Tunggu

salman aristo

8 min read

Aku tak tahu sejak kapan aku mulai menunggu. Mungkin sejak senja, mungkin sejak bulan lalu, atau barangkali sejak aku dilahirkan. Yang jelas, aku masih duduk di kursi plastik di beranda rumah ini, menatap jalan yang memanjang seperti karet yang ditarik-tarik, berharap sesuatu lewat dan berhenti.

Pada mulanya aku percaya aku sedang menunggu seseorang—istriku yang barangkali sedang menguji kesetiaan, anakku yang mungkin hendak menebus kesibukan, atau sahabat lama yang tiba-tiba teringat pada janji di masa muda. Tetapi kian lama aku duduk, kian terang bahwa aku bahkan tak tahu siapa yang sedang kutunggu. Yang kutahu hanya satu: aku harus menunggu. Jika tidak, seolah-olah seluruh dunia akan ambruk dan menyalahkanku.

Angin merayap dari gang, membawa bau tanah lembap, sabun cuci, dan sesuatu yang samar seperti penyesalan. Lampu jalan meneteskan cahaya, mengupas warna cat pagar menjadi kuning yang lebih pucat. Aku merapatkan kemeja, menekan kancing yang longgar agar tak copot. Setiap gerak kecil terasa penting, seakan justru itulah yang menahan diriku agar tak terlepas dari tempat ini. Kursi plastik bergemeletuk ketika kuubah posisi duduk—setia sekaligus mudah patah; gagah dengan cara yang murahan.

Seorang tetangga menuntun sepeda, melambat, memiringkan kepala.

Nunggu siapa, Pak?” tanyanya, sopan, namun rasa ingin tahunya tak ditutup rapat.

“Tunggu giliran,” jawabku.

Ia mengangguk; entah mengerti, entah memilih tak memperpanjang. Ia berlalu, dan aku mencurigai ia tertawa setelah melewati pagar. Sejak itu, jawabanku sendiri terdengar seperti sandiwara: menunggu giliran apa? Giliran untuk diingat? Untuk dipanggil kembali menjadi orang rumah? Untuk berhenti menjadi transparan di halaman sendiri?

Seorang bocah berlari kecil sambil mengacungkan plastik berisi roti. Ia berhenti, menatapku dengan mata yang belum kenal beban.

Om menunggu siapa?”

Aku mengangkat telapak tangan, seolah menyambut seseorang yang tak tampak.

“Menunggu aku sendiri.”

Bocah itu terkekeh.

Kalau sudah ketemu, Om kasih tahu, ya.”

Ia lari lagi, dan ucapannya menempel seperti label yang sulit dikelupas. Menunggu diri sendiri—lalu pertemuan macam apa yang kuharapkan? Apakah aku menunggu hari ketika namaku terasa pas lagi di mulutku? Atau menunggu saat ketika rumah ini, pagar ini, lampu ini, bersedia mengakuiku sebagai bagiannya yang tak bisa dibongkar?

Dari dalam rumah terdengar derit halus. Pintu bergerak sedikit, seperti orang hendak menyapa namun ragu. Aku menahan napas. Aku ingin seseorang—siapa pun—menyibakkan pintu, menyebut namaku, berkata nasi hampir matang, air hangat sudah disiapkan, sarung tersedia di kursi makan. Tapi pintu hanya menatapku sebentar, lalu menutup kembali. Gedebuk kecil di ambang membuatku yakin rumah ini bukan kosong; mungkin hanya sibuk. Atau barangkali rumah ini sedang menungguku memutuskan sesuatu yang tak sanggup kuputuskan: masuk atau tidak.

Aku berdiri, melangkah dua tapak ke pintu, lalu berhenti. Kubayangkan mengetuknya; kubayangkan daun pintu terbuka dan wajah yang kukenal bertanya datar, Bapak siapa?”

Bayangan itu membuat kakiku kaku. Aku mundur, kembali ke kursi, memeluk dingin yang pelan-pelan menyusup lewat pori-pori.

Malam menyusun dirinya dari kebiasaan: suara sendok dari dapur tetangga, siulan radio pos ronda, lolongan anjing sesekali, lalu senyap lebih lama. Lalu kejutan yang tampak biasa: pintu rumahku berderit, terdorong dari dalam. Aku bersiap melihat wajah yang lama kutunggu. Yang keluar: lelaki asing, umurnya sukar kutaksir, wajahnya bersih dari cerita yang kuketahui. Ia memandangku cukup lama untuk membuatku merasa salah tempat.

