Setelah seharian suntuk berkutat dengan banyak tekanan dan tuntutan pekerjaan, pulang kemudian istirahat dengan tenang adalah hasrat paling sederhana manusia. Namun, ada kalanya ketika hal paling sederhana pun dipaksa untuk mengalah demi menjaga harmoni. Sebuah tradisi yang menjerat setiap pelakunya ke dalam relung kompromi untuk memahami ego orang lain. Imaji akan seluruh rehat yang penuh damai sirna saat melihat seperangkat sound system bertumpuk hingga lima belas buah. Memutar musik sampai dini hari. Belum puas bahkan kemudian bobot suara bass-nya diputar mentok kanan, hingga luluh lantak genting-genting, kaca jendela, bahkan tembok meretak. Itulah yang dirasakan oleh seorang yang menjadi korban keberingasan dari suatu kreasi budaya populer bernama Sound Horeg.
Sound Horeg adalah sebuah ajang di mana para pelakunya mengekspresikan kesenangan melalui kebisingan. Pengeras suara dieksploitasi sepenuhnya, hingga mencemari udara. Ada dua jenis Sound Horeg: Menetap dan Karnaval. Jika tipe menetap hanya diam di satu tempat, maka tipe karnaval akan diarak menggunakan truk untuk berkeliling. Tipe karnaval, selain menyajikan gema pun perilaku semena-mena pelakunya. Fasilitas umum yang menghalangi bisa saja disingkirkan.
Sound Horeg sudah seperti api suci, yang tak boleh suatu apapun membuatnya padam. Termasuk keluh-kesah “korban” yang terdampak. Mungkin mereka anggap para korban adalah antitesis dari kreasi yang mereka ciptakan. Tanpa tahu merekalah yang sebenarnya sedang terjerambab pada kesesatan dalam memahami sebuah keindahan.
Baca juga:
“Keindahan ada dalam keselarasan dan proporsi,” pungkas Aristoteles dua puluh empat abad silam. Tak ada ide brilian pada lantunan Horeg. Kreasi tersebut tak lain dari sebuah produk budaya nonesensial yang lahir cacat dan mengembara tanpa arah. Hanya tahu menguar suara, mencemari udara menggunakan comotan lagu-lagu trending dari tiktok—dj viral—kemudian melenggok dengan tarian yang tak jauh lebih artistik ketimbang senam kesehatan jasmani. Keselarasan berbelok membentur sana-sini dan proporsinya tak karuan.
Dilansir dari Kompas.com, tingkat kebisingan yang ditimbulkan Horeg berpotensi mencapai 135 desibel (dB)—melampaui batas maksimal kebisingan yang dapat ditoleransi manusia di sekitar 85 desibel (dB). Dan untuk suara sekaliber 135 desibel (dB), telinga manusia hanya bisa memberi toleransi selama 1-2 menit saja. Selebihnya bisa merusak pendengaran.
Sangat patut bila terjadi penolakan dan keberatan hati perihal masalah Sound Horeg. Karena, Sound Horeg tak menyajikan sajian yang cukup nyaman untuk dinikmati, bahkan melodi tak beraturan dari pengeras suara seakan merangsek masuk siap merobek gendang telinga banyak orang. Kalau hanya sebagai ajang adu gengsi sound system siapa paling hebat, maka Sound Horeg yang sekarang adalah produk budaya miskin mutu yang tak layak menjadi sebuah tradisi.
Beberapa hari lalu, seperti tak cukup untuk menabur jelaga di daratan, pasukan Sound Horeg bergerak menuju laut. Melakukan debut guna mendistribusikan kearifan lokal dan karya mereka yang agung. Sudah seperti bajak laut saja, membawa bendera di atas kapal bermuatan orang dan pengeras suara yang banyak. Mereka berkonvoi sembari memutar lagu keras-keras dan bergoyang-goyang. Seandainya Nyi Roro Kidul benar adanya, mereka mungkin digulung ombak karena terlalu memekak telinga.
Implikasi dari tindakan para pelaku penyebar limbah suara di laut itu pun tak sembarangan. Bisa mengganggu ekologi dan membinasakan biota laut yang tinggal di dalamnya. Cetacea–Paus dan Lumba-lumba–menggunakan suara sebagai media komunikasi, navigasi, dan dalam upaya menghindari serangan pemangsa. Di tengah pekat lautan dalam, hanya suara yang dapat mereka jadikan pemandu. Membuat beberapa klik atau nyanyian untuk digaungkan dan menunggu gema raung itu kembali dari pantulan guna menuntun mereka untuk kawin, mencari makan, atau menghindari terumbu karang–ekolokasi.
Jika karnaval Bajak Laut Horeg terus berlanjut dan menjadi agenda rutin, timbullah keresahan para ahli terhadap fenomena tersebut. Bayangkan saja, para Cetacea akan dibuat repot bahkan stres karena ada bunyi asing yang mengganggu gelombang suara mereka. Cetacea dan sejenisnya dapat kehilangan arah, sumber makanan, dan cinta. Lekang bersama alunan asing yang merenggut segala hak penghuni laut.
Sebagai produk budaya populer dari masyarakat yang mendambakan hiburan murah-meriah, barang tentu Sound Horeg adalah sebuah inovasi yang menjawab hal tersebut. Sound Horeg, dengan gemerlap lampu dan penggemar fanatiknya juga menggeliatkan UMKM di sekitar tempat pertunjukkan berlangsung. Namun ada telinga dan fasilitas yang porak poranda di balik itu. Patutkah merayakan sukacita di atas penderitaan yang lain?
Baca juga:
Memang benar, keindahan adalah suatu hal yang lahir dari konsensus bersama kala mencari sebuah kesepakatan. Sound Horeg, bagi para pelakunya sah-sah saja dimaknai demikian. Dan di ceruk inilah, alangkah baiknya ada orang yang masuk untuk memberi edukasi dan pemahaman terkait dengan apa yang mereka lakukan. Apakah kesenangannya baik atau buruk? Jikalau buruk, apa solusi yang tepat untuk mengarahkan budaya yang masih baru ini menjadi bermutu dan tak mengganggu?
Tentu saja bukan secara buru-buru mengusulkan untuk penyematan HAKI, namun ada hal yang lebih esensial: Bagaimana agar Sound Horeg menjadi wadah baru yang dapat memberi hiburan yang layak dan bernilai jual. Menambahkan berbagai unsur kreativitas dan ide-ide segar guna menyajikan suatu budaya yang bermakna. Misalnya, mungkin menyusutkan suara bass-nya dan menggandeng sanggar budaya dalam upaya pelestarian dan pengembangan tembang gamelan. Menjadi sarana rekonstruksi senandung yang dianggap khalayak ramai sebagai suatu yang kuno menjadi musik yang lebih modern supaya selaras dengan kemajuan zaman.
Tentunya, penulis berharap Sound Horeg menjadi sebuah gelanggang pacu kreativitas masyarakat. Tempat lahirnya ide dan gagasan guna menjaga warisan serta melantunkan kearifan lokal yang amat kaya.
Namun kini, rasa-rasanya teramat jauh. Sound Horeg tak beda dari fenomena kesesatan dalam memahami keindahan. Demi kesenangan segelintir orang yang tak peka, Sound Horeg terlampau banyak mencederai perasaan dan kerap memberi luka menganga pada kedalaman telinga.
Indah dan menarik bukan hanya sekadar membuat bunyi paling keras dan berdebam. Peka terhadap lantunan lirih orang-orang pun adalah suatu bentuk estetika. (*)
Editor: Kukuh Basuki
