F32
langit selalu berwajah malam
kicau burung adalah gagak
menanti hidup terkoyak-koyak
saat matahari di bagian lain bumi
tak pernah ada di sini
di bawah kelingking kaki
setiap hari
tanganku menempel-isapi nyala
yang bekunya digerayangi belati
aku terlalu penakut untuk mati
terlalu rusak untuk hidup sehari lagi
telunjukku lelah mendebati bayangan
dan menangisi diri yang kesakitan
sedangkan tidur—kartu enam dewa
dari qiu-qiu untuk melupakan
bahwa kepalaku masih ada
di pagi yang lain
aku bangun lagi
kerja lagi
buru-buru sekali
karena kebiasaan
dan itu cukup menyakitkan.
(19 Juni, 2025)
–
Menyowani Kafka
ingin kusowani kafka
meminta dibuatkan cerita
seperti kutukan tragis gregor
yang sesiapa tak bisa menjelaskan
ingin kutiduri apartemen sempit itu
dengan mata setengah terbeliak
dan berlagak makmur di ruang kerja
hingga tak seorang pun perlu berpura simpati
bahwa aku akan menjadi serangga
atau benda asing apa saja
asal tak lagi manusia
yang rela melompat dari ketinggian
bunuh diri
untuk terbangun dari mimpi
jika kafka bersedia
ingin kutitip satu halaman
font italic nama tengahku
sebagai catatan kaki di cerita sesiapa
yang menjadi kronik di malam jumat
agar ada sesuatu bersamanya
selalu ada sesuatu, bersamanya.
(Juni, 2025)
–
Tarif Konsultasi
dokter bilang aku perlu bicara
setiap jam-jam konsultasi
berharga satu minggu makan
sedangkan aku belum sembuh
dari kemiskinan
kusebutkan gejala
tak bisa tidur & tak ingin bangun
mereka menyicil jawaban
dengan sekian ratus ribu per sesi
belum termasuk obat penenang
yang bisa meninabobokan
dompet orang kaya
aku ingin sembuh!
biaya berobat sudah membuatku
lebih sakit dari sebelumnya
barangkali aku hanya perlu diam
membiarkan dunia lewat
seperti suara ambulans
yang tak mengacuhkan
rumah-rumah kecil
seperti ini.
(Juni, 2025)
–
Ampuni Pengampunanku Tuhan
kuyakini neraka membenci dinginku
saat baranya lebih api dari diriku sendiri
namun saat surga membuka pintunya
bisakah kutemui plath dan memanggang
cherry pie di atas kepalanya
atau tiada tempat untukku istirahat
barang satu atau dua jam
dan menangisi kekalahan di sana?
akankah kita akan kembung
dan tak lagi berteriak insomnia
karena takut kehabisan amer
atau takut ditagih pinjol dadakan
yang datang tiap pukul tiga pagi
seolah the death angel tak punya tenggat?
saat aku ditolak keduanya
adakah tempatku pulang
untuk menyesali kekalahan ini?
ampuni pengampunanku tuhan
mauku mati menenangkan
mauku berakhir memenangkan.
(Mei, 2025)
–
Dalam Satu Atap
biarkan ibuku menangis
di balik tirai yang dulu ia pakai
untuk menyembunyikan lukaku dari para tamu
biar ayah menyebutku anak gagal
dengan mata bijaksana
sebab kecewa yang sudah mati rasa
lalu tok, tok, krak!
gagang pintu menyalak
oleh tangan yang ingin keluar
tapi tak tahu ke mana
ibu memikul air matanya
ribuan kata berlompatan di kepala
ayah merentang kedua lengan
seusai mematung panjang perpisahan
dagingmu adalah darah kami
& kami masih ingin kau pulang
memang sesekali rumah terlalu sempit
untuk menampung semua jenis
cinta dan kecewa
dalam satu atap.
(Juni, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
