesies, tetapi juga mengganggu distribusi energi, terlebih antara jejaring makanan di atas (misalnya, antara herbivora dan karnivora) dan di bawah tanah (misalnya, fungi, dekomposer, dan bakteri).

Baca juga:

Masih di jurnal yang sama, penelitian Ulinnuha dkk. (2026) tersebut menunjukkan bahwa alih fungsi lahan menjadi perkebunan monokultur, seperti kelapa sawit dan karet, menyebabkan penurunan spesies serangga Diptera secara signifikan. Selain itu, perubahan ini juga mengganggu keseimbangan komunitas serangga lainnya dikarenakan spesies asli yang menghilang dan digantikan oleh spesies lainnya yang lebih fit in. Betapa transisi energi yang pemerintah kita lakukan hanya merusak hal lainnya.

Serangga-serangga yang mudah sekali ditemukan oleh Wallace pada awal pembicaraan tulisan ini mungkin bakal sulit sekali untuk ditemukan bagi kita saat ini. Kita tidak mudah lagi mendengar kicauan burung liar di hutan, dan bakal sulit untuk melihat lagi orangutan-orangutan yang bergelantungan dari pohon ke pohon.

Kini warga pribumi menghirup asap beracun yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), habitat-habitat yang rusak disusul oleh kepunahan makhluk hidup di dalamnya, dan cuaca pun menjadi semakin ekstrem. Mungkin inilah yang bakal menjadi kekecewaan-kekecewaan Wallace terhadap pemerintah lokal yang tidak bisa menjaga dan merawat alamnya sendiri. Lebih dari itu, inilah kekecewaan-kekecewaan kita terhadap apa yang terjadi, yang bahkan kita tidak mendapatkan hak dasar yang seharusnya kita dapatkan, di samping keindahan Borneo seperti yang pernah diceritakan Wallace.

 

Editor: Kukuh Basuki

Arief Kurniawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email