penyair, pekerja budaya.

Bendaridesa dan Politik Menjadi Kampungan

Moch Aldy MA

5 min read

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata desa? Barangkali hamparan sawah, jalanan lengang, rumah-rumah sederhana, atau kehidupan yang berjalan lebih lambat ketimbang hiruk-pikuk kota. Lalu, apa yang kita bayangkan ketika mengetahui ada sebuah grup musik dari desa? Besar kemungkinan musik yang berakar pada tradisi lokal, sekumpulan anak muda yang bermain dengan peralatan seadanya, atau kelompok musik yang masih jauh dari kecanggihan musikal dan teknologi produksi di kota-kota besar.

Bayangan semacam itu boleh jadi tidak selalu muncul secara sadar. Namun, di baliknya tersimpan hierarki yang telah lama hidup dalam imajinasi kita: desa sebagai ruang yang tertinggal, kota sebagai pusat kemajuan. Hierarki ini memengaruhi cara kita memandang pembangunan, kesempatan ekonomi, selera, gagasan, dan karya seni. Seolah-olah, untuk dianggap modern, seseorang mesti membuktikan bahwa dirinya telah melampaui tempat asalnya.

Cara pandang diskriminatif semacam itu turut memberi makna pada kata kampungan. Lebih dari penunjuk asal-usul geografis, kata ini kerap menjadi penghakiman terhadap selera, perilaku, cara berbicara, bahkan karya seseorang. Ia membentuk batas militer, atau garis pemisah, antara yang dianggap berkelas dan yang dinilai kurang canggih, elegan, atau keren. Di dalam penghakiman tersebut, ada persoalan tentang siapa yang berhak menentukan ukuran mutu dan siapa yang mesti bekerja lebih keras agar karyanya diperhitungkan.

Nama Bendaridesa dan cara mereka memperkenalkan diri membuka kemungkinan untuk melihat persoalan ini secara lebih konkret. Band eksperimental asal Cigombong itu membiarkan kedekatannya dengan kehidupan lokal menjadi bagian dari identitas mereka. Dalam lidah sehari-hari, kata band terdengar serupa ben—pergeseran petit dalam pengucapan yang mempersaksikan bagaimana bahasa menyerap lingkungan tempat penuturnya hidup. Dari sana muncul pertanyaan yang lebih luas: mengapa cara seseorang berbicara, selera yang ia miliki, dan tempat asalnya dapat memengaruhi penilaian terhadap karya yang dihasilkan?

Pertanyaan itu bersinggungan dengan pemikiran Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis, dalam bukunya Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979). Bourdieu menunjukkan bahwa selera dibentuk oleh modal budaya, lingkungan sosial, dan kemampuan mengenali kode-kode yang diakui kelompok tertentu. Apa yang dianggap berkelas atau bermutu berkaitan erat dengan relasi kuasa. Dalam dunia seni, pengakuan turut dipengaruhi posisi pembuat karya dalam jaringan sosial dan institusi yang menentukan kesempatan sebuah karya untuk dikenal, dipahami, dan dinilai.

Modal budaya dalam konteks ini mencakup pengetahuan musik, keterampilan memainkan instrumen, serta penguasaan kode-kode yang berlaku di dunia seni. Ia juga berkaitan dengan kemampuan mengenali ruang pertunjukan, menjangkau penyelenggara, membangun relasi dengan pelaku industri, dan mengakses sumber daya yang memungkinkan karya bertemu dengan publik. Kemampuan artistik tidak otomatis menyingkap seluruh pintu tersebut. Sebuah band bisa mempunyai gagasan dan musikalitas yang matang, bahkan menawarkan kemungkinan baru, tetapi tetap kesulitan menemukan panggung ketika jaringan dan sumber daya yang tersedia terbatas.

Pengalaman Bendaridesa dalam mencari tempat pertunjukan membidani persoalan itu. Kesulitan memperoleh ruang, penolakan dari sejumlah tempat, dan kerja sama yang tidak berlanjut sebab perbedaan biaya menunjukkan bahwa perjalanan sebuah karya menuju publik melibatkan infrastruktur sosial dan material. Pengalaman tersebut memang belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Bendaridesa ditolak sebab berasal dari desa antah-berantah bernama Cigombong. Namun, ada satu hal yang jelas: sebelum publik bisa menilai musik mereka, Bendaridesa harus terlebih dahulu memperoleh kesempatan untuk memperdengarkannya.

