Saya adalah seorang dalang cilik. Dalam hal penulisan, saya sejak kecil sudah memiliki minat baca dan sering ikut Bapak ketika diskusi bersama para pegiat (Taman Baca) Mahanani.

Tenggelam dalam Cerita Mata: Dalang Cilik Kediri Mereview Novel Seri Mata

Madjid Panjalu

3 min read

Buku empat serial Mata karya Bude Okky Madasari yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama menurut saya adalah buku yang cocok untuk anak. Sebab, keempat buku tersebut mudah dipahami, dan seru. Oleh karena itu saya akan berbagi isi buku tersebut secara singkat.

Mata di Tanah Melus merupakan buku pertama dari empat serial Mata. Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Matara yang berlibur ke sebuah daerah di Pulau Timor bagian barat (Timor Barat) bernama Belu. Saat sampai di Belu, Matara bersama ibu dan sopir mengendarai mobil untuk beranjak dari bandara ke hotel. Di tengah-tengah perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Matara menabrak sapi yang berkeliaran di jalanan. Setelah mengurus bersama pemilik sapi dan pak RT Matara melanjutkan perjalanan. Dan sesampai di hotel Matara beristirahat.

Saat istirahat, Matara bermimpi bertemu sapi-sapi yang marah kepadanya. Matara terbangun dan menceritakan mimpinya ke ibunya. Matara sebenarnya tidak hanya satu kali bermimpi ketemu sapi-sapi itu, tapi sudah berkali-kali. Akhirnya teman ibu Matara menyarankan untuk melakukan upacara adat untuk menghilangkan gangguan mimpi buruk tentang sapi-sapi itu. Ibu matara menyetujui saran temannya tersebut, lalu, Matara, ibu Matara, pemimpin upacara adat dan teman ibu Matara berangkat ke atas bukit.

Sesampai disana rombongan itu memulai upacara. Setelah mambaca mantra dan pemotongan dua ayam, pemimpin upacara berkata ke ibu Matara bahwa leluhur menjawab dengan jawaban “Pulang ke Jakarta”, ibu Matara tidak terima dengan jawaban itu. Akhirnya ibu Matara dan Matara berlari keluar dari tempat upacara. Saat berlari ibu Matara merasa capek akhirnya Matara dan ibunya beristirahat di sebuah gubuk.

Matara tertidur saat istirahat di gubuk. Ditengah tidur Matara bermimpi kembali bertemu sapi-sapi itu lagi. Lalu, Matara terbangun dan melihat ke sekeliling, Matara melihat ada padang rumput disana. Matara pun berlari kesana untuk bermain. Namun, tidak sengaja Matara bertemu dengan sekelompok sapi yang terlihat marah, mirip dengan yang ada di mimpi Matara.  Di padang rumput itu, Matara dikepung oleh enam orang, tiga orang di depan dan tiga di belakang. Tiba-taba Matara pingsan dan saat bangun Matara berada di ruangan dari batu yang ternyata itu adalah Kampung Melu.

Demikian cerita singkat buku serial pertama Mata. Bagaimana cerita lengkapnya? Silakan membaca bukunya.

Sekarang saya akan berbagi cerita isi buku serial ke dua yang berjudul Mata dan Rahasia Pulau Gapi. Buku Mata dan Rahasia Pulau Gapi (nama lain Pulau Ternate) bercerita tentang Matara yang harus pindah rumah karena ayah Matara juga pindah tempat kerja yaitu di satu pulau bernama Gapi. Sesampai di Pulau Gapi ayah Matara, Matara dan ibunya beranjak dari pelabuhan ke satu rumah yang sudah dibeli oleh ayahnya. Di rumah itu Matara lumayan puas karena jendela kamar Matara menghadap lagsung Pulau Maitara dan Pulau Tidore.

Matara sekolah di rumah bersama ibunya, dan saat sore Matara mengaji yang juga di rumahnya. Suatu hari karena Matara bosan sekolah, dia membolos sekolah. Saat pagi-pagi buta setelah subuh, Matara pergi ke dekat pelabuhan. Tiba-tiba ada seekor kucing yang dikejar nelayan karena mencuri ikan, kucing itu berlari kearah Matara dan duduk di pangkuan Matara.

