Keep calm and stay cool!

Ijazah dan Janji Palsu

Pitrus Puspito

3 min read

Hujan turun perlahan pada hari wisuda Gilang Saputra, seolah langit sedang menimbang apakah peristiwa itu layak dirayakan dengan gegap gempita atau cukup dikenang dalam diam. Aula utama kampus dipenuhi aroma karpet tua yang lembab, parfum mahal para orang tua, dan keringat kebanggaan yang menguar dari ribuan mimpi. Spanduk besar bertuliskan ‘Mencetak Generasi Unggul untuk Masa Depan Bangsa’ membentang megah di atas panggung, huruf-hurufnya berkilau terkena cahaya lampu sorot.

Nama Gilang disebut pertama sebagai lulusan terbaik.

Ia bangkit dari kursinya dengan langkah mantap, meski dadanya berdebar lebih keras dari yang ia perkirakan. Toga hitamnya jatuh rapi, selempang kuning emas melintang di bahu, menandai predikat cumlaude fakultas. Tepuk tangan bergemuruh, kamera-kamera terangkat, dan senyum ibunya di barisan kursi undangan terlihat seperti cahaya kecil yang selalu menghangatkan segalanya.

Rektor menjabat tangannya erat.

“Negeri ini menunggu konstribusimu,” ucapnya lirih namun penuh wibawa.

Gilang mengangguk, menelan kalimat itu bulat-bulat. Ia percaya. Sepenuhnya.

***

Enam bulan berlalu, dan negeri itu seolah lupa pernah menunggu.

Kamar kos Gilang berukuran sempit, dindingnya berwarna krem pucat dengan cat yang mulai mengelupas seperti kulit tua. Jendela kecil menghadap gang sempit tempat jemuran pakaian bergantungan dan suara motor tua meraung hampir setiap menit. Di dinding depan meja belajarnya, ijazah itu tergantung dalam bingkai sederhana, kertasnya masih putih, tapi sudut-sudutnya mulai menguning, seolah waktu sengaja mempercepat pelapukan harapan.

Setiap pagi, Gilang menjalani ritual yang sama. Ia bangun sebelum matahari benar-benar muncul, merebus air dengan kompor gas kecil, menyeduh kopi sachet yang rasanya pahit, lalu membuka laptop yang kipasnya berbunyi seperti orang terengah-engah. Folder bertuliskan ‘Lamaran Kerja’ semakin hari semakin penuh, namun isinya seragam: surat pengantar yang disesuaikan, CV yang dipoles, dan sertifikat organisasi yang dulu sering membuatnya bangga.

Surel balasan datang silih berganti, hampir semuanya bernada sama.

Terima kasih atas ketertarikan Anda. Namun, kami belum dapat melanjutkan proses Anda.

Gilang membaca setiap kata dengan teliti, seoalah mencari celah makna yang terlewat. Tidak pernah ada penjelasan. Tidak pernah ada alasan.

Di layar laptopnya, ia melihat kembali daftar pengalamannya: ketua organisasi mahasiswa, koordinator aksi, perumus kajian kebijakan kampus, moderator diskusi publik. Semua itu terasa megah di masa lalu, namun kini hanya seperti catatan kaki yang tak lagi penting.

“Pengalaman kerja minimal dua tahun,” gumamnya membaca salah satu iklan lowongan. Ia tersenyum miring. “Dua tahun yang seperti apa? Apakah memimpin ribuan mahasiswa, berdebat dengan birokrasi kampus, dan menyusun tuntutan kebijakan tidak cukup disebut pengalaman?”

Telepon dari ibunya selalu datang sore hari, setelah azan Ashar. Suara perempuan itu lembut, penuh jeda.

“Kamu sudah makan, Nak?”

“Sudah, Bu.”

“Kerjanya bagaimana?”

“Lamaran Gilang masih diproses.”

Jawaban itu menjadi penenang, meski Gilang tahu proses itu tak jelas ujungnya. Dari balik suara ibunya, ia bisa membayangkan dapur rumah mereka di kampung, dinding kayu, tungku sederhana, dan ayahnya yang pura-pura sibuk agar tak perlu bertanya terlalu banyak.

