Di layar ponsel kita setiap hari, ada perang yang tak terlihat. Bukan dentuman meriam atau tembakan, melainkan tumpukan kalimat, gambar, dan pendapat yang melesat begitu cepat, seolah-olah kebenaran selalu ada di pihak yang paling lantang berbicara. Di sinilah buzzer hadir—bukan sekadar akun biasa yang berbagi pandangan pribadi, melainkan barisan yang bergerak teratur, menyebarkan narasi yang sama persis, di waktu yang hampir bersamaan, dengan jangkauan yang jauh melampaui jangkauan suara manusia biasa. Pertanyaannya sederhana namun berat: “apakah ini sekadar penyampaian informasi demi kepentingan publik, atau justru langkah terencana yang perlahan namun pasti mengikis apa yang kita sebut kebenaran?“
Sosiolog Walter Lippmann pernah menyebutkan bahwa kita tidak merespons dunia secara langsung, melainkan terhadap gambaran yang kita bentuk dalam pikiran kita sendiri. Narasi yang disebarkan secara masif oleh buzzer berfungsi membentuk apa yang ia sebut “gambar di kepala” tersebut—sebuah realitas yang dianggap benar meskipun belum tentu sepenuhnya sesuai dengan fakta yang ada. Ketika satu versi cerita terus diulang berulang kali tanpa jeda, tanpa perbedaan, ia perlahan berubah menjadi kebenaran publik, meskipun pada aslinya hanyalah salah satu sudut pandang yang disusun dan disebarkan secara sengaja.
Baca juga:
Inilah inti dari apa yang kita kenal sebagai era pasca-kebenaran: keadaan di mana sentimen dan perasaan sering kali jauh lebih berpengaruh dibandingkan data yang terverifikasi atau fakta yang jelas. Namun hal ini bukan sekadar fenomena yang terjadi begitu saja di tengah kemajuan teknologi.
Edward Bernays, yang dikenal sebagai bapak hubungan masyarakat modern, pernah menyatakan bahwa opini publik dapat dibentuk dan dikelola secara sistematis—bukan dengan paksaan atau kekerasan, melainkan dengan memahami apa yang ingin didengar, dirasakan, dan dipercaya masyarakat, lalu menyusun pesan sedemikian rupa agar selaras dengan perasaan tersebut. Inilah yang terjadi saat ini: narasi disusun bukan untuk menjelaskan fakta selengkap-lengkapnya kepada publik, melainkan untuk menimbulkan reaksi emosional yang diinginkan.
Lebih jauh lagi, Noam Chomsky dan Edward S. Herman dalam teori “pembuatan persetujuan” mengingatkan kita bahwa apa yang kita lihat dan dengar di ruang publik tidak selalu muncul secara alami, seolah-olah semuanya adil dan seimbang. Ada lapisan penyaring yang menentukan informasi mana yang sampai kepada kita dan mana yang dikesampingkan, diabaikan, atau bahkan disembunyikan. Di era digital saat ini, buzzer berfungsi sebagai salah satu penyaring paling kuat tersebut: mereka mengangkat narasi tertentu ke puncak perhatian publik, sementara isu lain—yang mungkin sama pentingnya—perlahan menghilang dari pandangan, tenggelam di bawah riuhnya pesan yang terus didorong ke depan. Akibatnya, publik tidak benar-benar diberi kesempatan untuk memahami suatu masalah secara utuh, melainkan hanya dihadapkan pada versi yang sudah disiapkan dan disebarkan secara terarah.
Tentu saja, setiap pemerintah memiliki hak dan kewajiban untuk menyampaikan kebijakannya kepada masyarakat. Itu adalah bagian dari fungsi negara yang wajar dan diperlukan. Namun, yang menjadi garis pemisah antara komunikasi yang sehat dan manipulasi adalah niat serta caranya. Menyampaikan informasi secara terbuka, jujur, dan utuh adalah komunikasi yang membangun kepercayaan. Namun, menyebarkan narasi yang disusun secara terarah untuk membentuk persepsi tertentu, apalagi dengan menyederhanakan fakta, menutupi kelemahan, atau menyerang narasi yang berbeda, adalah jalan yang berbahaya.
