Tembok dan Sejarah: Merenungi Distopia “Shingeki no Kyojin”

Muhammad Zahrudin Afnan

4 min read

Siapa musuh sebenarnya? Siapa yang kita lindungi dari siapa? Dan mengapa tembok-tembok itu dibangun?
— Pertanyaan dari balik dinding.

Attack on Titan, atau kalau mau gaya, kita sebut aja Shingeki no Kyojin adalah kisah tentang dunia yang hidup dalam ketakutan, dipagari tembok raksasa, dan dikelilingi makhluk pemangsa manusia yang disebut Titan. Di tengah dunia penuh horor itu, ada Eren Yeager, bocah dari distrik pinggiran bernama Shiganshina, yang hidupnya jungkir balik sejak tembok pertama, Wall Maria, dijebol oleh Titan Kolosal dan Titan Baja. Di hari itu, ibunya dimakan hidup-hidup oleh Titan bermuka senyum sementara dia cuma bisa lari. Trauma itu jadi bara dendam. Bersama Mikasa dan Armin, dua sahabat yang jadi keluarganya sendiri, Eren masuk militer dan bersumpah: habisi semua Titan. Tapi seperti kisah besar lainnya, musuh sebenarnya bukan cuma makhluk di luar tembok—tapi kebenaran-kebenaran pahit yang disembunyikan di dalamnya.

Begini, Shingeki no Kyojin itu bukan sekadar tontonan tentang manusia lawan monster raksasa, tapi semacam tamparan halus (atau mungkin keras?) yang bikin kita terdiam sejenak dan bertanya: “Jangan-jangan kita ini, manusia biasa yang katanya beradab, malah pelan-pelan jadi titan?” Bukan dalam arti literal tentu saja, tapi dalam cara kita membiarkan rasa takut, kemarahan, dan kebencian tumbuh liar, membentuk sistem yang menindas sambil kita pura-pura tak tahu. Di balik adegan serangan dan tembok yang runtuh, anime ini menyimpan pesan yang lebih gelap dan dekat: tentang bagaimana kekuasaan bisa membentuk musuh, dan bagaimana warga bisa dijinakkan hanya dengan narasi yang diulang-ulang.

Isayama, lewat dunia yang katanya fiktif itu, sebenarnya sedang memainkan “teknik geser-kaca”: kenyataan kita digeser sedikit, dikaburkan dengan simbol titan dan tembok, lalu diperbesar agar kita sadar  “Eh, ini bukan tentang dunia lain, ini tentang dunia kita.” Dinding-dinding itu bisa jadi perbatasan negara, sistem kelas, algoritma media sosial, atau bahkan tembok di kepala kita sendiri. Dan ketika genre distopia biasanya hanya jadi pelarian dari realitas, Shingeki no Kyojin malah jadi alat untuk menantang kita menatap balik dunia yang kita anggap biasa. Ia bikin kita risih. Bukan karena fiksi yang terlalu liar, tapi karena fiksinya terlalu dekat. Jadi, kalau kita merasa terganggu menontonnya, bisa jadi itu tandanya kita masih punya hati atau setidaknya, belum sepenuhnya jadi titan.

Baca juga:

Ketika Rakyat Tak Punya Masa Lalu

Bayangkan hidup di balik tiga lapis dinding raksasa, dari lahir sampai mati, dengan keyakinan bahwa di luar sana cuma ada kematian, kegelapan, dan titan-titan lapar. Laut? Cuma dongeng. Negeri lain? Mitologi. Begitulah manusia di dalam tembok Maria, Rose, dan Sheena hidup bukan dalam kenyataan, tapi dalam narasi yang sengaja direkayasa. Sejarah, yang seharusnya jadi milik semua orang, dalam Attack on Titan justru jadi properti eksklusif milik segelintir elit yang duduk nyaman di menara kekuasaan. Mereka pilih-pilih cerita mana yang boleh diingat, mana yang harus dibuang, dan mana yang dimanipulasi agar rakyat tetap jinak dan patuh.

