Hidup adalah puisi

Waktu dan Kesabaran

Fathurrozi Nuril Furqon

3 min read

Waktu ada kalanya menjadi sumbu harapan, sesuatu yang ditunggu-tunggu, atau perayaan atas kebahagiaan. Ada kalanya pula, waktu menjadi hantu, harimau, atau rangkaian luka dan trauma. Relativitas itu menjadikan waktu tak ubah boneka kaca yang perlu terus dijaga, karena apabila pecah bukan hanya luka yang bakal didapat, tapi juga sesuatu yang tak bisa dikembalikan seperti semula.

Sejak awal peradaban manusia, seruan tentang waktu sebagai entitas berwajah dua bergema menjadi semacam wasiat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Waktu dalam banyak peradaban digambarkan sebagai sesuatu yang urgen. Dalam filsafat Hindu misalnya, terdapat konsep kalacakra. Konsep ini menggambarkan waktu sebagai roda yang terus berputar untuk menggenapi siklus karma. Karenanya, masa kini menjadi pertaruhan bagi kehidupan yang akan datang, sebab masa kini tak lain ladang bagi kriyamana (karma baru) bertumbuh dan penentu nasib dalam punarbawa (kelahiran kembali).

Di luar konsep Hindu itu, hampir semua peradaban dan filsuf menyetujui bahwa waktu serupa emas, uang, atau benda berharga lainnya. Beberapa bahkan meyakini waktu lebih berharga dari itu semua. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah misalnya, beliau menyatakan bahwa membuang waktu lebih berbahaya dari kematian, sebab itu artinya seseorang akan terputus dari Tuhan beserta negeri akhirat yang dijanjikan.

Baca juga:

Pandangan-pandangan itu lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa waktu bukanlah konsep abstrak. Waktu, lebih dari itu, adalah sesuatu yang bisa mempengaruhi bagaimana cara manusia bertindak. Namun, dewasa ini, pemahaman tersebut mengalami pergeseran signifikan akibat budaya hidup serba instan. Di kepala orang-orang, waktu yang sebelumnya dinikmati sebagai proses, malih rupa menjadi target yang mesti dikejar. Semakin cepat, semakin baik. Hal ini berimplikasi pada sulitnya orang-orang untuk menerima jeda, bahkan dalam kondisi yang sangat menuntut kesabaran.

Di perlintasan kereta api misalnya, fenomena ini tergambar jelas dalam rutinitas menunggu kereta lewat. Bagi beberapa individu, menunggu kereta tak ubahnya duduk di bangku panas. Menerobos palang artinya menyembuhkan diri dari menunggu terlalu lama. Meski hanya sebentar, dalam kondisi menunggu, waktu bisa terasa melebar akibat specious present (masa kini semu). Alhasil, individu dengan persepsi risiko rendah cenderung melanggar disiplin lalu lintas yang kemudian menjerumuskan individu lainnya kepada tindakan serupa.

Fenomena ini telah sering memakan korban. Yang teranyar adalah kasus kecelakaan KRL Bekasi yang menurut Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, menyebabkan 16 individu tewas dan 91 lainnya luka-luka.

Kesabaran Sebagai Kunci

Waktu bersifat ireversibel (tidak dapat kembali), karenanya masa kini harus dipergunakan sebijak mungkin. Seremeh apapun itu, tiap pilihan akan membawa manusia ke jenis masa depan yang berbeda. Agar bisa membuat pilihan yang tepat, seseorang harus belajar bersabar.

Waktu dan kesabaran bagaikan penenun dengan kain. Penenun adalah kesabaran yang merangkai benang satu demi satu. Adapun kain adalah waktu yang akan menjadi barang bernilai, hanya jika penenun tidak hilang arah dalam prosesnya.

Leo Tolstoy dalam novel War and Peace menggambarkan waktu dan kesabaran sebagai dua prajurit terkuat. Menurutnya, seseorang bisa memenangi perang batin apabila memiliki keduanya. Melalui keduanya, seseorang dapat belajar seni menjadi air: tidak tergesa-gesa, mempercayai proses, dan terus mengalir.