“Sudah lama saya nunggu Bapak,” katanya—seperti mengembalikan utang pada orang yang tak mengenalnya.

Kata-katanya seperti per: aku mengeras, lalu memantul ke diriku sendiri. Jadi selama ini aku bukan menunggu, melainkan ditunggu?

Bapak siapa?” ia menambahkan—sopan, namun mengguncang.

Aku ingin menyebut namaku, tapi bibir terasa pendek. Namaku sendiri terdengar asing di telinga. Kuperhatikan sepatunya yang bersih dari lumpur; dari mana ia datang? Apa urusannya di rumahku? Mengapa ia begitu yakin akulah yang semestinya dikenali?

Saya—” kataku, lalu patah. Aku mengangguk seperti orang yang mengiyakan sesuatu yang tak dimengerti. Aku mundur, memegang pagar agar tak jatuh, menyeberang jalan, lalu duduk di kursi plastik beranda tetangga. Kursinya sama, warnanya sama, namun jelas bukan punyaku. Aneh, tak ada yang mengusir. Seorang ibu dari dalam rumah malah menyodorkan segelas air.

“Bapak tunggu siapa?

Tunggu giliran.”

Jawabanku tak lagi lucu, juga tak meyakinkan. Ibu itu mengangguk, seperti telah lama berlatih menerima jawaban yang tak tuntas. Ia masuk kembali. Aku sendirian lagi. Menunggu lagi. Dan barangkali yang kumiliki untuk ditunggu sudah menguap bersama napasku.

Kota merayap masuk ke halaman. Sekelompok remaja lewat dengan motor yang knalpotnya membentak. Seorang menoleh, tertawa, berteriak, Pak, ojeknya sudah lewat!”

Aku mengangkat tangan, mengiyakan lelucon yang tak ingin kupahami. Asap menempel di wajah, membuat mata sedikit panas. Aku tertawa pelan untuk mencegah diriku marah pada sesuatu yang tak punya alamat.

Dari dalam rumah, suara itu muncul—kali ini jelas: Masuklah. Dingin di luar.”

Suara yang pernah tidur di bahuku, menenangkan, menyelesaikan pertengkaran hanya dengan menyebut namaku. Aku melangkah, menyentuh kenop pintu, merasakan dingin yang bukan dari logam melainkan dari takut. Bagaimana jika begitu kubuka, aku tak lagi diundang? Bagaimana jika rumah ini telah memutuskan melupakanku demi ketertiban yang baru? Aku menarik napas, melepas kenop. Kembali ke kursi. Malam itu, menunggu menang dari masuk.

Waktu merentang seperti benang dari gulungan yang tak habis-habis. Aku tak ingin tertidur—takut bangun di tempat yang tak kukenal, takut menunggu jadi pekerjaan yang tak lagi kubisa. Seorang lelaki melintas memanggul tas besar, wajahnya letih seperti lampu kehabisan daya. Ia berhenti.

“Bapak siapa?” tanyanya; bukan menyergah, hanya memastikan ia tak sedang mengigau.
“Saya yang menunggu,” kataku, jujur sampai pipiku hangat.

Ia tersenyum getir.

Kalau begitu kita sama.”

Ia berlalu, meninggalkan langkah yang tak tergesa. Kalimatnya menancap: dunia penuh orang yang menunggu tanpa tahu apa. Mungkin kita saling menunggu tanpa pernah bicara. Mungkin menunggu memakan umur.

Aku bangkit, membawa kursi, memindahkannya ke tepi jalan. Jalan lebih jujur: ia tak berpura-pura menjadi rumah, tak berjanji menjadi pelukan. Di situ, orang lewat sebagai diri mereka: buru-buru, letih, riang, waspada. Seorang satpam menghampiri, memandang kursi di pinggir jalan, memandang aku, lalu lagi ke jalan.

“Bapak menunggu apa?” suaranya rendah, seperti orang berkabung.

“Menunggu yang ditunggu,” kataku.

Ia mengangguk pelan. Kalau butuh bantuan, pos ronda ada kopi.”