Setelah nelayan itu pergi tiba-tiba kucing itu berbicara, Matara mengira dia mimpi ternyata tidak. Lalu kucing itu berbicara kalau dia bernama Molu. Ternyata, Molu sudah hidup sejak seratus tahun lalu. Molu bercerita saat dulu Pulau Gapi dijajah oleh bangsa Portugis dan Belanda, Molu ternyata dirawat oleh orang Portugis yang juga mengajari Molu untuk bicara. Molu juga bercerita jika majikannya itu bertugas untuk mengambil rempah-rempah dan Cengkih untuk dikirimkan ke Negara asalnya.

Kini, tiba saatnya saya menceritakan buku serial ketiga. Mau tahu bagaimana isi bukunya? Selamat menyimak!

Buku berjudul Mata dan Manusia Laut menceritakan tentang Matara yang bersama ibunya pergi ke satu pulau bernama Kaledupa. Ibu Matara penasaran tentang Manusia laut yang ia baca dari sebuah berita dari media Amerika. Sesampainya disana, Matara menginap di salah satu rumah milik warga. Keesokan harinya ibu Matara dan Matara pergi ke acara festival yang dilaksanakan setahun sekali di lapangan Kaledupa.

Di festival banyak sekali penjual jajanan dan mainan. Akhirnya Matara pergi jalan-jalan keliling membeli jajanan. Saat Matara ingin membeli es degan, ia bertemu dengan anak bernama Bambulo yang sebenarnya anak itulah Manusia lautnya. Lalu, Matara diajak Bambulo untuk pergi ke kampungnya bernama Kampung Sama.

Terakhir, saya akan menceritakan isi buku serial keempat yang berjudul Mata dan Menyala Api Purba. Buku Mata dan Menyala Api Purba menceritakan tentang Matara yang sudah dewasa. Kini, Matara jadi guru Biologi di sekolah bernama Semesta. Saat Matara mengajar, Matara bercerita semua yang di alaminya, mulai dari dibawa ke Kampung Melus, kucing bisa bicara, dan manusia bisa berenang di laut tanpa alat.

Binar, murid Bu Guru Matara tertarik dengan semua ceritanya. Binar mulai menciptakan hewan baru dengan cara mengambil cairan DNA dari beberapa hewan untuk disuntikkan ke tikus. Ciptaannya diberi nama Bibikus. Bibikus adalah kepanjangan dari Binar dan Tikus.

Tubuh Bibikus bisa membesar seperti ukuran tubuh gajah. Lalu, Bibikus itu ditaruh di semacam Hutan Kota. Kepala Sekolah Semesta bernama Dewa ingin menelitinya, tetapi agar bisa diteliti Bibikus itu harus disakiti dulu. Pada saat dewa ingin mengiris sedikit tubuh Bibikus, Bibikus berlari sambil melolong. Di belakang Bibikus ada Dewa dan rombongannya, sedangkan yang bersama Bibikus adalah Bu Guru Matara dan Binar. Tiba-tiba Bibikus itu terperosok jatuh kedalam lubang yang lumayan dalam. Bu Guru Matara dan Binar ikut masuk kedalam lubang. Ternyata, Bu Guru Matara dan Binar sedang berada di Masa Purba.

Demikian tulisan cerita saya tentang empat serial buku Mata. Menurut saya, buku empat serial Mata mulai dari buku Mata di Tanah Melus, Mata dan Rahasia di Pulau Gapi, serta Mata dan Manusia Laut, dan kemudian terakhir, Mata dan Menyala Api Purba,  adalah buku seri cerita anak yang sangat bagus. Sampai-sampai, saya merasakan masuk ke dalam cerita. Bagi saya, alur ceritanya detail sehingga saya bisa membayangkan keadaan di dalam cerita itu.

Madjid Panjalu
Madjid Panjalu Saya adalah seorang dalang cilik. Dalam hal penulisan, saya sejak kecil sudah memiliki minat baca dan sering ikut Bapak ketika diskusi bersama para pegiat (Taman Baca) Mahanani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email