Pun menunggu kereta adalah seni kesabaran menunggu waktu agar bisa selamat sampai tujuan. Sebab, inti perjalanan bukan seberapa cepat waktu tempuh, tapi apakah pengendara bisa sampai dengan selamat. Hal ini seringkali diabaikan para pelanggar, padahal faktanya keterburu-buruan mereka seringkali adalah urgency bias. Dengan kata lain, mereka bukan sedang dikejar waktu, tapi tidak sabar menunggu.

Entropic Arrow of Time

Kecelakaan KRL Bekasi beberapa waktu lalu mengingatkan akan pentingnya bersabar. Menerobos palang kereta walaupun sudah demikian membudaya, tetaplah tidak dapat dibenarkan. Satu keputusan pengendara untuk menginjak gas bisa menjadi pertaruhan hidup-mati bagi puluhan hingga ratusan nyawa.

Dalam konsep waktu, setiap tindakan masa kini tak ubahnya anak panah yang dilesatkan. Apa yang terlesat tak bisa ditarik kembali. Masalahnya, setiap peristiwa cenderung meningkatkan ketidakteraturan (entropi) dalam sistem. Dalam ranah kehidupan manusia, peningkatan entropi dapat dianalogikan sebagai bertambahnya konsekuensi dari setiap tindakan.

Pada kecelakaan tersebut, terlepas dari ketiadaan palang di perlintasan Ampera, keputusan sopir taksi untuk melaju melintasi rel menjadi titik lepas panah waktu. Konsekuensinya adalah efek berantai yang menjadi lumpur hitam dalam sejarah perkeretaapian Indonesia.

Secara metaforis, peristiwa itu meningkatkan “entropi sosial” yang tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga pada kondisi psikologis masyarakat. Dalam waktu relatif singkat, dampaknya menjalar menjadi trauma kolektif.

Hal itu nampak dari laporan banyak media yang memberitakan bahwa gerbong wanita yang biasanya padat mendadak sepi. Banyak penumpang lebih memilih berjejalan di gerbong tengah, walau gerbong ujung tidak terlampau padat. Di media sosial, sejumlah pengguna bahkan mengaku sengaja menghindari penggunaan kereta api sementara waktu. Rangkaian respon tersebut menunjukkan bahwa satu peristiwa bisa mengguncang sistem yang sebelumnya dianggap aman.

Sabar di Dunia yang Terus Berlari

Waktu dengan segala keajaibannya patut diwaspadai sebagai ranjau tersembunyi di padang dan lembah yang disangka aman. Dia adalah sesuatu yang bertapa, menunggu manusia dan semua variabel di dunia ini menyalakan tombol “on”, kemudian meledak.

Manusia tidak akan pernah tahu kapan mereka menginjaknya, atau memasuki radar jangkauannya, sebab manusia adalah makhluk yang buta. Mereka buta akan masa depan, juga buta akan rahasia yang diperam semesta. Satu-satunya yang membuat mereka istimewa adalah anugerah akal, anugerah untuk berpikir.

Sebagai makhluk yang dapat menimbang baik dan buruk, serta bisa belajar dari kisah-kisah masa lalu, sepatutnya manusia paham urgensi sabar. Sabar hakikatnya adalah tali kekang bagi waktu yang liar. Maka, apabila manusia ingin mengendalikan waktu, pertama-tama mereka harus memiliki kesabaran di dalam diri mereka.

Baca juga:

Sabar dengan segala ceritanya bisa kita cermati dari kutipan berikut: “To lose patience is to lose the battle”. Ungkapan Mahatma Gandhi itu seakan menyentil kita bahwa kehilangan kesabaran adalah sebuah kekalahan dalam pertempuran. Jauh sebelumnya, Rumi mengatakan dalam kutipan terkenal: “… Lovers are patient and know that the moon needs time to become full.” Artinya, setiap keindahan dan kesuksesan memiliki waktu untuk terwujud. Maka, kesabaran adalah jalan terbaiknya.

Walau kedua tokoh di atas hidup ketika dunia tidak bergerak sekencang sekarang, tapi bukankah esensi waktu itu tetap sama? Waktu dengan segenap misterinya adalah boneka kaca, indah dan mudah terluka. Maka, sabar tak lain adalah bantal sutra, atau vitrina kaca, yang menjaga waktu dari korosi. Kesabaran adalah kunci, dan waktu adalah hadiah yang menunggu untuk semua yang mampu menjalani. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Fathurrozi Nuril Furqon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email