Aku ingin bilang yang kubutuhkan bukan kopi, melainkan tanda. Namun aku mengangguk juga. Satpam itu pergi. Dan aku sadar betapa sabarnya dunia mengizinkanku melakukan sesuatu yang tampak tak produktif: hanya karena menunggu, aku diberi kursi, diberi air, diberi ajakan kopi. Barangkali orang mengerti menunggu, meski sia-sia, adalah cara sederhana untuk tidak menyerah. Atau barangkali mereka hanya ingin memastikan aku tak pindah ke depan rumah mereka.

Ketika jam membesar menjadi dini hari, aku memutuskan berjalan. Kursi plastik kuangkat seperti bendera yang tak berkibar. Aku menyusuri gang yang lebih sempit daripada keinginanku untuk diakui. Di ujung gang, sebuah rumah dengan jendela masih berlampu memandangku. Aku mengetuk. Perempuan tua muncul; matanya seperti lampu tua yang tetap menyala meski listrik sering turun.

“Cari siapa?

Cari yang menungguku.

Siapa?”

Ia merapatkan selendang.

Kalau begitu tak ada di sini. Di sini kami menunggu yang tak kembali—bukan yang ditunggu oleh yang menunggu.”

Aku mengangguk, meninggalkan rumah yang tak bersalah itu.

Jalan mengarah ke pos ronda. Radio masih hidup, memutar tembang yang meminjam kesedihan dari masa lain. Dua penjaga ronda menatapku dari balik meja. Yang satu menunjuk kursi.

“Bawa sendiri?

Takut habis,” jawabku.

Mereka tertawa kecil; yang satu menuangkan kopi ke gelas plastik.

Tunggu di sini sebentar. Pagi sebentar lagi. Kalau pagi datang, biasanya yang ditunggu mulai kelihatan—minimal bayangannya.”

Aku duduk, memindahkan kursiku ke samping bangku kayu mereka. Kami bertiga menatap jalan yang tak punya janji tetapi selalu memenuhi tugas: mengantarkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Kami menatap lampu yang berganti-ganti warna—mengizinkan, melarang, mempersilakan, mengingatkan. Kami menatap tikus berlari dari selokan ke selokan: lebih paham arah daripada kebanyakan manusia.

Ketika langit mulai memucat, aku pamit dari pos ronda. Aku mengangkat kursi lagi, berjalan ke arah lapangan kecil tempat pagi biasanya bertamasya sebelum disita tugas. Aku duduk di sana, memunggungi patok gawang, memandangi rumahku dari kejauhan. Dari jarak itu, rumah tampak masuk akal: atap menutup, dinding menegakkan batas, jendela menawar udara. Kucoba membayangkan orang yang tinggal di dalamnya, apa pun hubungan mereka denganku. Mungkin mereka tidur, mungkin gelisah, mungkin merapatkan selimut untuk menunda percakapan. Mungkin mereka juga menunggu—hanya dari arah yang berbeda.

Kepalaku berat. Aku berdiri, melangkah terlalu cepat untuk lututku. Kakiku tersandung pinggiran aspal yang retak. Aku jatuh. Kursi plastik menghantam tanah terlebih dahulu, patah di salah satu kakinya. Dua orang yang kebetulan lewat menghampiri, mengangkat siku dan bahuku, mendudukkanku kembali di atas kursi yang kini pincang.

“Bapak siapa?” tanya salah satu; nadanya bukan ingin tahu, tapi memastikan aku masih ingin diselamatkan.

“Penunggu,” jawabku. Kata itu keluar begitu mudah, seperti nama belakang yang akhirnya kutemukan. Mereka mengangguk, menepuk bahuku, lalu pergi melanjutkan pagi yang tak menungguku.

Aku memandangi kursi yang patah itu. Ternyata menunggu pun butuh alat. Tanpa kursi, apakah aku akan menunggu sambil berdiri? Jika berdiri terlalu lama, mungkinkah aku ambruk dan dikira pingsan karena lapar? Jika kukira pingsan, akankah ada yang menelepon ambulans? Bila ambulans datang, akankah aku diberi nama sementara agar bisa dicatat di buku? Pertanyaan-pertanyaan itu berbaris, lalu bubar, seperti murid-murid yang berkumpul untuk upacara yang tak jadi.

