Upah yang Licin dan yang Kecil dan Puisi Lainnya

Hidayatul Ulum

3 min read

Sunat

Suatu hari
Huru-hara negeri
Dewasa ini
Kau tarik sejenak ke ruang imajinasi

Ada anak kecil di dalam dirimu
Duduk menunggu, bersarung motif polos dan lugu
Sesekali kau cemas
Kadang mengerjap antusias

Di sebelahmu, barangkali teman sebaya
Meski tak tampak batang hidungnya
Sudah duduk, nama-nama mereka
: Dana, Angga, dan lain-lainnya

Seseorang kemudian memanggilmu
Seseorang berjubah putih
Ia bermasker dan bersarung tangan latex
Dan oh, waktumu telah tiba

Kau singkap hati-hati sarung keluguanmu
Membulatkan tekad keberanianmu
Lalu kau iseng melirik ke sebelah
Samping meja besi, kelambu tipis menghalangi

Dari celahnya, kau lihat kain sarung
Berhias motif angka-angka
Dan saat kelambu tersingkap lebih banyak
Kau kaget sekaligus terbelalak ngeri

Guntingnya besar sekali!
Sungguh besar sekali!

Kau tak tahu pasti siapa yang di sana
Namun, karena sering ikut Bapak menonton berita
Kau merasa suara jeritannya
Seperti … suara jeritan rakyat

Kau berkunang-kunang
Pening di kepalamu menjalar
Tapi sebelum terpejam
Dari balik kelambu itu matamu menyambar tulisan
: Penyunatan Dana dan Angga(ran)

Tiba-tiba
Kau pingsan
Tak sempat baca nama lengkap
Teman yang sedang disunat itu

Namanya berderet memanjang ke samping
Namanya menjulur panjang ke bawah
Ditulis sejajar dengan kata
Yang kalaupun kau baca
Tak kau mengerti maknanya
: Efisiensi

Kau tak sadarkan diri
Dan kalaupun tidak, kau sendiri tak meyakini
Apakah nama lengkap itu akan selesai kau baca
Meski kau di sana lima tahun lamanya

(K, 2025-2026)

Upah yang Licin dan yang Kecil

bukan hanya hati anak-anak
yang mesti kami sirami dengan
teduh senyum setiap pagi,
melainkan juga halaman berdebu
dan tanaman-tanaman dalam pot
yang mendamba diguyur kucuran segar
sebuah berita baik.

nyanyi-nyanyian dan tepuk tangan
adalah bel lisan bersuara nyaring,
memanggil langkah-langkah kecil
lekas berderet dan berbaris manis,
tangan-tangan cepat terentang
siap memulai rutinitas senam
sebagai upaya membugarkan badan.

kemudian …

kami dampingi anak-anak sebelum masuk kelas
untuk mengambil keputusan mereka sendiri,
memilih antara memberi pelukan, bersalaman,
atau tos kepalan tangan dengan sesama kawan;
ingatkan lepas sepatu dan menatanya di rak, lalu
cuci tangan dengan sabun, keringkan dengan serbet—
sebuah upaya terbentuknya kebiasaan baik.

di kelas sederhana dengan kipas angin menyala
kami ajari anak-anak berdoa beserta adabnya,
mengenalkan huruf-huruf latin hingga hijaiyah
serta cara membaca dan menulis di buku kotak,
merautkan pensil-pensil mereka, memandu menulis
dengan garis titik-titik yang tinggal mereka tebali
sembari berharap mereka lekas bisa menulis mandiri.

lalu pada jam sembilan …

waktu istirahat, kami membuka kantin sendiri
dengan jajanan yang lebih sehat bergizi,
sesekali mengawasi anak-anak berlari-lari,
kadang menemani mereka bermain perosotan
dan kamilah tenaga utama apabila mereka
ingin bermain jungkat-jungkit meski matahari
kian terik dan jam istirahat terus berdetik.

dan tentu saja kami bukan gurita …
masing-masing kami hanya berlengan dua.