Bayangkan kamu hidup di dunia di mana sejarah ditulis sepihak, ingatan kolektif dipreteli, dan apa yang kamu tahu tentang masa lalu ternyata cuma potongan narasi yang sengaja dipoles agar tampak rapi padahal aslinya penuh darah dan luka. Nah, itu yang digambarkan di Attack on Titan, dan jujur aja, rasanya nggak jauh dari dunia nyata. Karena distopia bukan selalu tentang kehancuran fisik kadang justru lebih ke kehancuran memori, ketika suatu bangsa memilih lupa, atau malah dipaksa lupa.

Kita bisa lihat contohnya di Indonesia sendiri. Coba deh lihat bagaimana sejarah 1965 diperlakukan. Bertahun-tahun, kita diajari versi tunggal lewat buku pelajaran dan film propaganda. Narasi tentang siapa yang jahat, siapa yang benar, sudah dipilihkan lengkap dengan soundtrack mencekam dan gambar mayat dilempar ke sumur. Tapi di balik itu, ada cerita-cerita lain yang dikubur: tentang warga biasa yang dihukum tanpa proses pengadilan, tentang kamp-kamp tahanan, dan trauma kolektif yang diwariskan turun-temurun. Dan ketika ada yang mencoba mengangkatnya lagi, malah sering dituduh “membela PKI” atau “membuka luka lama”. Padahal luka nggak pernah sembuh kalau terus ditutup rapat-rapat, kan?

Inilah yang sebenarnya bikin karya seperti Attack on Titan terasa ngena. Ia seolah bilang: sejarah bukan sekadar catatan, tapi fondasi identitas. Kalau fondasinya retak karena manipulasi, penyangkalan, atau penindasan naratif, maka masyarakat pun hidup di atas kebohongan. Dan siapa pun tahu, kebohongan yang disimpan terlalu lama bisa jadi bom waktu.

Siapa yang Menjadi Monster?

Jika Eren Yeager menjadi musuh di akhir cerita, maka Attack on Titan sebenarnya sedang menertawakan konsep pahlawan. Tidak ada yang benar-benar baik; tidak ada yang sepenuhnya jahat. Yang ada hanyalah sistem yang membuat manusia memilih kekerasan sebagai jalan keluar.

Dalam semesta Attack on Titan, bangsa Eldia yang tinggal di luar tembok hidup dalam stigma dan kutukan warisan: dianggap kotor, berbahaya, dan layak dimusnahkan. Mereka dipaksa pakai ban lengan, dibatasi ruang geraknya, dan terus-menerus dicuci otaknya agar membenci diri sendiri. Kalau kedengarannya familiar, ya memang begitu maksudnya.

Perlakuan Marley terhadap Eldia dalam Attack on Titan terasa begitu familiar bukan sekadar fiksi yang kelam, tapi gema dari sejarah yang pernah benar-benar terjadi. Penindasan sistematis, pelabelan, pengasingan, sampai pencucian otak generasi demi generasi semuanya dijalankan bukan dengan tembakan pertama, tapi dengan narasi yang dibentuk perlahan: bahwa Eldia berbahaya, bahwa mereka biang kehancuran, bahwa mereka harus dikendalikan atau dimusnahkan.

Ini bukan kebetulan naratif, tapi sindiran yang dirancang dengan sangat sadar. Karena dalam banyak kasus di dunia nyata, kekerasan massal, genosida, atau pembantaian etnis tidak pernah dimulai dari peluru. Ia tumbuh dari kata-kata: dari propaganda, dari ujaran kebencian yang diulang-ulang sampai terdengar masuk akal, dari cerita palsu yang disebar hingga menjadi “kebenaran umum.” Dan ketika masyarakat menelan narasi itu mentah-mentah, kekejaman jadi tampak sah, bahkan dianggap perlu.