Album [II] menawarkan jalan masuk untuk membincangkan persoalan tersebut lebih lanjut. Bendaridesa bergerak di antara post-punk, shoegaze, dan alternative rock. Tekstur gitar, vokal serak, serta lapisan bunyi yang cenderung kasar membentuk wilayah musikal yang cenderung mengingatkan pendengar pada Joy Division, New Order, Interpol, U2, The Cure, My Bloody Valentine, hingga Slowdive. Nama-nama itu bisa menjadi semacam peta kasar bagi pendengar untuk mengenali lanskap bunyinya. Sementara itu, karakter Bendaridesa perlu didengar melalui cara mereka mengolah berbagai kemungkinan musikal tersebut.

Seniman dari daerah kerap menghadapi ekspektasi yang membatasi ruang geraknya. Ada tuntutan untuk mengikuti standar yang telah mapan agar karyanya mudah diterima. Ada pula harapan agar mereka mempertahankan keunikan lokal demi memenuhi selera orang kota terhadap sesuatu yang dianggap autentik dan eksotis. Dalam kedua kelindan situasi itu, lokalitas berisiko menjadi syarat yang mesti dinegosiasikan demi memperoleh pengakuan. Bendaridesa memberi kemungkinan lain: mereka mengembangkan bahasa musikal yang berhubungan dengan perkembangan musik global sambil tetap berangkat dari lingkungan tempat mereka tumbuh.

Dari Cigombong, Bendaridesa berusaha membangun ruang kreatif-kolaboratif dengan menentukan arah perjalanannya sendiri. Pengakuan dari industri musik arus utama tetap dapat menjadi salah satu kemungkinan, sementara kerja bersama dan keberlangsungan komunitas menyediakan ukuran keberhasilan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Pertanyaan yang kemudian muncul ialah mengapa kecanggihan mesti mempunyai satu alamat, satu aksen, dan satu ukuran keberhasilan?

Kritik terhadap persoalan tersebut terasa lebih konkret dalam salah satu lagu Bendaridesa yang berjudul “Make It Great or Die”. Pendek kata, lagu ini mengisahkan hasrat memproduksi film independen, pengalaman menghadapi penolakan, dan keputusan untuk tetap berkarya bersama kawan-kawan di Cigombong. Secara musikal, dentuman musik elektronik menjadi tulang punggung lagu, sementara bass yang tebal dan gelap menekan sejak awal. Denyutnya stabil, menjaga tubuh tetap bergerak, tetapi dinamika lagu bergantian antara bagian yang menipis dan kembali mengental, umpama napas yang ditahan lalu dilepaskan. Alih-alih mengandalkan melodi yang menonjol, lagu ini membangun kekuatannya melalui energi fisik dan atmosfer yang sesak. Ketegangan bunyi tersebut berkelindan dengan kisah dalam liriknya: gagasan yang menemui penolakan, disusul tekad untuk memproduksi karya secara mandiri.

Ketika liriknya menyinggung angka-angka dan algoritma, lagu ini membuka pembicaraan tentang cara nilai sebuah karya semakin mudah disederhanakan menjadi sesuatu yang bisa dihitung, dibandingkan, dan diperingkatkan. Angka bisa membantu mengukur jangkauan sebuah karya, tetapi tidak selalu menjelaskan nilai artistiknya. Jumlah penonton yang sedikit tidak serta-merta menunjukkan mutu yang rendah, sebagaimana popularitas tidak otomatis menjamin kualitas. Persoalan muncul ketika ukuran kuantitatif menjadi penentu utama dan proses kreatif, risiko artistik, serta kondisi yang memungkinkan sebuah karya lahir tersisih dari penilaian.

Kritik terhadap ukuran tersebut membawa kita pada pertanyaan tentang bagaimana karya bisa terus diproduksi dan menjangkau publik. Cerita di balik “Make It Great or Die” memuat keterlibatan para musisi, produksi original soundtrack dalam format fisik, dan pemutaran perdana yang hasil penjualan tiketnya disumbangkan. Dukungan semacam ini hadir melalui tindakan konkret: orang-orang menyumbangkan tenaga, terlibat dalam produksi, dan menggabungkan kemampuan untuk membantu sebuah gagasan menjelma menjadi karya.

Kerja kolektif itu memperlihatkan bagaimana kemandirian artistik bisa tumbuh-menjalar melalui hubungan antarmanusia. Ketika jalur yang tersedia belum memadai, orang-orang menghimpun kemampuan dan sumber daya untuk membuka kemungkinan lain. Biaya, akses, dan pengakuan tetap menjadi persoalan, tetapi keterbatasan tersebut dihadapi bersama melalui pembagian kerja dan dukungan timbal balik. Solidaritas memperoleh maknanya melalui apa yang dikerjakan, siapa yang terlibat, dan bagaimana dukungan itu memungkinkan sebuah karya terwujud.