Seperti yang pernah dikatakan pemikir Hannah Arendt: salah satu ciri kekuasaan yang berlebihan adalah kemampuannya membuat fakta apa pun bisa dengan mudah digantikan oleh narasi yang diinginkan. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, lama-kelamaan masyarakat tidak lagi tahu apa yang sebenarnya terjadi di sekitarnya.
Ketika pola ini terus berulang dari waktu ke waktu, dampaknya terasa nyata dan mendalam. Pertama, masyarakat menjadi bingung membedakan mana fakta dan mana rekayasa. Lama-kelamaan, kepercayaan terhadap segala bentuk informasi menurun drastis—termasuk informasi yang sebenarnya benar dan penting. Akibatnya, ketika pemerintah menyampaikan sesuatu yang urgen dan harus ditindaklanjuti sekalipun, masyarakat sudah terbiasa meragukannya, karena mereka tidak lagi yakin dari mana informasi itu berasal dan apa tujuan di baliknya.
Kedua, ruang diskusi yang sehat semakin menyempit. Perbedaan pendapat bukan lagi dilihat sebagai sudut pandang lain yang layak didengarkan dan diperdebatkan, melainkan sesuatu yang harus dilawan, dibungkam, atau dicemari dengan narasi tandingan. Akhirnya, yang tumbuh dan berkembang bukan kebijakan yang matang lahir dari perdebatan terbuka, melainkan keseragaman pendapat yang dibangun di atas ketidaktahuan dan ketidakberdayaan masyarakat untuk melihat gambaran yang lebih luas.
Baca juga:
Kita tidak perlu terlalu jauh melihat contohnya. Dalam berbagai peristiwa dan isu publik yang terjadi belakangan ini, kita sering menyaksikan bagaimana satu narasi tiba-tiba mendominasi percakapan daring dalam waktu yang sangat singkat, seolah-olah semua orang tiba-tiba berpikiran sama. Pertanyaan yang muncul di benak kita sederhana namun penting: siapa yang menyusun narasi ini, apa tujuannya, dan apakah fakta di belakangnya sudah diperiksa dengan saksama? Jika pertanyaan ini semakin jarang diajukan oleh masyarakat, itulah tanda bahwa kita sedang berada di ambang pasca-kebenaran. Bukan karena fakta tidak ada di luar sana, tetapi karena kita secara perlahan berhenti menjadikannya sebagai hal yang paling penting.
Solusinya tidak bisa hanya diserahkan kepada satu pihak saja. Pemerintah perlu menyadari bahwa kepercayaan tidak pernah dibangun melalui penguasaan narasi, melainkan melalui keterbukaan, transparansi, dan akuntabilitas. Sementara itu, masyarakat juga perlu melatih diri untuk berhenti sejenak sebelum menelan informasi apa adanya—memeriksa sumber, mencari sudut pandang lain, dan berani mendengarkan pendapat yang berbeda. Langkah sederhana inilah yang justru paling kuat melawan arus pasca-kebenaran yang semakin terasa di sekitar kita.
Pada akhirnya, kebenaran memang hal yang sulit ditemukan dan sering kali tidak senyaman narasi yang kita sukai. Namun menyerah untuk mencarinya justru jauh lebih berbahaya. Seperti diingatkan oleh para pemikir di atas, kebenaran tidak akan menjaga dirinya sendiri. Ia butuh orang-orang yang peduli, yang berani bertanya, dan yang tidak membiarkan dirinya dibawa oleh arus tanpa memeriksa dasarnya terlebih dahulu. Di tengah riuh rendah informasi yang datang setiap hari di layar ponsel kita, kemampuan membedakan fakta dari sekadar narasi adalah hal paling berharga yang kita miliki. Jangan sampai kita kehilangan itu. (*)
Editor: Kukuh Basuki