Baca juga:

Propaganda menjadi senjata utama. Simbol, istilah-istilah degradasi, dan penggambaran Eldia sebagai ancaman biologis semuanya dibentuk untuk menciptakan musuh bersama. Begitu masyarakat percaya bahwa “yang lain” adalah ancaman eksistensial, kekerasan menjadi masuk akal, bahkan dianggap kewajiban moral. Dan di situlah letak horornya: genosida bisa lahir dari jurnalisme picik, dari pidato kampanye, dari buku pelajaran yang diam-diam menyelipkan racun ideologis.

Dalam dunia Marley, ujaran kebencian adalah kebijakan publik. Dan seperti dunia nyata, ketika ujaran dibiarkan tumbuh tanpa dilawan, ia akan menyulap manusia jadi monster bukan karena gigi dan kuku, tapi karena hilangnya hati.

Di Antara Dinding dan Kepercayaan

Yang membuat distopia di Attack on Titan terasa relevan adalah karena ia menghapus kepercayaan. Antara rakyat dan negara, antara sejarah dan kenyataan, antara pahlawan dan pengkhianat semua kabur.

Simbolisme dalam Attack on Titan bukan cuma urusan visual keren atau desain monster yang bikin merinding. Di balik semua itu, ada lapisan makna yang lebih dalam soal bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana masyarakat dibentuk, dan bagaimana ketakutan bisa dijadikan alat kendali massal. Tembok-tembok raksasa misalnya, bukan cuma penghalang fisik dari para Titan, tapi juga metafora tentang isolasi sosial, segregasi, dan kontrol atas informasi.

Bahkan lambang-lambang militer, warna seragam, hingga nama-nama distrik punya muatan politik yang bicara soal kelas, kasta, dan siapa yang dianggap “manusia seutuhnya”. Anime ini tidak sedang main-main. Ia merancang dunia yang kompleks untuk memotret dunia nyata, dengan segala lapis represi dan manipulasi yang diselubungi simbol-simbol yang, kalau kita cukup jeli, sebenarnya sangat familiar.

Dan hari ini, ketika negara-negara berlomba mengontrol narasi melalui media, algoritma, bahkan pendidikan  kita seharusnya bertanya: tembok macam apa yang sedang dibangun?

Bukan berarti kita harus hidup dalam paranoia. Tapi fiksi seperti Attack on Titan membuka ruang kontemplasi: bagaimana caranya agar negara tidak terjerumus menjadi distopia yang ia coba hindari?

Pertama, buka akses terhadap sejarah yang jujur. Negara bukan editor narasi. Trauma nasional  dari genosida, penghilangan paksa, hingga segregasi sosial  harus dicatat dan diakui. Sejarah yang direvisi demi estetika akan tumbuh menjadi dendam.

Kedua, fasilitasi pendidikan berpikir kritis. Bukan hanya tahu fakta, tapi memahami bagaimana narasi dibentuk. Literasi media, diskursus publik yang sehat, dan partisipasi warga dalam politik harus dijamin sebagai pilar kebebasan.

Ketiga, kebijakan berbasis empati. Dalam dunia Attack on Titan, para penguasa melihat warga sebagai angka  bukan sebagai manusia. Jika negara ingin menghindari jalan menuju distopia, ia harus merancang kebijakan dari bawah, dari suara minoritas, dari pinggiran.

Ketika Distopia Bukan Lagi Fiksi

Akhir dari Attack on Titan tidak menyisakan harapan besar. Bahkan setelah dinding runtuh dan titan tiada, konflik baru tetap muncul. Dan barangkali, di situlah pesan terbesarnya: bahwa kebebasan bukan hasil, tetapi proses. Bahwa sejarah bukan untuk dimenangkan, tetapi untuk dibicarakan.

Sebagaimana tembok-tembok dalam cerita Isayama, kita pun hidup di antara dinding-dinding literal maupun simbolik. Tapi berbeda dengan warga Eldia, kita masih punya pilihan: untuk berpikir, meragukan, dan bertindak. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Zahrudin Afnan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email