Aku menyeret kursi pulang. Pagar rumah menatapku, seperti menilai apakah aku layak masuk sebagai tamu atau dibiarkan sebagai bayangan. Aku berhenti di depan, ingin menguji lagi satu hal. Aku mengetuk pintu. Lama tak ada jawaban. Aku mengetuk lagi, lebih keras. Langkah-langkah dari dalam mendekat, berhenti, mundur, lalu mendekat lagi. Pintu terbuka sedikit. Udara dari dalam menyambar pipiku, mengingatkanku pada bau lemari yang disemprot kamper.

Wajah yang muncul bukan wajah asing, tapi bukan pula yang dekat. Wajah yang pernah kulihat di foto, di mimpi, di etalase toko kacamata. Ia memandangku.

Bapak siapa?” tanyanya pelan, seperti takut melukai.

Aku menunduk, menatap ujung sepatu, lalu mengangkat kepala.

Aku penunggu,” kataku—dan sejenak kuharap kalimat itu dapat membuka gembok yang tak terlihat. Namun wajah itu hanya mengangguk, semacam menemukan jawaban yang tak mengubah apa pun. Pintu menutup kembali. Bunyi kait terdengar. Di sela kayu dan udara, aku hampir mendengar suaraku sendiri disebut. Hampir.

Aku kembali duduk di kursi yang pincang, mengatur posisi agar tak jatuh. Pagi menetes dari tepi atap, membasahi satu-satunya kembang kertas yang bandel. Pengantar koran melempar gulungan ke teras; koran itu menggelinding seperti waktu yang malas. Kutarik, kubuka. Nama-nama yang baru saja pergi bertemu pagi lain ada di halaman belakang. Di sampingnya jadwal tahlilan lingkungan, daftar yang bertambah panjang tanpa henti. Halaman depan menampilkan seseorang meresmikan sesuatu—pita merah, senyum lebar, gunting yang lebih mahal dari gaji bulanan pembersih halaman. Kertas itu dingin di tanganku; huruf-huruf berbaris tertib seperti prajurit yang tak pernah dilatih tertawa.

Kulipat koran, kuletakkan di bangku. Seorang pemuda berhenti di depan pagar, memeriksa alamat di secarik kertas, lalu menatapku.

“Pak, maaf, rumah ini betul nomor sekian?” Ia menyebut angka yang selama ini kukira milikku.

“Betul,” kataku.

“Pak—bapak siapa? Ada paket atas nama—” Ia menyebut nama yang kukenal. Nama itu seperti gula yang tiba-tiba larut tanpa rasa.

“Taruh saja di kursi,” ujarku. Nanti diambil yang punya.”

Pemuda itu ragu, lalu meletakkannya. Ia pergi. Aku menatap paket itu, meraba selotip, mendengar isinya menggoyang. Aku tak berani membukanya—bukan takut dosa, melainkan takut menemukan bahwa yang mencariku baru saja datang, tapi tak menemukanku sebagai diriku. Kuseret paket ke ujung bangku, seperti memindahkan pertanyaan ke hari lain.

Siang tumbuh dari pinggir. Kelopak mata terasa berpasir, tapi aku belum tidur. Menunggu, rasanya, tak boleh ditinggal sebentar untuk belanja atau ke kamar kecil. Kursi pincang mulai menyakiti pinggul. Aku berdiri, menghela napas. Pikiran yang selama ini berkelahi mendadak tenang: barangkali aku harus menyusul yang kutunggu. Menunggu bukan selalu duduk. Menunggu bisa juga berjalan ke arah yang tak pasti, menghampiri alamat-alamat yang ditulis kabur.

Aku mengangkat kursi—kali ini kutopang dengan tangan kiri agar tak menyeret—menyusuri gang ke balai warga. Di sana, orang-orang duduk menunggu giliran mengurus keterangan. Nomor antrean melompat-lompat seperti belalang, tak peduli urutan masuk.

“Bapak siapa?” tanya petugas di loket tanpa mengangkat muka.

“Penunggu,” jawabku.

“Nama lengkap?”

Kusebut nama yang selama ini kugunakan. Ia mengetik, menatap layar, mengernyit. Tidak ada.” Telunjuknya kembali menari. Coba ejaan lain?”

“Tidak ada juga.”

NIK?