satu waktu di kelas, bisa saja:
satu anak berdiri di atas meja
satu anak tidak mau membaca
satu anak sedang belajar membaca
satu anak menangis digoda temannya
satu anak butuh dipandu cara menulisnya
satu anak berlari keluar kelas entah untuk apa

satu ….
sst!

sekelebat pekerjaan membayang:
memberi tebak-tebakan hewan
sebelum anak-anak pulang
juga daun-daun jendela
yang mesti ditutup dan dikunci
serta meluruskan meja kursi
dan menyapu ruang—sendiri.

oh, rak sepatu
oh, keset kaki
oh, serbet tangan
harus kembali disimpan
dan tempat sampah dikosongkan.

seketika pula terbayang:
isi amplop tiap bulan
yang tetap kami terima
dengan senyum dan syukur rela,
“Uang sabun”—canda rekan kerja,
jauh dari gaji yang beranak-pinak
atau tunjangan puluhan juta
yang ditunjang-tunjangkan
hingga seorang wakil rakyat
alpa bahwa pilihan kata ‘jelata’
di belakang kata ‘rakyat’
adalah suatu ucapan jahat.

(K, 2025-2026)

Insecurity Pejalan Kaki

Secepat pemotong rumput,
lewah pikirku memangkas habis
tanya yang bahkan tak kusebut.

Bagaimana ceritanya,
kepadaku, kau akan jatuh cinta?

Aku hanya pejalan kaki,
mudah kagum pada jamur
yang tumbuh dari teletong sapi.

Aku hanya pejalan kaki,
bisa tersenyum karena yuyu
bergerak menyembul dari saluran irigasi.

Aku hanya pejalan kaki,
rasanya tak akan tega, bila
menyeretmu ke dalam perjalanan biasa ini.

(K, 16 Januari 2025)

Warisan Ingatan: Tugu ’45, Duranta Erecta, dan Lain-Lainnya

Ingatkah pada keran
di samping rumah Nenek
yang tetes-tetes jernihnya
sengaja kita gunakan
sebagai air mata (kepalsuan)?

Ingatkah pada tugu ‘45
di depan rumah Nenek
yang lekuk bentuknya
sering kita duduki bersama
sembari pura-pura berkendara?

Atau masih ingatkah
pada meja bundar dan kursi panjang
bukan kayu melainkan keras batu
yang seolah tumbuh dari
sehampar rumput jepang
di halaman rumah tetangganya?

Oh, apakah juga masih kau ingat
bulat-bulat kecil buah warna oranye
yang bergelantung menggerombol
yang tak habis-habis kita petik
tanpa kita tahu apa namanya,
dan belakangan baru kutahu
namanya duranta erecta?

Bila semua itu masih kau ingat
termasuk sore saat Nenek mencegat
kereta kelinci agar kita dibawanya
berkeliling desa hanya dengan
seribu-dua ribu dari saku baju lusuhnya;
simpan, lekat-lekatkan terus di ingatan—
sebagai warisan.

(K, 2025)

Kita Manusia, Bukan Laba-Laba

Di bawah atap, selayang pandang
Bergantung-gantung banyak sawang
Menjaring daun-daun tersesat
Usai diterbangkan angin sesaat

Hendak biarlah
Namun, mendesah keluh kesah
Sebab bila dibiarkan
Kita berpenyakit malas di mata orang-orang

Kita manusia, bukan laba-laba
Kita tak boleh berayun-ayun santai ria
Pada sawang yang bergantung-gantung
Dan menjaring daun-daun

Kita manusia, bukan laba-laba
Kita tidak membesarkan anak-anak kita
Pada sawang berselimut debu jelaga
Dari sulang yang terus merupa

Sekali lagi, kita manusia, bukan laba-laba
Wajar bila selalu cemas
Takut hidup tiba-tiba menjaring kita
Dengan ijuk nasib yang likat dan serba tanda tanya

(K, 2024-2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Hidayatul Ulum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email