Ayah Gilang jarang bicara. Jika menelepon, ia hanya bertanya singkat, lalu mengirim tautan lowongan kerja di grup WhatsApp RT. Kadang lowongan itu sudah tutup, kadang jelas membutuhkan ‘rekomendasi’.

Gilang membaca semua itu dalam diam.

***

Suatu hari, Gilang mendapat panggilan wawancara di sebuah gedung perkantoran tinggi, dinding kacanya memantulkan langit kota yang pucat. Ia mengenakan jas pinjaman yang sedikit kebesaran, sepatunya disemir hingga mengkilap meski solnya sudah aus.

Pewawancaranya itu membaca CV Gilang dengan ekspresi datar.

“Lulusan terbaik, aktif berorganisasi,” katanya. “Tapi kamu belum punya pengalaman di dunia industri.”

“Saya terbiasa bekerja dengan target, memimpin tim, dan …”

“Kami cari yang siap pakai,” potongnya halus, seolah menutup pintu tanpa suara.

Di luar gedung, Gilang duduk di bangku taman. Orang-orang berlalu lalang dengan kartu identitas tergantung di leher, langkah mereka cepat dan pasti. Gilang merasa seperti bayangan yang tak memiliki tempat menempel.

Hari-hari berikutnya berlalu semakin berat. Tabungan menipis, tagihan kos menumpuk, dan rasa percaya diri perlahan terkikis. Gilang bertemu Rama, teman lama yang dulu dikenal malas dan sering mengandalkan belas kasihan dosen.

“Sekarang aku kerja di kantor dinas,” kata Rama santai sambil menyeruput kopi mahal.

“Hebat,” jawab Gilang tulus.

“Ya… ada bantuan sedikit,” Rama terkekeh. “Yang penting masuk dulu.”

Gilang tertawa kecil, tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang runtuh.

***

Malam harinya menjadi waktu paling sunyi. Gilang membuka kembali arsip foto dan catatan masa kuliah. Ia melihat dirinya berdiri di atas mobil komando, berteriak lantang tentang keadilan, tentang hak anak muda, tentang negara yang seharusnya hadir dalam mengentaskan kemiskinan. Ia ingat bagaimana mereka percaya bahwa kata dan ide bisa mengubah segalanya.

Kini, suara itu seperti hilang ditelan tembok-tembok tinggi dan meja-meja rapat yang tertutup rapat.

Suatu pagi, undangan wawancara terakhir masuk ke surelnya. Posisinya jauh dari bidang keilmuannya, gajinya jauh di bawah standar, dan statusnya kontrak tanpa kepastian. Gilang menatap layar laptopnya lama sekali. Ada kelelahan dan rasa putus asa yang tak bisa lagi disembunyikan.

Ia datang juga.

Ruang tunggu dipenuhi wajah-wajah muda yang serupa dengannya, mata cekung, bahu menunduk sedikit, dan senyum tipis yang dipaksakan. Saat Namanya dipanggil, Gilang berdiri. Di pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri: seorang sarjana muda, berprestasi, namun berdiri di tepi jurang ketidakpastian.

Wawancara berlangsung singkat. Tidak ada pujian, tidak ada nuansa harapan yang tercipta. Hanya formalitas.

Keluar dari gedung itu, Gilang menatap langit yang mulai mendung. Awan menggantung rendah, seolah siap jatuh kapan saja. Ia menarik napas panjang.

Gilang sadar, ijazah itu bukan tiket masuk ke kehidupan yang dijanjikan, melainkan saksi bisu dari sebuah ironi, bahwa di negeri ini, kecemerlangan sering kalah oleh kedekatan relasi, dan idealisme kerap diangap ancaman pemberontakan.

Gilang melangkah pulang ke kosnya, menyusuri trotoar retak. Di dadanya, masih ada sisa keyakinan yang belum sepenunya padam, bahwa suatu hari, negeri ini akan mengapresiasi mereka yang memiliki prestasi dan daya juang yang tinggi.

*****

Pitrus Puspito
Pitrus Puspito Keep calm and stay cool!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email