NIK saya hilang,” kataku. Kalimat itu terdengar konyol. NIK bukan kertas yang bisa tersapu angin. Tapi di balik loket, hidup dan tak hidup sering bertumpu pada angka yang tak dapat kupegang. Ia menghela napas.

Kalau begitu, urus surat kehilangan dulu. Loket sebelah.”

Aku pindah loket, menyebut kehilangan yang tak bisa disaksikan. Petugasnya memintaku menunggu. Ia menunjuk kursi. Kursi-kursi di balai itu sudah penuh. Aku mengeluarkan kursi plastikku, memasangnya, duduk. Orang-orang tersenyum—antara kagum dan geli. Bawa sendiri, Pak? Di sini kursi sering habis.”

Aku menunggu. Angka bergerak, suara dipanggil, orang berdiri, lalu duduk lagi. Ketika giliranku hampir tiba, listrik padam sebentar, komputer menyala ulang, sistem meminta masuk, petugas minta maaf, antrean diatur ulang. Saat akhirnya namaku dipanggil, petugas menatap berkas, lalu menatapku.

Bapak siapa?”

Aku tersenyum. Penunggu.”

Ia kembali ke layar. Baik. Besok datang lagi, ya.”
Besok: kata yang membuat menunggu jadi lelucon panjang.

Aku pulang. Perjalanan pulang terasa lebih pendek daripada berangkat—bukan karena jarak, melainkan karena aku tak lagi membawa apa pun kecuali harap untuk duduk. Pagar rumah tetap sama. Pintu tetap tertutup. Paket masih di bangku, dililit bayangan pot. Aku mengembuskan napas, menegakkan kursi, menyumpal kaki yang patah dengan potongan kayu agar seimbang. Aku duduk. Menatap jalan. Menunggu lagi.

Sore memeluk kota dengan tangan yang letih: suara orang memanggil anak, sendok bertemu piring, tawa yang tak membesar. Aku bersandar. Terlintas kembali lelaki asing yang keluar dari rumahku; perempuan tua yang menegakkan garis; satpam yang menawarkan kopi; petugas loket yang mencari namaku di layar yang tak bersahabat; anak kecil yang minta kabar bila aku bertemu diriku. Mereka seperti pecahan cermin yang tak pernah menjadi satu, namun memantulkan wajah yang kurang lebih sama: seseorang yang belum selesai diakui.

Ketika malam menggulung lagi, aku memutuskan sesuatu yang sederhana. Aku tak akan mengetuk pintu malam ini. Tak akan menyusuri gang ke rumah siapa pun. Tak akan ke balai menukar nama dengan surat. Aku akan tinggal di sini—menjaga kursi agar tak dicuri angin. Aku akan memberi kesempatan pada yang kutunggu untuk datang kalau memang berniat. Dan jika ia tak datang, aku akan tetap menunggu—bukan karena menunggu itu mulia, melainkan karena tanpa menunggu aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Angin mengibaskan ujung kemeja. Kuperapatkan kancing, memastikan yang longgar tak lepas. Di suatu tempat dalam rumah, kudengar sandal digeser: seseorang berdiri, duduk lagi, menimbang keputusan yang belum matang. Aku bersandar, memejam sejenak, membuka lagi karena takut hilang. Lampu jalan berpindah warna di kelopak mata. Suara kendaraan berkurang. Udara menggigit. Anehnya, aku merasa lebih ringan setelah memutuskan hal kecil: menunggu—dan mengakuinya tanpa malu.

Aku tak tahu kapan tepatnya pagi datang kembali. Saat kugeser kursi untuk menyesuaikan kaki yang pincang, langit sudah memutih di pinggir. Burung—yang semalam seolah lupa tugasnya—mengeluarkan suara ragu, lalu berani. Aku menatap pintu rumah. Aku tidak akan mengetuk. Aku menunduk, meraba permukaan kursi yang kasar, lalu mengangkat kepala, menatap jalan. Seseorang mungkin datang, seseorang mungkin pergi. Paket di bangku masih belum kupegang. Aku akan menunggu sampai seseorang menyebut namaku tanpa berhutang pada berkas.

Ponsel di saku bergetar sekali. Layar menyala: Nomor Tak Dikenal. Getarnya berhenti.
Dari dalam rumah, satu ketukan pelan menyusul—pendek sekali, seperti orang belajar mengetuk.

*****

Editor: Moch Aldy MA

salman aristo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email