Semangat kolektif tersebut juga tercermin dalam dua istilah yang pernah dipopulerkan vokalis Bendaridesa yang kebetulan seorang dokter bedah anak, dr. Ramadhita: Edankeun Cigombong or Die (majukan Cigombong atau mati) dan Cigombong United Kan Niet Verslagen Worden (Cigombong bersatu tidak bisa dikalahkan). Ungkapan pertama memelesetkan frasa do or die melalui permainan bahasa Sunda dan Inggris, sedangkan ungkapan kedua meminjam bahasa Belanda untuk merumuskan semboyan persatuan. Keduanya menjawab pertanyaan tentang bagaimana bahasa bisa menjadi sarana membangun identitas bersama, sekaligus mengolah lokalitas menjadi sesuatu yang heroik, akrab, hangat, dan penuh percaya diri.

Dalam ungkapan-ungkapan itu, Cigombong hadir sebagai ruang tempat solidaritas dan imajinasi kreatif dirawat. Lalu gagasan itu memperoleh bentuk konkret melalui upaya Bendaridesa menyelenggarakan pertunjukan secara mandiri di Bogor. Di tengah kesulitan memperoleh ruang pertunjukan, mereka mengusahakan panggung sendiri melalui SHOWTIME: Bendaridesa Album [II] Live Session, yang akan berlangsung di Fairway Cafe, Bogor, pada Minggu, 22 November 2026, pukul 15.00–22.00 WIB. Bekerja sama dengan Funtasifest Organizer, mereka menyiapkan pertunjukan ini melalui pendekatan Do It Yourself (DIY), tanpa sponsor komersial, dengan kapasitas terbatas 200 penonton dan kampanye pengurangan plastik sekali pakai.

Sejumlah nama dari berbagai lingkar musik turut bergabung: HLMN, Overdeep, Layung Jagat, Rood and The Monroe, The Kitty Story, Not For Child, Aparat Reggae Roots, Sinarjaya Karaoke, dan Dulurs. Pertunjukan ini juga menghadirkan musisi tamu, antara lain Eka Annash (The Brandals), Isa (Down For Life), Nana (Minor Crash Club), serta Ncom (The Ads) bersama Ibay (Necro Plastic). Kehadiran mereka membuktikan bahwa ruang independen tumbuh melalui pertemuan antarmusisi dan komunitas yang bersedia berbagi panggung.

Melalui DIY, Bendaridesa mengorganisasi sumber daya, merawat jaringan antarmusisi, dan menyediakan ruang bagi musik mereka untuk bertemu dengan pendengar. Praktik ini membuka jalur alternatif di tengah keterbatasan infrastruktur pertunjukan. Kemandirian tersebut tetap membutuhkan biaya, tenaga, tempat, dan partisipasi publik. Sebab itu, membeli tiket pertunjukan independen merupakan bagian dari hubungan timbal balik dalam ekosistem musik: penonton memperoleh pengalaman artistik, sementara hasil penjualan membantu menopang keberlangsungan kegiatan kreatif. Dengan harga presale Rp85.000 melalui Loket.com dan tiket di lokasi Rp135.000, SHOWTIME mengundang publik untuk mengambil bagian dalam pertemuan tersebut.

Sehingga, pada gilirannya, politik menjadi kampungan memperoleh maknanya. Cigombong mempunyai kemungkinan untuk mengembangkan kehidupan kebudayaannya sendiri, dengan sejarah, bahasa, jaringan pertemanan, dan sumber daya yang tersedia di sana. Karya yang lahir dari desa sekalipun bisa bergerak menuju publik yang lebih luas tanpa harus menghapus jejak asal-usulnya atau menjadikan keunikan lokal sebagai komoditas utama untuk menarik perhatian orang luar.

Dari Cigombong, musik menemukan jalannya melalui tangan-tangan yang bersedia bekerja, telinga-telinga yang mau mendengar, dan orang-orang yang percaya bahwa sebuah gagasan layak diberi kesempatan untuk hidup.

Jangan-jangan, yang dibutuhkan sebuah grup musik hanyalah keberanian untuk membangun jalan sendiri—dan cukup banyak kawan untuk menempuhnya bersama-sama. Apapun itu, ars longa vita brevis.

*****

Moch Aldy MA
Moch Aldy MA penyair, pekerja budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email